Menjawab Argumen Pro Pembagian Kondom

  • Bagikan
Argumen Pro Pembagian Kondom
Demo Mahasiswa sebagai penolakan Pembagian Kondom

Pro kontra kebijakan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan pembagian kondom menjadi ramai di media sosial, online dan cetak. Sepintas terasa, kalau pemerintah sudah sangat khawatir dengan HIV AIDS yang penyebab utamanya adalah sex bebas.

Masyarakat Indonesia dengan budaya timur yang khas, tentu banyak menilai kebijakan pembagian kondom ini sebagai kebijakan yang terselubung. Argumennya sederhana, kebijakan pembagian kondom menyiratkan upaya melegalkan sex bebas.

Namun tidak semua menolak, penggunaan anggaran Kemenkes puluhan Milyar dengan pembagian kondom menjadi relevan demi menyelamatkan bangsa ini dari penyakit menular HIV AIDS, kata mereka yang pro. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahok mengatakan, “kalau itu memang resiko ya mau gimana lagi.” maksudnya pembagian kondom menjadi salah satu solusi yang efektif saat ini. Beberapa bahkan menerima tentu dengan argumen serasional mungkin.

Di antara argumen yang dikemukakan lumayan bagus, namun butuh diskusi lebih untuk membahasnya.

1) Jika ada kebakaran, memadamkan api dulu atau mencari penyebabnya?

2) Apakah dengan perintah memakai sabuk pengaman juga bermakna silahkan ngebut-ngebutan di jalan? Demikian ringkasan argumen dari pendukung kebijakan pembagian kondom ini.

Artikel ini akan berusaha menjawab argumen pro pembagian kondom berupa pertanyaan dalam tulisan ini.

Pertama; HIV AIDS di Indonesia faktanya sudah menjadi boomerang dan masalah besar bangsa. Bahaya HIV AIDS diibaratkan kebakaran yang membutuhkan langkah cepat mengantisipasi agar tidak menghancurkan semua generasi seperti keganasan api meratakan deretan rumah. Untuk itu upaya pemadaman, pembagian kondom sebagai antisipasi keganasan HIV AIDS adalah prioritas utama daripada penyebabnya.

Ada beberapa kesalahan berpikir dari argument ini.

1) Jika terjadi kebakaran, lakukan langkah pemadaman dengan sesuatu yang anti dengan api. Jika menyiram kobaran api dengan bensin, bukanlah langkah pemadaman. Mencegah dan melawan HIV AIDS sebagai bak api, semsetinya bukan dengan melegalkan sex bebas dengan pembagian kondom, karena sex bebas adalah penyebabnya.

2) Jika ingin memadamkan kebakaran lakukanlah langkah yang tepat sasaran dan efektif. Tak perlu menyiram air di lingkungan yang tak terkena dan jauh, cukup melakukan antisipasi saja. Pembagian kondom sebagai langkah memadamkan api tapi dibagikan di kampus adalah langkah yang tidak tepat sasaran. Semestinya pembagian kondom diprioritaskan di lokalisasi dan tempat prostitusi (yang anehnya dilegalkan).

Kedua: Sebuah aturan tidak mesti menyiratkan perintah baru. Argumen ini dipakai oleh kalangan mereka yang pro pembagian kondom dengan mengatakan “Apakah dengan perintah memasang sabuk pengaman, berarti sekaligus perintah untuk ngebut-ngebutan?” Tidak… berarti, kebijakan pembagian kondom, bukanlah perintah melakukan sex bebas, dan tak menyiratkan hal itu.

Argumen ini sepintas sangat rasional, dan sulit terbantahkan. Mari kita menjawab argumen pro pembagian kondom kedua ini dan beberapa kesalahan berpikirnya.

Ilustrasi sabuk pengaman tidak tepat untuk disamakan dengan kebijakan pembagian kondom. Ada beberapa titik vital perbedaan penerapan hukum dan sanksi, serta kadar hukumnya. Pemakaian sabuk pengaman adalah satu produk hukum dan ngebut-ngebutan juga satu produk hukum, dan masing-masing memiliki sanksi tersendiri. Artinya, jika memasang sabuk pengaman tidak dilaksanakan, maka mendapat sanksi. Sanksi itulah menjadi keharusan dan sekaligus menjadi pencegahan dari perilaku ngebut. Berbeda dengan pembagian kondom.

Pembagian kondom, bukanlah perintah tapi kebijakan. Dilaksanakan atau tidak, tidak memiliki sanksi pasti kecuali kemungkinan berdasarkan prediksi. Artinya, hubungan antara pembagian kondom dan legalitas sex bebas, merupakan hubungan tak langsung.

Argumen Pro Pembagian Kondom
Demo Mahasiswa sebagai penolakan Pembagian Kondom

Keluarnya perintah memakai sabuk pengaman, bukan semata-mata karena penyebab ngebut-ngebutan. Berbeda dengan pembagian kondom akibat HIV AIDS yang penyebab utamanya adalah seks bebas. Oleh karena penyebab utama berbeda maka jelas, argumen ini salah secara logika dan tidak rasional.

Menyedihkan, jika kebijakan pembagian kondom yang terselubung ini kemudian berpotensi melegalkan perzinahan di Negara mayoritas muslim. Tuntutan atas kebijakan ini saya khawatirkan akan mudah terbantahkan.

“Silahkan menyampaikan pendapat yang penting damai. Negara ini Negara demokrasi.. bla bla…”

Marilah kita semua mendukung upaya penanggulangan HIV AIDS di Indonesia yang dilakukan oleh berbagai pihak selama cara yang digunakan sesuai dengan norma dan budaya bangsa indonesia, dan bukan dengan argumen karangan yang tidak rasional.

  • Bagikan