Menjawab Panggilan Tuhan

Seorang buruh bangunan sedang bekerja di bagian bawah gedung disaksikan majikannya dari atas tempat yang lumayan tinggi. Majikannya mencoba memanggilnya, karena sudah tiba waktu istirahat, tapi sayang, pekerja tidak mendengarkan. Sang majikan lalu merogoh kantongnya dan mengambil uang receh. Uang receh itu dilemparkan berharap mengenai pekerjanya. Namun sayang, uang itu hanya jatuh di bagian samping para pekerja. Walhasil, pekerja tidak menggubris. Sekali dua kali lemparan uang receh, pekerja tidak memperdulikan.

Majikan merasa jengkel. Segera dia mencari sesuatu yang lebih besar, bisa dilempar dan tepat mengenai kepala pekerjanya. Didapatilah sebuah batu sebesar kepalan tangan. Batu digenggam, tangan diayun, batu kemudian terlontar, dan bukkk, tepat mengenai kepala pekerja yang untungnya memakai pengaman kepala. Merasakan ada benda keras mengenai kepalanya, barulah pekerja itu menghentikan aktifitasnya, dan menengok ke atas.

***

Cerita sederhana tadi adalah contoh bagaimana kita hidup yang kadang lupa dengan yang di atas. Lupa atasan, lupa atasannya atasan, Tuhan yang Maha Kuasa. Kita sibuk bekerja, padahal Tuhan, sudah memanggil kita untuk beristirahat, melupakan sejenak kehidupan duniawai. Tuhan memanggil agar menyisakan sedikit waktu agar manusia sadar, sudah sekian kali dia dipanggil.

Tuhan lalu memberi sedikit rezeki dari rahmat Tuhan yang Maha luas. Nikmat hidup, harta, kebahagiaan, oksigen, dan masih banyak nikmat lainnya, yang tak mampu dihitung dengan alat hitung secanggih apapun. Persis sama dengan seikit harta majikan tadi. Apalah arti uang receh baginya. Betapa banyak rezeki Tuhan sudah “dilemparkan” kepada hambaNya, namun hamba tak menggubrisnya dan tak merasa panggilan Tuhan itu.

Terkadang, manusia selaku hamba akan sadar jika Tuhan memanggil dalam bentuk azab. Manusia akan berpaling ke atas, karena dipaksa, karena merasa sakit, karena Tuhan mulai “jengkel,” padahal sekali-kali tidak. Karena Tuhan, hanya memanggil manusia untuk tiga hal saja. Panggilan pertama adalah kebutuhan dan bentuk penghambaan manusia. Karena kebutuhan manusia, maka panggilan Tuhan ini acap kali kita dengar. Panggilan kedua adalah bukti kecintaan manusia kepada tuhannya, karena sebagai bukti, maka hanya orang tertentu yang bisa membuktikannya, karena Tuhan sudah tahu, siapa yang mencintaiNya. Dan panggilan ketiga karena kecintaan Tuhan kepada hambaNya.

Sudahkah kita menjawab panggilan Tuhan, yaitu panggilan Tuhan seperti yang sudah disebutkan?

Panggilan Tuhan pertama adalah Adzan. Setiap saat kita mendengar. Jadi please, kalau Anda Islam, jangan pernah merasa terganggu dengan panggilan tuhan ini. Anda pejabat, jangan pernah tersinggung dengan panggilan Tuhan ini. Maka bersyukurlah kita, yang masih bisa mendengar suara panggilan ini. Masih banyak saudara kita jarang mendengar panggilan ini.

Sebagai hamba, tatkala kita salat, sesungguhnya kita menjawab panggilan Tuhan. Seperti majikan dari kisah tadi. Tuhan tak langsung marah kala kita tidak menjawab panggilan itu. Melalui suara serak muazzin, panggilan itu dilakukan berulang. Kita terlambat, bahkan tidak salat sama sekali karena malas, apakah Tuhan akan memanggil dengan “cara” yang sedikit lebih keras, sehingga menimpa kepala kita? Hanya Dia yang tahu dan Dia Maha berkehendak.

Opini Terkait
1 daripada 302

Karena manusia lahir dengan salat, manusia lahir dengan tauhid, Allah tidak marah karena hambaNya tidak menjawab panggilannya. RahmatNya terus dilimpahkan. Dia memberikan kebahagiaan bagi umatNya, baik umat Nya itu menjawab panggilan Azan-Nya atau tidak.

Panggilan Tuhan yang kedua, yaitu Haji dan Umrah. Panggilan Tuhan ini akan lebih halus, hanya sekali setiap tahun. Karena panggilan ini hanya bagi orang tertentu dengan syarat tertentu. Panggilan Tuhan ini adalah bukti hamba mencintai Tuhannya.

(baca: nilai dalam ibadah haji)

Melalui even Haji dan Umrah, Allah memanggil hamba-hambaNya dengan panggilan yang halus dan sifatnya “bergiliran”. Setiap hamba akan mendapatkan kesempatan berbeda. Bahkan ada yang belum sempat, meski dengan niat luar biasa besar.

Saat jemaah haji tiba di tanah suci dan melantangkan suara “Labaik Allahuma Labaik”, sesungguhnya itu adalah jawaban, “ya Tuhan saya mendengra panggilan itu, karena aku mencintaiMu.”

(baca: cara mempelajari kematian)

Dan panggilan Tuhan yang ketiga, adalah kematian. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, seorang hamba akan memenuhi panggilan ini. Panggilan ini adalah bukti kalau Tuhan mencintai hambaNya. Tak ada kuasa menolak, tak ada waktu memberikan alasan untuk mangkir. Ada atau tidak ada persiapan, Tuhan memanggil hambaNya dengan panggilan ketiga.

Saat berada dihadapanNya, adakah sesuatu yang bisa menjadi pertanggungjawaban dari kita? Adakah amal shaleh, atau adakah kita bisa berkata, “Ya Tuhanku, inilah panggilanMu yang ketiga kalinya yang senantiasa aku hadiri, senantiasa aku jawab.” Ataukah kita hanya bisa berkata, “Saya menyesal tidak menjawab panggilanMu sebelumnya.”

Mari berlindung dari godaan syetan yang terkutuk, karena sesungguhnya apa yang membuat kita berpaling dari panggilan-panggilan Tuhan hanyalah karena godaan iblis, syetan cs. Semoga kita semua mendapat Kemurahan diampuni segala dosa, diangkat deraja, dikabulkan segala hajat, dan mendapat kekuatan menjawab panggilan Tuhan.

Komentar
Loading...