Menjawab Teka-teki Doa

Doa sebagai rutinitas orang bertuhan, memiliki teka-teki yang susah terjawab. Sederhana, jika takdir Tuhan mutlak adanya, lalu buat apa hambaNya berdoa?

Doa diterima atau tidak, terjawab yang mana, apa jawaban Tuhan, macam-macam. Semua itu karena terkadang kita berdoa untuk memenuhi syahwat keinginan kita. Tak heran, ada doa agar doa ter-ijabah.

Apa itu Doa?

“Doa adalah senjata bagi orang-orang beriman,” demikian penegasan Nabi saw beberapa abad yang lalu.

Doa secara harfiah berarti mengajak. Doa kepada Tuhan tersimpan harapan besar, harapan tercapainya keinginan setelah ikhtiar. Kebanyakan orang menjadikan doa sebagai sandaran tawakal setelah ikhtiar. Benar. Olehnya itu, akan aneh jika ada yang meralat doa.

Dua kisah unik sebagai pengantar pembanding dalam rangkaian menjawab teka-teki doa dalam artikel saya ini;

“Umurnya kisaran 60-an, rajin beribadah. Lima waktu berjamaah di masjid. Wanita tua ini tak henti-hentinya berdoa, agar anaknya yang hilang 20 tahun silam, ditemukan kembali. Namun doanya itu belum di-ijabah oleh pengabul Doa, sesuai apa yang diminta.

Lain lagi dengan pemuda sekampung saya, dia jenuh dan protes. “Saya merantau dengan sahabat saya, di perantauan bekerja dengan pekerjaan yang sama, pergi pagi pulang malam.

Tak ada yang beda, kecuali dia tidak pernah berdoa, dan jarang beribadah. Namun, dia sekarang sudah kaya raya hasil dari pekerjaannya, dan saya masih seperti yang dulu. Tuhan tak adil.” Ketusnya bersungut.

Rahasia Doa

Menjawab rahasia dalam teka-teki doa patut dipahami, Pertama: Manusia diciptakan bukan untuk hal tidak baik, karena Pencipta adalah Maha Baik. Tuhan sudah menyediakan sistem yang baik, manusia dengan predikat khalifah yang memilihnya.

Semua manusia mempunyai harapan dan itu banyak. Saking banyaknya harapan manusia, dorongan ragawi kemudian mengharap tanpa peduli kalau harapan itu sebenarnya tak layak baginya.

Ketahuilah, semua doa manusia akan terkabulkan, jika apa yang diminta dan yang meminta itu layak bagi yang meminta. Yang layak bagi manusia adalah kebutuhannya bukan keinginannya. Olehnya itu, sebelum meminta kekayaan, maka siapkan diri kita sehingga layak menjadi kaya, dst.

Kedua: Tuhan Maha segala Maha. Ke-maha-anNya adalah KemutlakanNya. KemutlakanNya adalah kelayakan Tuhan memerintah ciptaan apalagi hambaNya. Sepele, dan terkadang mudah, tanpa kita sadari. Tidak layak permintaan hamba “memerintah” Pencipta, kecuali kalimat perintah dalam doa itu adalah bagian dari perintahNya.

Contoh: ya Tuhanku, berilah aku uang 200.000 sebentar malam. Siapa Anda yang berani memerintah yang Maha segala Maha?

Berbeda dengan lafaz doa yang memang diajarkan olehNya dalam bentuk perintah. “Selamatkanlah aku dari api neraka.” Kata selamatkanlah adalah perintah, namun bagian dari perintah Tuhan untuk melafalkanya.

Itulah sebabnya, para Nabi dan Rasul sebelum meminta kepada Allah swt, mendahulukan puji-pujian kepadaNya.

Ketiga: jika bisa diumpamakan. Komunikasi via handphone antara A dan B. Handpone siap, kartu siap, pulsa siap, namun jaringan seluler terganggu, maka akan sia-sia.

Terkadang seorang hamba telah siap dengan ikhtiar, syarat syar’I doa terpenuhi, namun apa daya, hubungannya dengan Pengabul doa terganggu.

Dia hanya mendekat dan meminta ketika butuh, dia tidak ikhlas dst. Atau jaringan seluler lain mengganggu. Yah, dia memiliki ketidakharmonisan dengan Khalifah Tuhan yang lain.

Olehnya itu, sebelum berdoa, perbaikilah keikhlasan, kesabaran, dan hubungan dengan manusia lain agar, signal hp kita mampu menjangkauNya.

Memasuki waktu ashar, cukup sekian opini saya tentang teka-teki doa. Mudah-mudahan masalah tentang doa anda, jawabanNya ada pada 3 poin di atas.