Menulis Saat Beol, Kenapa Tidak !

Terhenyak mendengar kisah teman siang tadi yang konon ditolak karya ilmiahnya. Tim pemeriksa tidak menerima atau lebih tepatnya tidak percaya seorang guru bisa menulis penelitian setebal 80 halaman. “Bagaimana mungkin Anda bisa mengajar dengan baik. Pasti waktumu habis hanya untuk penelitian ini.” Kata pemeriksa itu menurut teman saya. Ada sedikit rasa heran, sudah pasti ini adalah salah satu wujud kesalahan berpikir; mengukur kemampuan seseorang dengan kemampuannya. Secara pribadi saya tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi sama saya, saya harus jawab apa?. Bukan ujub atau riya, kalau 80 halaman tulisan terlalu sedikit dengan durasi waktu setahun.

“Jika engkau bukan anak raja atau anak ulama, maka menulislah. Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Demikian syair Ali bin Ali Thalib yang memotivasi saya menulis hingga kini. Sudah menjadi tradisi sehari paling kurang 5 halaman tentang apa saja saya “ikat” dalam tulisan. Tulisan itu nangkring di blog saya, status facebook, dan kultweet. Tulisan baik enak dibaca memang bukan lagi tujuan, yang penting menulis, hanya itu dalam pikiran saya. Hasilnya, terlalu banyak kategori, tag, dan blog saya jadinya amburadul.

Sebagian kita memang mengalami kesulitan dalam menulis. Kesulitan itu paling dominan berasal dari pikiran yang menghantui diri kita sendiri. “Enak tidak dibaca?. Jangan-jangan, ini salah, yang baik begini, ah… ini salah.” Itulah pikiran-pikiran berpotensi membaut tulisan bakal tidak jadi. Terkadang juga disebabkan kurangnya inspirasi, waktu yang tidak tepat, pikiran yang berseliweran, dan akhirnya buyarlah rasa mood menulis itu.

Opini Terkait
1 daripada 28

Rasa mood dalam menulis memang dipengaruhi oleh suasana. Suasana menulis pastinya akan mempengaruhi alur tulisan. Oleh karena itu, diperlukan waktu yang tepat untuk menulis. Banyak yang suka menulis di malam hari, alasannya malam suasana hening, tenang dan memancing pikiran terbuka. Ada pula yang suka menulis saat akan istirahat. Tulisannya menjadi pengantar tidur, mungkin sebagai pengganti doa juga.

Beda individu tentu beda rasa. Saya suka menulis saat beol. Terdengar jorok, tapi itulah yang terjadi. Saat bersama teman-teman, mereka sudah terbiasa memberikan jatah penggunaaan kamar mandi/ toilet lebih lama kepada saya dibanding teman lain. banyak juga dari mereka heran, “kamau bertapa atau buang air kecil sih?.” Mungkin terlalu lama. Waktu adalah emas, saya suka menulis saat beol. Menggunakan gadget siap dengan aplikasi document dan wordpress, tak jarang tulisan “jorok” jadi saat beol.

Bagi yang tidak menggunakan kamar mandi selama saya, jangan tiru adegan ini. Menulis saat beol membutuhkan tenaga ekstra. Wah, tenaga ekstar ketika berjongkok atau lagi duduk. Menulis saat beol juga membutuhkan inspirasi unik. Kemampuan memilah suasana dengan kondisi tempat, adalah hal penting dan utama. Mendengar kata kamar mandi, dan beol tentu menggiring pemikiran jorok atau basah. Di sinilah kemampuan memilah skill itu diperlukan.

Bukanlah sebuah keajaiban, tapi faktanya banyak tulisanku lahir di kamar mandi. Tuhan banar-benar Maha Kuasa, memberikan waktu dan tempat, memberikan perasaan menerima suasana kepada siapa saja untuk dimanfaatkan. Bagi saya menulis saat beol adalah tempat terbatas namun menyatu dengan waktu dan perasaan. Lahirlah inspirasi, dan lahirlah tulisan “jorok”ku. Anda ingin mencoba?

Loading...