Menyelamatkan Remaja dari Bahaya Minuman Keras melalui Pola Nabi saw

Hampir semua penelitian mengungkapkan bahwa kebanyakan minuman keras dikonsumsi oleh remaja, karena masa remaja adalah masa pencarian jati diri. Salah satu faktor utamanya adalah laju informasi melalui kecanggihan teknologi.

Banyak tontonan kemudian menjadi figur remaja, apa yang dilakukan figurnya dengan mudah juga akan dilakukannya. Realitas remaja yang mengkonsumsi minuman keras salah satu dari sekian banyak perilaku berbahaya hasil dari figuritas tak tersaring dan mejadi perilaku remaja meski berawal dari ikut-ikutan.

Di beberapa daerah seperti kampung kelahiran saya, minuman keras ternyata bukan hanya dikonsumsi oleh mereka yang masih berusia remaja, tapi juga anak-anak.  Saya sempat bertanya langsung kepada mereka, berawal ketika yang bersangkutan senantiasa terlambat ke sekolah.

“Bagaimana saya tidak ikut minum minuman keras pak, di rumah, tetangga saya setiap malam melakukannya.” Sebuah jawaban dan fakta yang sangat memprihatinkan tentunya.

Dari kronologi pelarangan minuman keras masa Nabi saw tersebut, tersirat betapa minuman keras merupakan bahaya laten yang mutlak harus dimusnahkan. Tak ada satupun pelarangan dalam Islam dengan pola step by step seperti pelarangan minuman keras ini.

Menganjurkan seseorang atau kelompok menjauhi minuman keras butuh pola yang akurat, tepat, dan efisien sehingga apa yang kita khawatirkan dari bahaya minuman keras ini dapat dihindari. Rentetan pelarangan terhadap minuman keras masa Nabi saw, bisa dijadikan pola pelarangan yang sesuai dengan konteks kekinian masyarakat Indonesia.

Pertama: Langkah pelarangan minuman keras mesti kontinyu. Kontinuitas tersebut dibarengi dengan langkah antisipatif yang disesuaikan dengan konteks bahaya minuman keras. Sejak masih anak-anak, bahaya minuman keras sesegera mungkin disosialisasikan dalam lingkungan keluarga, dan tak berhenti ketika anak-anak tadi menginjak masa remaja.

Peran pemerintah terhadap masyarakat, peran kepala keluarga terhadap anggota keluarganya, peran pribadi terhadap dirinya sendiri, semestinya berdasarkan kebutuhan masing-masing, dan tentunya harus kontinyu.

Kedua: peraturan berjenjang tak bersyarat. Banyak peraturan, baik Undang-Undang peraturan pemerintah dan sejenisnya mesti direview ulang. Peraturan berjenjang tak bersyarat yang penulis maksudkan disesuaikan dengan keadaan sosial dari akibat bahaya minuman keras. Semua peraturan tentang bahaya minuman keras dan antisipasinya, masih memiliki syarat. Ini bisa dilihat dengan banyaknya kata “jika” pada tiap pasal.

Opini Terkait
1 daripada 304

Jika melihat pola pelarangan masa Nabi saw, awalnya penegasan minuman keras lebih banyak mudharatnya, kedua; jangan dilakukan ketika hendak salat, dan ketiga; haram dan tidak boleh, maka peraturan perundangan yang ada hanya sampai pada tahap kedua. Misalnya larangan mengkonsumsi minuman keras ketika hendak mengemudi dan lain-lain, dan belum sampai penegasan bahwa karena minuman keras lebih banyak mudharatnya, maka mengkonsumsinya adalah tidak pidana.

Sebagian kalangan remaja yang mengerti aturan pelarangan dan bahaya minuman keras, terkadang berspekulasi dengan peraturan yang ada. Pintu masuk spekulasi tersebut tentunya dari celah “bersyarat” dari peraturan yang ada.

Sebagai contoh salah satu bunyi Peraturan Daerah; “Dilarang menjual dan atau membeli minuman keras di sekitar sekolah, lembaga pendidikan lain, masjid dan tempat ibadah lain, dalam radius 10 km.” Peraturan ini pun diakali dengan membeli minuman keras berjarak, bahkan lintas kabupaten.

Ketiga: penerapan hukum yang tak pandang bulu. Jika melihat minuman keras dalam konteks kemasyarakatan, banyak daerah sudah menjadikan minuman keras seperti barang legal, para remaja umumnya tahu, namun tak ada efek jera. Fungsi penerapan hukum untuk menimbulkan efek jera menjadi penting. Penerapan hukum terhadap pengkonsumsi minuman keras ini tentunya juga berlandaskan asas kemanusiaan.

Hal yang bisa dikorelasikan dengan masalah ini pernah terjadi masa Nabi saw, “Dari Ali bin Abdullah bin Jafar, dari Anas bin Iyadh, dari Ibnu al-Had dari Muhammad bin Ibrahim, dari Abu Salamah dari Abu Hurairah mengatakan; “Seorang remaja sedang mabuk dihadapkan kepada Nabi saw, Nabi menyuruhnya untuk dicambuk. Diantara sahabat ada yang memukulnya dengan tangan, dan dengan pakaiannya.

Tatkala selesai, ada seorang sahabat mengatakan; “sekiranya Allah swt menghinakan dia. Sontak Nabi saw, bersabda: “Janganlah kalian menjadi penolong setan untuk menjerumuskan kawan kalian!.”

Sebagai kesimpulan, sejak masa lalu sejarah mencatat perlawanan terhadap minuman keras telah banyak dilakukan. Peran pemerintah kini, kinerja aparat, dan peran masyarakat patut diacungkan jempol, namun banyaknya korban membuat rasa kemanusiaan akibat bahaya minuman keras ini, mendesak kita wajib melakukan sesuatu.

Bahaya minuman keras diibaratkan dengan bahaya Ular berbisa, “Jinakkan ular itu mulai dari kepalanya.” Harus diakui, kalau minuman keras juga menghasilkan devisa bagi negara, maka “kepalanya” adalah konsumennya, dan konsumen terbesar minuman keras adalah dari remaja.

Keinginan banyak orang untuk membuat peraturan perundangan tentang larangan minuman keras, harus kita dukung dan awasi. Mendukung dengan berbagai cara; usulan pemikiran, petisi, atau hanya sekedar mendoakan, akan berakibat baik bagi kita, karena gerakan anti minuman keras, bukan hanya kebutuhan masyarakat golongan dan agama tertentu, tapi kebutuhan semua lapisan masyarakat.

Mari selamatkan masyarakat dari bahaya minuman keras sejak dari usia remaja.

Komentar
Loading...