Menyoal Disertasi Kontroversial Abdul Azis

Menyoal Disertasi Kontroversial Abdul Azis

0 905

Abdul Azis, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN), dengan karya besar disertasinya menghebohkan akademisi Islam, dan masyarakat Islam secara umum. Betapa tidak, disertasi yang diuji secara terbuka dalam sidang promosi doktor, dosen UIN Surakarta ini memaparkan hal baru, unik, dan kalau boleh dibilang ngaco tentang celah hubungan badan di luar nikah (non marital) yang dibolehkan.

Sebenarnya, disertasi itu berangkat dari reinterpretasi seorang pemikir Islam dengan latar pendidikan Teknik Sipil (Kulliyyat al-Handasah al-Madaniyyah), Muhammad Syahrur. Lalu, kenapa karya ilmiah disertasi itu sampai menggemparkan sehingga mampu menutupi kerusuhan Papua dan gonjang ganjing BPJS?

Jumhur Ulama sepakat bahwa kepemilikan budak atau diistilahkan Milk al-Yamin, sudah dihapuskan. Namun, Muhammad Syahrur dari berbagai tulisannya menilai bahwa interaksi biologis antara tuan dan budak yang diambil dari tiga surat; al-Ahzab: 50, al-Mu’minun: 5-6, dan an-Nur: 31 merupakan konsekuensi logis dari grand teorinya dan menurutnya hal yang tak perlu dihapus.

Menurutnya, penghapusan perbudakan tidak relevan dengan komitmen bahwa wahyu al-Quran akan senatiasa sesuai dengan perkembangan zaman. Dia (Muhammad Syahrur) melihat bahwa milk al-yamin itu pada dasarnya sama atau di dalamnya menyangkut dengan konsep zaujul misyar (nikah kontrak) yang kemudian diganti dengan istilah aqdul ihshan (komitmen hubungan badan).

Komitmen hubungan badan di luar nikah seperti itu memang diberlakukan dalam tradisi barat tempat di mana Muhammad Syahrur menyelesaikan program Magister dan Doktoralnya. Konsekuensinya adalah bahwa Islam dengan tegas melarang hubungan badan di luar pernikahan atau diistilahkan non marital. Hukum syariah ini berlaku di seluruh dunia Islam dengan argumen naqli yang jelas.

Itulah yang diangkat Abdul Azis dalam disertasinya yang berjudul “Konsep Milk al-Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non Marital.” Jadi, secara keilmuan bagi saya tak ada masalah. Yang jadi masalah, salah satunya jika kelak pandangan Muhammad Syahrur seperti apa yang dibahas dalam disertasi itu menjadi hukum atau argumentasi hukum.

Dalam konteks keilmuan, kita bisa saja menulis tentang siapa dan apa. Jangankan Muhammad Syahrur, pemikiran Iblis pun bisa ditulis dalam kerangka karya ilmiaah yang juga bisa diuji secara akademis. Namun demikian, ada beberapa hal yang menjadi catatan penting mengenai disertasi ini, setidaknya penilaian saya yang cupu dan ganteng hehehe

Menyoal Disertasi Kontroversial Abdul Azis
Abdul Azis

Pertama, semua karya ilmiah apalagi sekelas disertasi memiliki implikasi besar minimal pada wilayah argumentasi. Lebih jauh, terkadang sebuah karya ilmiah menjadi dasar sebuah kebijakan dan ketetapan hukum. Abdul Azis adalah mahaiswa S3 Islamic Studies, maka disertasinya yang sudah diuji dan dianggap layak dengan mudah akan menjadi bahan, minimal bahan argumentatif dari sisi kajian keislaman. Apalagi jika kelak argumen itu menjadi bahan reformasi fikih ala fikih jawa, bugis, nusantara, dll misalnya.

Anggapan Abdul Azis mengenai bolehnya berhubungan badan non marital mestinya tidak diangap sebagai teori baru, karena faktanya terori itu sudah lama, dan dikritik ribuan artikel dari akademisi muslim jauh sebelum disertasi Abdul Azis muncul.

Kedua, banyak pertanyaan muncul, “kenapa disertasi itu bisa lolos?” Saya melihat itu bukanlah sekedar masalah akademis layak tidaknya diloloskan. Jika melihat bahwa Abdul Azis menulis tentang siapa dan apa, menulis tentang Muhammad Syahrur dengan pemikirannya yang memang dikenal liberal, maka itu tak jadi masalah.

Namun, yang unik adalah arah penelitian ini yang menjurus pada ketetapan perubahan hukum islam yang sudah Qath’iy. Bahwa hubungan badan sesama dan atau lawan jenis non marital tidak boleh, haram, tidak pernah halal dan masuk kategori zina. Perlu dicermati pada tujuan penelitian. Tujuannya apa? Mari kita intip pada bagian abstrak.

Penelitian ini bertujuan menemukan teori baru yang dapat dijadikan sebagai justifikasi terhadap keabsahan hubungan seksual non marital. Penulis berasumsi bahwa konsep milk-al-yamin Muhammad Syahrur memainkan peran utama dalam mencapai tujuan ini.

Abdul Azis Alenia ke-2 abstrak disertasinya

Demikian pula dalam ringkasan disertasi alinea kedua bagian penutup kalimatnya seakan mencari pembenaran bahwa hubungan badan non marital alias luar nikah adalah boleh. Arah disertasi ini lebih pada ketetapan hukum dan bukan pengembangan ilmu pengetahuan. Artinya, dalam perjalanan pembuatan disertasi ini menurut saya, mesti menjadi sorotan penting oleh pihak promotor dan penguji.

Ketiga, dari sisi konten pembahasan. Ada hal yang mungkin dilupakan bahkan mungkin oleh Muhammad Syahrur (saya baru membaca beberapa karyanya saja). Bahwa fakta perbudakan sudah terjadi jauh sebelum datangnya Islam. Olehnya itu kehadiran Nabi saw sebagai rahmatan lil alamin menormalisir hal tersebut dengan menjadikan pembebasan budak sebagai ibadah yang mulia, termasuk sebagai penebus dosa tertentu, bahkan menjadi satu dari delapan saluran pemanfaatan dana zakat. Kedua, bahwa sumber perbudakan hanya pada peperangan. Itupun apabila musuh mengadopsi hal tersebut. Ketiga perempuan budak hasil rampasan perang yang boleh digauli hanya karena status budaknya, dan yang terpenting budak itu harus dinikahi terlebih dahulu. Jadi harus marital.

Kalau toh Muhammad Syahrur menolak perbudakan dihapus, apakah itu bermakna bahwa boleh berhubungan badan non marital? Bisa jadi, ide Muhammad Syahrur tidak demikian. Silahkan simak video berikut:

Keempat, konklusi hasil kajian tentang bagaimana Muhammad Syahrur yang memandang bolehnya atau halalnya hubungan badan non marital yang diambil dari argumentasi perbudakan, adalah hal keliru menurut saya.

Muhammad Syahrur tentang milk al-yamin adalah sumber primer dalam disertasi ini. Sebagai sumber primer maka arah pemikiran yang menjadi lajur akhir, mestinya sesuai latarbelakang dari sumber primer itu.

Muhammad Syahrur adalah seorang profesor Teknik Sipil Emeritus di Universitas Damaskus. Syahrur dilatih sebagai insinyur di Suriah, di daerah bekas Uni Soviet dan Irlandia. Doktornya pun demikan. Dia banyak menulis mengenai Islamic Studies setelah dia dipanggil ke Arab Saudi sebagi tenaga ahli di bidangnya.

Jika ada yang menulis mengenai saya dan website, apakah boleh? Boleh, tapi bukan sebagai sumber primer karena latar saya bukan hal itu. Sebaiknya, jangan periksa dan mengobati sakit gigi pada tukang batu, meski tukang batu itu mampu

Artinya apa, dalam perjalanan disertasi ini mestinya, arah konklusi disertasi bukan pada kajian keislaman karena yang diteliti pemikiran dari sosok Muhammad syahrur. Lah, Abdul Azis, mahasiswa jurusan itu…. Kalau demikian perlu dipertimbangkan oleh promtor sejak awal.

Ringkasan disertasi bisa di download di sini

Salah satu buku karya Muhammad Syahrur bisa di download di sini

Komentar
Loading...