Modifikasi Pasar di Tengah Pandemi Corona Covid 19

Modofikasi Pasar pandemi corona

Bupati saat ketemu gubernur. Poto istimewa

Kenapa masjid ditutup, pasar tidak? Kalau pertanyaan ini dilempar di depan bu ibu, sontak mereka ngamuk. Rasionalitas mereka saya pastikan tidak berfungsi. Mungkin tak semua, tapi coba saja!

“We kalian mau makan apa, kalau tak ada pasar. Tomat habis, bla bla bla.”

“Shalat bisa di rumah, kalau belanja? Sembako habis, kamu mau makan apa kalau pasar tutup. Dasar goblok, dungu, koro koroang.”

Baca: Jemaah dan Herd Immunity

Masih banyak jawaban menyakitkan lain, dan sebenarnya tidak nyambung. Tapi bukan bu ibu namanya kalau nggak sein kanan belok kiri. Kita maklumlah. Tapi yang aneh, kalau yang tak nyambung itu, laki-laki.

Antara masyarakat dan pasar sepertinya sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Tak ada pasar seakan dianggap kiamat, akan mati, tidak makan, dll. Pilih pasar buka atau corona menular? Mereka masih pilih pasar untuk sementara ini.

Padahal pertanyaan itu hanya ingin menggali sebab. Kalau masjid bisa ditutup, pasar bisa nggak ditutup? Kalau bisa bagaimana caranya, dan kalau tidak bisa apa efeknya. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa penularan covid 19 itu tidak pilih merek. Corona tidak melihat kamu jemaah masjid atau jemaah pasar, tidak!

Corona akan mudah menular pada saat interaksi, kontak fisik, kerumunan orang. Olehnya itu, semua yang seperti itu hindari. Apapun bentuknya, jemaah masjid, pasar, warkop, mall, mini bar, dll!

Modifikasi pasar sebagai alternatif

Ketergantungan masyarakat akan pasar, dari sisi ekonomi adalah hal yang bagus. Tapi tidak untuk kehidupan sosial secara menyeluruh. Takut corona? Takut pasar ditutup? Jika hanya dua pilihan itu, sepertinya masyarakat memilih pasar jangan ditutup.

Pemerintah harus berpikir keras mengatasi problem sosial ini, dan saya menawarkan modifikasi pasar. Modifikasi pasar adalah salah satu pilihan di tengah pandemi corona Covid 19. Pasar harus dimodifikasi sedemikian rupa agar penyebaran virus asal Wuhan tidak terjadi.

Inti dari pasar adalah adanya proses pertukaran, entah barang dengan barang atau barang dengan uang. Dari sinilah akan terjadi kontak fisik, interaksi berlebihan, kerumunan, dan segala hal yang memudahkan corona bisa menyerang dan menular.

Dengan demikian, proses pertukaran, entah barang dengan barang atau barang dengan uang dalam modifikasi pasar, sedapat mungkin tidak menimbulkan kerumunan, menghalangi kontak fisik dan interaksi berlebihan.

Baca: orang miskin dan virus Corona

Hal itu tentu sulit. Kesulitan pertama, karena itu baru dan tidak familiar. Kedua, karena situasi tidak normal. Dua hal inilah yang harus disadari warga sebagai akibat dari modifikasi pasar di tengah pandemi corona Covid 19.

Simpelnya, kita butuh pasar, tapi kita harus hindari kerumunan. Dan pasar harus dibentuk sedemikian rupa tanpa harus berkerumun. Tidak mudah, dan akan membuat tidak nyaman banyak orang.

Masyarakat tentu tidak ingin corona datang menjangkiti dengan penularannya yang menakutkan. Masyarakat juga harus bisa menerima solusi yang juga tidak normal, bahkan mungkin memberatkan. Ini semata mata untuk mencegah bahaya yang lebih besar.

Pertama, modifikasi pasar dalam bentuk semi online

Pasar semi online bisa diterapkan terutama pasar yang terletak di ibukota kabupaten atau di ibukota kecamatan. Karena, sebagian warga di ibukota sudah mengenal internet meski tidak semua.

Kenapa harus setengah online karena tidak semua masyarakat akrab dengan sistem belanja online. Ada banyak sistem online, dan tidak serta merta masyarakat memahami mekanismenya dengan cepat.

Salah satu bentuk sistemnya bisa memanfaatkan zoom meeting. Hanya penjual yang ada di pasar, itupun sedapat mungkin dibatasi.

Pada jam tertentu masyarakat mengakses zoom meeting video untuk melihat barang apa yang tersedia, harganya berapa, dst.

Proses tukat menukar dilakukan melalui delivery. Dengan cara ini, dipastikan tak ada kontak fisik, tak ada kerumunan, tak ada penyebaran.

Opini Terkait
1 daripada 303

Contoh; I wati ingin belanja, dia suruh anaknya membuka situs, link, atau point di mana barang bisa dilihat via HP. Anaknya lalu melihat kebutuhan sesuai permintaan ibunya, plus harganya. Pesanan dilakukan, dan akan diantarkan secara delivery.

Artinya, pemerintah harus membentuk pasukan delivery tiap desa kelurahan yang bisa menjangkau setiap titik warga yang berbelanja dengan cepat. Pasukan delivery mengambil pesanan pada penjual, tak ada kontak fisik, tak ada desak desakan. Lalu mengantarnya.

Pasukan delivery dipastikan steril, dan menghindari kontak fisik baik dengan penjual maupun pembeli.

Kelebihan sistem pasar semi online

  1. Memastikan peroses tukar menukar masih terjadi
  2. Tak ada kerumunan karena interaksi hanya oleh pasukan delivery dengan penjual dan pembeli
  3. Memberdayakan pemuda atau mereka yang butuh pekerjaan sebagai pasukan delivery

Kekurangan sistem pasar semi online

  1. Tidak semua warga paham kerja dalam jaringan
  2. Tidak semua warga punya perangkat yang bisa akses jaringan
  3. Mekanisme jual beli butuh waktu lebih lama
  4. Proses memilih barang dipastikan tidak menyeluruh karena hanya terlihat secara online.

Bagi penulis, di balik kekurangan dan kelebihan sistem modifikasi pasar semi online, itu lebih baik dibanding membiarkan pasar terbuka. Virus bisa masuk, dan terjadi kecemburuan dari sebagian jemaah masjid karen merasa diperlakukan tidak adil.

Kedua, membentuk pasar kotak

Pasar kotak adalah istilah yang intinya memecah pasar yang tadinya besar menjadi sangat kecil sehingga tak ada kerumunan.

Salah satu bentuknya adalah para penjual dipaksa menjajakan barang jualannya di depan rumah masing-masing. Dengan sendirinya mereka terurai, tidak bergabung dalam satu tempat.

Misalnya, Beddu, I Beddu, Beddummussu, dll, masing-masing menjual tomat. Mereka diharukan menjual tomat di rumah mereka sendiri bukan lagi di pasar.

Para warga pembeli tomat datang dan mereka terurai, karena bisa memilih belanja di Beddu, I Beddu, atau Beddummussu, dll. Artinya hanya pembeli tomat yang datang, itupun mereka terurai.

Ini juga berlaku terhadap penjual lain; beras, ikan, sayur. Mereka dipecah, dikotak kan, yang dengan sendirinya akan membentuk pasar kecil dan sangat kecil, sehingga interaksi dan kerumunan juga kecil dan jauh lebih terkendali.

Bagaimana warga pembeli bisa mengetahui bahwa Beddu, I Beddu, Beddummussu, dll, menjual tomat di rumahnya? Pemerintah bisa mengambil peran mensosialisasikan hal ini di setiap kelurahan, dusun, RT masing-masing.

Kelebihan modifikasi pasar kotak

  1. Proses pertukaran dipastikan berjalan dengan terkendali dan lebih aman
  2. Mengurai pembeli tidak berbelanja dalam satu titik sehingga mereka berkerumun
  3. Antara penjual dan pembeli mudah saling memantau dari sisi kesehatan mereka

Kekurangan modifikasi pasar kotak

  1. Pembeli hanya mendatangi penjual yang mudah mereka jangkau
  2. Pembeli yang jauh dan berada di pelosok tidak mendapatkan kesempatan berjualan yang sama
  3. Sulitnya menyalurkan/mendrop barang yang akan dijual. Barang dari kota misalnya.

Baca: Prediksi saya tentang virus corona

Dua bentuk modifikasi pasar di atas, jauh lebih efisien dibanding dengan menjadwal pasar, karena inti dari masalah kita adalah kerumunan, kontak fisik, sebagai antisipasi penyebaran virus corona.

Sekali lagi sebagai penekanan, modifikasi pasar tentu tidak memuaskan banyak pihak. Tapi itulah efek dari pandemi corona. Semua menjadi tidak normal, dan semua dituntut berkorban.

Semoga bermanfaat!

Komentar
Loading...