MTQ KORPRI atau MTQ Kementerian Agama ?

MTQ KORPRI

Tahun 2000 saat penyelenggaraan Musabawah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional di Palu Sulawesi Tengah, Presiden Abdurrahman Wahid mengkritik pelaksanaan MTQ Nasional dengan kritikan pedas, “MTQ Hapus saja, karena banyak penyelewengan di sana”. Murni kritikan, karena sampai sekarang MTQ dengan segala variannya masih tetap ada. Bahkan sejak tahun lalu, digagas MTQ KORPRI, MTQ yang seyogyanya diisi oleh aparatur sipil Negara dari manapun asal istansinya.

Penulis kerap mengatakan, tidak ada yang bisa memotivasi anak untuk mencintai al-Quran hari ini kecuali ajang lomba, MTQ dan sejenisnya. Meski dengan anggaran yang tidak sedikit, MTQ memiliki tujuan besar. Tujuan penting dari pelaksanaan MTQ adalah pembinaan dan pengembangan karakter dengan akhlak al-Quran. Jika akhlak al-Quran sudah meliputi segala lini, dimensi kehidupan, maka negara “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Gafur,” pasti akan terwujud.

MTQ KORPRI misalnya, lomba baca tulis al-Quran yang digagas atas hajat bersama Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Kementerian Agama, selain menjadi program pembinaan anggota KORPRI agar memiliki integritas tinggi, terutama bagi yang beragama Islam, pun menjadi sarana pembinaan mental anggota KORPRI yang notabene adalah Pegawai Negeri Sipil, agar bermental al-Quran (baca: potensi kecurangan STQ dan MTQ).

Niat baik pemerintah terkait aparat sipil Negara selama ini, pasti memiliki celah yang menjadikan kemerosotan moral baik sengaja maupun tidak disengaja. Buruknya sistem tatanan sosial yang beragam, membutuhkan nuansa spiritual baru yang bisa memberikan penyadaran bagi anggota KORPRI untuk mampu mengamalkan isi dari al-Quran tersebut. Lahirlah MTQ KORPRI, sebagai sebuah gagasan mulia jika dilaksanakan dengan benar.

Namun, malang tak bisa ditolak, entah ulah dan salah siapa, MTQ KORPRI kini hanya labeling, toh pelaksanaannya didominasi sepenuhnya oleh Kementrian Agama setempat (Semoga hanya di daerah penulis saja). Di daerah saya, KORPRI sepertinya tidak tahu dan tidak mau tahu akan hal ini. Belum lagi Kementerian Agama yang terbiasa “main tunjuk” menghapus aroma selektif sebuah lomba. Miris.

Saya masih ingat tahun lalu, 2013, mengikuti MTQ KORPRI pertama kali. Kala itu langsung ditunjuk oleh Kementrian Agama Kabupaten. Berangkat tanpa ijin kantor (setelah pulang baru dapat ijin), plus aneka pengorbanan official yang katanya tak ada dana. Alih-alih dapat penghargaan dari KORPRI Kabupaten maupun Provinsi, piagam penghargaaannya saja salah cetak dan saya terima 7 bulan kemudian.

Opini Terkait
1 daripada 304

Tahun ini, saya berpikir pasti akan ada perbaikan dari buruknya pelaksanaan sebuah lomba pertama kali. Pasti akan ada seleksi bertingkat, penghargaan, impelementasi pengamalan al-Quran melalui MTQ, dll. Namun, itu hanya pikiran saya. Mendengar akan ada even MTQ KORPRI lagi cuma dari teman saja yang kebetulan seorang pegawai di Kementrian Agama, dan tahu-tahu pelaksanaan MTQ KORPRI tingkat Nasional, sementara berlangsung.

Seandainya saja pelaksaan MTQ KORPRI tidak memenuhi syarat disebut “musabaqah” berkompetisi dengan balutan gemerlap acaranya, lalu bagaimana bisa MTQ KORPRI mendorong terwujudnya aparatur sipil Negara (ASN) yang mampu bekerja sesuai dengan tupoksi dan peran masing-masing dengan baik, sesuai dengan nilai-nilai al-Quran?

Kementrian Agama dinilai pas melaksanakan even besar keagamaan seperti MTQ dan segala bentuknya, namun Kementerian yang didera berbagai kasus korupsi ini, pun harus memerhatikan landasan utama sebuah even musabaqah. Dalam musabaqah ada kompetisi. MTQ KORPRI berarti terwujudnya kompetisi antara aparat Pegawai Negeri Sipil dari manapun istansinya, baik dari Kementerian Agama sendiri ataupun Kementerian lainya.

Sangat tak wajar, MTQ KORPRI nantinya kemudian dikatakan sukses, kalau kompetisi tidak ada dan hanya peserta perwakilan tiap kabupaten menuju ke Provinsi dan Nasional, hanya main tunjuk. Apatah lagi, kalau MTQ KORPRI akan dimanifestasikan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, baik sebagai ASN ataupun sebagai warga masyarakat di lingkungannya (baca: hadiah STQN Bangka Belitung mengkhawatirkan).

MTQ KORPRI
Penutupan MTQ KORPRI DKI Jakarta 2018. Sumber poto: tangerangonline.id

Khazanah MTQ KORPRI sangat luas, dan tidak bisa dilihat dari sisi pelaksanaanya saja. Contoh yang paling sederhana, saat abdi pemerintah melihat atasan melakukan kesalahan maka bagaimana seorang abdi pemerintah meluruskan kesalahan tersebut dengan “gaya” al-Quran, sehingga lahir kebijakan terbaik dan dirumuskan dengan tepat. Oleh karena itu dalam rangka menopang tugas yang sangat berat tersebut perlu adanya dukungan-dukungan, penguatan-penguatan, diantara salah satunya adalah MTQ KORPRI sebagai pengetahuan spiritual.

MTQ KORPRI tingkat Nasional kini sementara berlangsung dan diikuti oleh Korpri dari 34 provinsi di Tanah Air, ditambah delegasi Korpri pusat. MTQ KORPRI adalah momen penting berbasis al-Quran, oleh dan untuk Aparat Sipil Negara semua Kementerian. Namun sayang pelaksanaan MTQ yang salah satu tujuannya pengembangan akhlak berkarakter al-Quran, kini kesannya berubah menjadi “proyek” bertameng al-Quran.

 

Komentar
Loading...