Muktamar Lagi, Muktamar Lagi……

  • Bagikan

Bagi seorang alumni pondok pesantren, perasaan akan kegiatan keagamaan akan berbeda dengan kegiatan non-keagamaan, meski jika sedikit liberal, tak satupun yang tidak bisa dijadikan kegiatan keagamaan. Semua bisa.

***

Tahun ini, bagi warga, alumni, pengajar, sesepuh, simpatisan Pondok Pesanten As’adiyah, akan bermuktamar. Konon dalam Muktamar itu akan dibicarakan hal ihwal Pondok Pesanten As’adiyah beberapa tahun kemudian. Melanjutkan perjuangan pendiri Pondok Pesantren As’adiyah. Rencana pelaksanaan Muktamar ini sedianya pada bulan september yang akan datang.

Banyak geliat menyambut momen ini. Organisasi, tiba-tiba aktif. Namun, tak seperti dulu. Tak seperti ketika ANRE GURUTTA “diadu”, siapa yang berhak menjadi pimpinan Pondok Pesanten As’adiyah. Sekarang semua berpikir ulang. Logikanya sederhana, siapa yang memimpin, maka dialaha yang bertanggungjawab atas utang Pondok Pesanten As’adiyah, yang kian bertambah.

Sebagai orang yang pernah merasakan tendangan BERKAH di Pondok Pesanten As’adiyah, ada rasa was-was menyelimuti akan datangnya kegiatan ini.  Setidaknya untuk beberapa hal:

  1. Dari sisi tempat pelaksanaan. Kecamatan Belawa, memang mungkin terkenal, apalagi terakhir heboh dengan beredarnya film xxx guru vs murid di sana. Keterkenalan dari sisi agama, tidak diragukan lagi. Belawa adalah produsen Ulama besar, sebut saja, al-Mukarram AG KH. Yunus Martan, dll. Namun, dari sisi teknis?.  Sederhana, akomodasi peserta, ruang pertemuan, transportasi, dan banyak hal lain, yang pasti undangan untuk pak SBY, kemungkinan besar “diacuhkan”.
  2. Dari sisi Pelaksana atau orang-orangnya. Bukan curiga dan meragukan. Beberapa malam lalu, sempat bertemu dengan adik seorang Anre Gurutta yang kebetulan mendapat tugas berceramah di sekitar kecamatan Belawa. Dia bercerita, “proposal pelaksanaan Muktamar Pondok Pesanten As’adiyah tahun ini, membuat beberapa pejabat marah dan mengembalikan untuk direvisi. Pasalnya dana permintaan tak tanggung-tanggung, 1.5 Milyar..”. Woooowwww…. Padahal jika mau sedikit kritis, pelaksanaan Muktamar Pondok Pesanten As’adiyah yang direncanakan cuma 3 hari tidak akan memakan biaya mahal. Anggaran termahal, jika konsumsi ditanggung oleh panitia. Tapi itupun tak mencapai angka 700 juta. Apa yang terjadi dengan mereka wahai yang katanya ALUMNI, inikah yang dinamakan memanfaatkan situasi?…
  3. Waktu pelaksanaan yang berdekatan dengan dua hari besar lainnya. Besok 1 syawal, artinya sebelumnya adalah Ramadhan. Tak bisa dipungkiri, dari sisi material, orang akan habis-habisan pada bulan Ramadhan dan menyambut Ieul fitri. Dan, sebelumnya adalah hari kemerdekaan RI. Ada beberapa hal dari sisi semangat, akan terkikis. Ataukah semangat terhadap Pondok Pesanten As’adiyah berbeda?. Meski berbeda, pasti ada perubahan.

Tiga poin utama ini seakan melahirkan sikap apatis baru, kalau toh Muktamar Pondok Pesanten As’adiyah, hanya ajang ceremony, maka buat apa?. Apa yang ingin di-muktamar-kan kalau keputusan pelaksanaan ada pada pemilik modal?. Organisasi “sayap” sebesar apapun, tak akan mampu keculi cuap-cuap. Apalagi jika konon ALUMNINYA, masih sibuk dengan urusan menghidupi dan membela diri dari penindasan kehidupan hari ini.

Mungkin sikap apatis terakhir tinggal satu. DOA….

Paradigma manusia beragama, memiliki sandaran akhir kepada sang Khalik. Air mata terkadang menjadi perisai. Sok khusyuk, seakan menjadi tameng kalau doa mereka akan diijabah. Mungkin saja….

Pribadi penulis, kelemahan besar di tubuh KITA, adalah kebiasaan main setengah-setengah. “Pondok Pesanten As’adiyah, tidak berpartai”, katanya. Namun, alumninya, toh menjadi pengurus inti, dan membawa khazanah Pondok Pesanten As’adiyah dalam kampanyenya. “Ulama tidak mendatangi Umara”, katanya. Tapi, proposal, toh diantar langsung…

Ada usul, mungkin masih sebatas pemikiran, kalau Pondok Pesanten As’adiyah, dijadikan ormas saja. Usul, tetap usul…

TERGANTUNG PEMILIK MODAL HARI INI, MENGUNTUNGKAN ATAU TIDAK….

  • Bagikan