Mulut Bak Belut; Fakta Tentang Mulut

Mulut, adalah salah satu kata dalam bahasa Indonesia yang bukan berasal dari bahasa asing. Entah dari mana asal mula, sehingga “monyong” bisa nempel di kata yang satu ini. Dalam bahasa kedokteran, definisi mulut bermacam-macam, dan ribek;

“Mulut adalah pembukaan atas dari saluran pencernaan, mulai dari bibir, yang berisi gigi, gusi, dan lidah. Bahan makanan dipecah secara mekanis di mulut dengan mengunyah dan air liur ditambahkan sebagai pelumas. Air liur (saliva) mengandung amilase, enzim yang mencerna pati”. Bla bla bla… panjangkan…?

Dari sisi fisik, mulut telah menyedot perhatian wanita dengan urutan ke tiga setelah kulit, wajah (keseluruhan). Merawat mulut pun tidak pake mikir. Duit mengucur, membuat kere, hanya dalam rangka mendesain bagian-bagiannya.

Bayangkan untuk harga lipstik, salah satu kosmetik untuk bibir, yang hanya merupakan bagian mulut, harganya bisa mencapai US$ 62 ribu atau sekitar Rp. 587 juta per pcs. Woooow (gk pake gitu).

Namun sangat disayangkan artikulasi mulut non-fisik kurang diperhatikan. Teriak di sembarang tempat, berbicara semaunya, berbicara sambil mengejek de el el, bukan lagi hal yang tabu. Padahal betapa banyak kata bijak yang memperingatkan kita dengan ilustratif akan bahaya mulut.

“Mulutmu Harimaumu”

“Banyak bicara, banyak bohong”

Anjing diikat dengan tali, manusia diikat dengan kata-kata (mulut)-nya.

Bahkan masih banyak lagi.

Dalam kaca mata agama, mulut dengan ilustrasi berbicara terkadang menunjukan hal yang luar biasa. Dalam sejarah, Musa as sebagai Nabi dan manusia biasa, tidak dapat/ mampu melihat Nya (Tuhan) secara langsung. Namun, posisi Musa as sebagai manusia biasa itu, bisa berbicara dengan-Nya. Hal luar biasa itu, tidak ditunjukan oleh pilaku fisik lain, seperti tangan, atau kaki, tapi dengan mulut. Ada apa dengan mulut.

Sejenak merenung, ternyata ke-Diri-an Manusia sebagai makhluk yang memiliki unsur ketuhanan, dapat diwakilkan dengan eksistensi mulutnya sebagai fisik.

***

Seorang pemuda yang baru saja menikah berteriak di tengah kerumunan orang bijak, “Perempuan itu bagaikan sepatu, seorang laki-laki bisa menggantinya kapan ia mau bila mendapatkan ukuran yang pas”.

Mendengar pernyataan pengantin baru itu, semua memalingkan wajahnya, kaget. Seorang laki-laki yang terkenal bijaksana di antara mereka, lantas bertanya, “Apa pendapat anda tentang pernyataan ini”?. Tak ada yang menyahut. Kemudian laki-laki bijak itu berkata:

“Apa yang dikatakan orang itu benar sekali. Perempuan itu bagaikan sepatu dalam pandangan seorang laki-laki yang melihat dirinya sebagai kaki, dan dia bagaikan mahkota dalam pandangan laki-laki yang melihat dirinya sebagai seorang raja. Jangan kalian mencela orang yang bicara itu, tapi kenalilah ia bagaimana ia memandang dirinya”.

***

Kelihatan mudah untuk mencari solusi mengatasi bahaya mulut. Namun, sangat sulit melakukannya.Mulut terdiri dari lidah yang tak bertulang, gigi yang tak erdarah, liur yang membuat licin, bibir yang elastis. Mulut berbicara, berargumen, menyalahkan yang benar, membenarkan yang salah. Mulut bak belut. “Menangkapnya” dengan menaklukan kepala-nya”.

 

 

Berikan Komentar

Alamat email bersifat pribadi