Musik dalam Islam Halal atau Haram? Jangan Nge Gas Dong…

Hukum Musik dalam Islam

Apa hukum musik dalam Islam? Musik itu halal atau haram sih? Mari kita sama-sama melihat dari awal pemahaman kita tentang musik terlebih dahulu. Musik itu segala bunyi yang menghasilkan irama. Suara yang menghasilkan irama ada dua bentuk; irama yang terdengar tanpa alat, dan irama dengan menggunakan alat.

Auh ah ih uh auhhh… saya ucapkan dengan irama tertentu itu musik. Suara HP nang ning nong ning nong, itu juga musik. Anak muda pergi ronda ketok bambu dengan nada dan irama tertentu itu musik dengan alat. Anak muda memukul bedug dengan irama tertentu itu juga musik. Masih banyak contoh lain.

Apakah semua suara berirama dalam contoh di atas itu halal atau itu haram? Kita harus paham dan sepakat pada definisi musik seperti yang saya utarakan ini, supaya enak menjabarkan hukum musik dalam Islam. Jangan sampai Anda tidak menghukumi musik dalam hukum Islam, tapi menghukumi alat musik, menghukumi pemusik. Anda benci artis, atau anda benci gitar sebagai salah satu alat musik saja.

Dalam Islam untuk menetapkan suatu hukum halal atau haram, maka rujukan utamanya adalah dalil. Ada tidak dalil Qath’iy-nya. Bagaimana kalau dalil yang ditemukan ada dua atau tiga berbeda?

Artikel ini sebenarnya hanya ingin mengisi sedikit ruang perbedaan yang ada. Lebih tepatnya, sebenarnya saya ingin mengatakan, ini pendapat saya tentang musik dalam hukum Islam

Dalil hukum musik dalam Islam

Jika melihat dari ayat al-Quran, digambarkan dalam surah asy-Syu’araa (para penyair). Kebiasan dan keahlian masyarakat Jahiliah bahkan jauh sebelum Nabi saw diutus adalah bersyair. Mereka bukan sekedar mngucapkan syair, tapi juga mendendangkannya. Yang biasa belajar ilmu Arudhi akan melihat hal ini. Bahwa timbangan kalimat bahasa Arab yang akan dibuat syair memiliki irama tertentu.

Dalam surah asy-Syu’araa, Allah swt mencela penyair-penyair itu. Namun perlu diperhatikan, bahwa yang dicela perilaku mereka. Banyak penyair membuang waktu dan energi mereka hanya untuk membuat dendang syair berlebihan. Buktinya, banyak sahabat Nabi saw, yang juga penyair bertugas membalas syair yang megolok-olok Islam.

Ayat lain yang juda menjadi dalil yang berkaitan dengan musik, misalnya al-Quran surah al-Jumuah ayat 11. “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah)”.

Permainan yang dimaksud dalam ayat itu menggunakan kata al-Lahwu yang bisa bermakna lagu, nyanyian dan sejenisnya, yang tentu berkaitan dengan musik. Artinya Jika lagu, nyanyian, musik diharamkan maka sama halnya dengan jual beli (perdagangan) juga diharamkan, karena keduanya berada dala satu susunan lafazh dalam ayat.

Selanjutnya mari kita lihat rangkaian hadis yang berkaitan dengan musik dan nyanyian. Rata-rata hadis tersebut diriwayatkan oleh Aisyah, istri Nabi saw yang paling muda.

Pada saat di Mina, Abu Bakar ra datang menemui Aisyah. Di samping Aisyah ra, ada dua orang perempuan menyanyi dan memukul alat musik. Rasulullah saw sedang menutup wajahnya dengan baju. Abu Bakar ra kemudian mencegah kedua perempuan tersebut. Namun Rasulullah saw membuka wajahnya, dan bersabda, “Biarkan mereka, karena sekarang adalah hari raya.” (HR. Al-Bukhari).

Opini Terkait
1 daripada 89

Dalam riwayat Imam Bukhari bahwa Aisyah ra berkata, “Saya melihat Rasulullah saw menutupi wajah saya dengan selendangnya, sedang saya melihat orang-orang Habasyah bermain di (halaman) masjid sampai saya bosan. Dalam riwayat Imam Ahmad keterangan akan hadis ini disebutkan bahwa Umar bin Khaththab ra masuk ke kerumunan dan melarang mereka. Umar bahkan akan melempari mereka dengan batu. Namun, Rasulullah saw bersabda, “Biarkan mereka, Umar. Mereka adalah keluarga suku Arfidah. Biarkan orang-orang Yahudi dan Nasrani tahu bahwa agama kita lapang. Sungguh, aku diutus dengan agama yang lurus dan toleran.” (HR. Ahmad)

Suatu waktu Aisyah ra membawa pengantin wanita dari kalangan Anshar kerumah mempelai pria. Nabi pun bersabda kepada Aisyah ra, “Hai Aisyah, tidak adakah hiburan untuk mereka, karena sesungguhnya orang-orang Anshar itu senang dengan hiburan.” (HR. Bukhari)

Dalam kejadian yang sama pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad terdapat lafazh, “Bagaimana kalau orang-orang mengikuti sambil bernyanyi dengan syair “Kami datang kepadamu. Hormatilah kami dan kami pun menghormati kamu.Sebab kaum Anshar senang menyanyikan (lagu) tentang wanita.”

Dari semua hadis yang sudah disebutkan digambarkan bahwa Rasulullah saw membiarkan orang bernyanyi, bermain, dan memukul alat musik. Rasulullah saw bahkan melarang Abu Bakar dan Umar mengganggu orang-orang yang sedang bermain musik, menyanyi dan menari. Perlu digarisbawahi, tak satupun dalil tegas menyebutkan kalau musik itu dilarang. Bahkan dalam sejarah, sahabat Nabi saw seperti Umar, Utsman, Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Ubaidah bin al Jarrah, Abu Mas’ud al Anshari, Bilal, dan masih banyak lagi, membolehkan musik. Belum lagi kalangan tabi’in seperti Said bin al Musayyib, Salim bin Abdullah bin Umar, Ibnul Hasan, Kharijah bin Zaid, Syuraih al Qadhi, Said bin Jubair, dll, kesemuanya membolehkan musik

Namun ada satu riwayat dari Abu Amir, dia menyampaikan sabda Nabi saw,

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ والْمَعَازِفَ

“Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik…

Hadis inilah yang banyak digunakan oleh mereka yang mengharamkan musik. Padahal, para ulama berbeda pendapat dengan kata al-Ma’azif di atas. Ada yang mengatakan kalau yang dimaksud al-Ma’azif adalah alat musik. Artinya, alat musik itu haram. Namun ada juga yang berpendapat kalau al-Ma’azif itu adalah alat-alat yang menjadikan orang menjadi lalai.

Saya lebih sepakat dengan pendapat kedua, dengan pertimbangan bahwa dalam hukum Islam tak ada hukum yang dikenakan pada alat. Hukum berlaku pada amal atau perbuatan. Apa hukum narkoba? Tak ada. Tapi penggunaan narkoba bisa halal bisa haram. Penyalahgunaan narkoba tentu haram. Apa hukum jarum? Tak ada. Karena hukum dilekatkan pada amal. Digunakan untuk apa jarum itu. Suntik untuk menyembuhkan orang, atau digunakan menusuk untuk membunuh orang?

Hukum-musik-dalam-islam

Melihat argumentasi dalil tadi, kalau toh ingin berprinsip kehati-hatian, maka hukum musik dalam Islam adalah mubah, atau boleh. Hanya saja, perlu diperhatikan bahwa hukum dipengaruhi empat hal. Apa hukum asal perbuatan itu, siapa yang melakukan, dimana dilakukan, dan kapan waktu dilakukan?

Jika musik dihukumi halal atau boleh, maka perlu mempertimbangkan empat hal tadi. Musik qasidahan halal tentunya, siapa yang melakukan? Laki-laki dengan gerak suara meniru wanita? Lagu Shoalwatan, di mana dilakukan? Di depan orang yang lagi shalat berjamaah? Musik rebana lagu pujian kepada Nabi saw, kapan dilakukan? Subuh hari saat orang tidur? Ada kondisi, musik itu menjadi haram. Dan hampir semua larangan seperti itu.

Loading...