Nasehat; Bagaimana Kamu 10 Tahun yang Akan Datang?

Jerat lapar mengekang perutku pagi itu. Gontai kulangkahkan kaki menuju kantin paling ujung sekolah. Tawaran traktir kepada mereka para tunas bangsa yang kusayangi bakal membuatku sedikit mengaduk isi kantong. “Yeaaah, asyiiiik”. Teriak mereka setelah kukatakan, “silahkan makan sesukanya”.

Sambil membuka kulit telur setengah matang, mulutku tak berhenti mengoceh menasehati mereka. Aku tahu, mereka kadang bosan mendengarnya, hati mereka bahkan mungkin berbisik “bukan saatnya pak, kami makan dulu”.

“176 calon alumni sekolah kamu tahun ini, kalau di Indonesia ada ribuan sekolah, kira-kira berapa saingan kalian 10 tahun yang akan datang?. Ada ratusan ribu bahkan sampai jutaan. Mereka akan menjadi “pesaing” kalian mendapatkan sedikit ruang bertahan hidup. Kelak kalian mau menjadi apa?”

Entah mereka dengar atau tidak aku tidak peduli. Kalimat demi kalimat bekerjasama dengan telur memenuhi mulutku. Mereka tetap asyik melahap isi bungkusan beriklan “makan dulu sana, ada ….. spesial tuh”. Sesakali mereka melirik, saling menatap sesamanya. Tatapan yang tak kumengerti.

Opini Terkait
1 daripada 136

10 menit berlalu, tanpa berteriak “ayamkuuuuuuuuuu”, mereka duduk tenang, mengeluarkan henpon masing-masing, dan aku puas. Telah kubuat kenyang mereka…

“Coba sesekali pikirkan bagaimana sibuknya orang tua kalian, sebagai petani, guru, pedagang, menyediakan segala hal yang bisa membuat kalian duduk di kelas dengan tenang, dari SD, SMP, SMA, sampai mungkin kalian sarjana. Apakah kalian akan kembali 10 tahun yang akan datang tetap sebagai petani, guru, pedagang?, tidak!, ketahuilah, orang tuamu mengharapkan kalian kelak datang dengan keadaan lebih dari yang mereka kerjakan sekarang”

Susah sekarang pak, tetap tonji membayar orang”. Celetuk salah satu dari mereka, membuatku terhenyak. “Anak-anak sepolos ini sudah tahu kebobrokan seperti itu”. Kataku dalam hati. Lirih… 🙁

“Sayang, semua yang kamu kerjakan dengan niat baik hari ini, apa pun itu, akan dihargai oleh yang Maha Kuasa. Selama niat kalian dan apa yang kalian kerjakan baik. Kalian tidak perlu memikirkan apa itu?, lakukan saja. Ingat keywordnya BAIK. Jangan pernah berpikir akan gagal, karena dari 55 kegagalanmu, maka yang ke-56 adalah keberhasilanmu. Tahu tidak, si Edison telah 999 kali gagal ketika menguji penemuan listriknya. Andaik dia tidak mencoba untuk yang ke-1000 kalinya, kita tidak akan pernah berkata “PLN, kok mati lampu terus seh…”

Mereka terdiam. Hening.. “ke Tik pak yuk, saya mau buka blogku”. Kata mereka hampir bersamaan.

Loading...