Nasib Para Ustadz di Tengah Pusaran Pandemi Corona

Nasib Para Ustadz oleh Corona

Wabah pandemi corona Covid 19 memberi dampak semua lini. Tak peduli ekonomi, sosial, kemanan, pendidikan, agama, apalagi kesehatan. Semua saling terkait, berangkai, dan corona mencabik-cabik rangkaian itu

Pemerintah mati-matian menjaga lini terdampak. Ratusan triliun digelontorkan untuk menjaga stabilitas ekonomi kesehatan dan keamanan. Lahirlah PSBB dan ancang-ancang darurat sipil sebagai pilihan terakhir.

Hanya satu yang belum terlihat, yakni dari sektor agama atau sosial keagamaan, kecuali penutupan masjid, larangan ini dan itu. Padahal itu bisa dilakukan MUI, NU,  Muhammadiyah, dan ormas keagamaan lainnya.

Dari sektor keagamaan, ada celah besar yang mesti ditutupi yang tak kalah dengan perhatian terhadap ojek online (Ojol) dan pemudik. Mereka juga bagian masyarakat terdampak, siapa lagi kalau bukan para ustadz.

Ini penting! Jika terjadi rush, kekacauan karena masyarakat butuh makan di mana mana, maka salah satu kunci yang bisa menenangkan hal itu adalah bahasa agama, dan itu dilakoni para ustadz.

Penghasilan ustadz akibat pandemi corona

Perdebatan mengenai membayar ustadz boleh atau tidak, itu sudah selesai. Ustadz juga manusia, punya anak istri, dan hidup di dunia. Ustadz mengajar dan mendidik! Oleh karena guru layak dibayar mahal, maka ustadz juga demikian.

Antara Ustadz dan masyarakat keagamaan sudah terbangun simbiosis mutualisme. Hubungan saling membutuhkan. Masyarakat butuh pengetahuan agama, pendidikan agama, teladan agama, dan ustadz memberikan itu. Ustadz butuh hidup, dan masyarakat cukup menjaga hal itu dengan penghargaan semestinya.

Kebiasaan memberikan pelajaran agama, tausiah, teladan agama, ceramah, dll, dengan tatap muka berhadapan dengan jemaah, menjadi lahan empuk virus asal Wuhan memporakporandakan hal itu.

Mengantisipasi penularan dan penyebaran corona, kumpul-kumpul dan berkerumun akhirnya dilarang. Praktis, tak ada lagi bentuk jemaah, tak ada lagi ruang tatap muka yang ramai antara ustadz dan jemaah setidaknya untuk sementara. Aniwey eperibadi, tak ada lagi ceramah, dan akhirnya tak ada lagi alasan jemaah menghargai ustadz nya.

Akibat selanjutnya bisa terbaca, ribuan ustadz terancam secara ekonomi seperti jutaan masyarakat lain akibat dampak virus corona. Apalagi para ustadz yang menghabiskan waktu dan hidupnya untuk memberi tausiah sehingga tidak ada waktu untuk mencari sampingan lain.

Ditambah lagi dengan penyakit lama, saat penghargaan masyarakat yang bervariasi dan banyak yang tak seimbang. Artis dibayar mahal untuk sekedar hiburan dan rentan merusak akhlak, tapi ustadz dibayar murah untuk memperbaiki akhlak. Pertarungan tak seimbang!

Ustadz mana yang terdampak?

Panggilan ustadz bermetamorfosis dengan bentuk beragam. Mulai dari ustadz beneran sampai ustadz google. Masyarakat juga melahap itu dengan Buntu Kullu. Sorban, gamis, putih-putih, dilantiklah mereka menjadi ustadz, jadilah itu barang!

Saya tak mau membahas itu lebih jauh, yang jelas, klarifikasi ustadz yang terdampak dalam pusaran pandemi virus corona, tentu berdasarkan dari apa yang saya temukan

Imam masjid

Masjid ditutup, jemaah shalat lima waktu dilarang dulu. Jumat apalagi. Jemaah stay at home, ustadz sebagai komandan di masjid otomatis juga demikian.

Tak perlu surat PHK, tak perlu diberitahu, dengan sendirinya para imam tidak bekerja seperti tugas pokok dan fungsinya selama ini. Padahal keseharian mereka sebelum pandemi corona, lima waktu wajib dan belum hal lain. Waktu mereka habis untuk jemaah.

Baca: imam masjid di tengah pandemi corona

Ustadz sebagai guru ngaji

Sekolah ditutup jauh lebih awal dibanding penutupan tempat umum lainnya. Anak-anak harus dijaga. Kalau sekolah ditutup, pesantren ditutup, yang ada belajar online, apatah lagi guru ngaji.

Satu hal yang menguntungkan dari guru ngaji. Meski mereka juga tersiksa dalam pusaran pandemi corona, para guru ngaji terbiasa hidup sederhana, bayaran tak seberapa, bahkan ada yang tidak dibayar.

Baca: Guru ngaji itu seperti ini

Penderitaan apalagi yang mereka dustakan? Mereka sudah berdamai dengan derita dan hidup susah. Ibarat jatuh ketimpa tangga, pandemi corona menambah rentetan penderitaan guru ngaji.

Ustadz qari

Qari adalah pembaca al-Quran dengan bacaan benar plus suara yang indah yang dikombinasikan dengan langgam dan variasi lagu sehingga tercipta lantunan ayat suci yang syahdu.

Opini Terkait
1 daripada 302

Mereka dibutuhkan masyarakat untuk mengisi acara pesta pernikahan, acara naik rumah, hajatan lain yang membutuhkan pembacaan ayat suci al-Quran. Dari situlah mereka mendapatkan penghargaan dari empunya hajatan.

Pandemi corona mengubur semua itu! Tak ada lagi hajatan, pesta pernikahan ditunda dulu, otomatis tak ada lagi acara, tak ada lagi pembacaan ayat suci al-Quran.

Para hafizh al-Quran

Sudah menjadi tradisi, setiap memasuki bulan suci ramadhan, masyarakat akan meningkatkan kualitas ibadahnya lebih jauh dibanding selain bulan berkah itu. Salah satu bentuknya, dengan memanggil imam tarawih, bacaan bagus, hafizh al-Quran, untuk menambah khusyuk shalat para jemaah.

Jemaah lalu memberikan penghargaan kepada para hafizh seadanya. Umumnya, para jemaah melakukan itu dengan patungan. Imam tarwih yang baik akan memancing jumlah jemaah meningkat tentunya.

Baca: Membayar Imam untuk shalat tarawih

Anjuran MUI pusat dan daerah menyerukan agar shalat tarawih dilakukan di rumah saja, mengubur hak masyarakat mendengar suara merdu dengan memanggil imam tarwih seorang hafizh. Akhirnya, nasib para hafizh al-Quran harus menjadi perhatian saat ini.

Ustadz dai atau penceramah

Sebelum ada keputusan pemerintah, para dai sudah memutuskan tidak ada tabligh akbar setidaknya untuk sementara. Social distance menguatkan, kalau tak ada lagi kumpul-kumpul. Lalu bagaimana bisa ceramah?

Kebutuhan dahaga masyarakat akan pengetahuan agama yang tidak berbanding lurus dengan jumlah penceramah selama ini, berakibat banyak penceramah menghabiskan waktu untuk ceramah. Bukan tak ada sampingan lain, tapi waktu habis untuk ceramah!

Ironisnya, para penceramah akhirnya tenggelam dalam derita merana dalam pusaran pandemi corona. Keadaan sebelumnya, menuntut waktu mereka habis. Lalu sekarang bagaimana nasib mereka?

Solusi nasib ustadz di tengah pusaran pandemi corona

Pertama, masyarakat harus tergugah dan tidak membiarkan pengetahuan mereka akan ilmu agama terputus hanya karena wabah corona.

Masyarakat harus membiasakan diri dengan video convrence, berkumpul dalam jaringan, dll. Dengan begitu, ceramah, pengajian, dan semua hal yang bisa dilakukan dengan sarana itu tidak memutuskan simbiosis mutualisme antara masyarakat dan para ustadz.

Bisa juga seperti ini, berkumpul satu keluarga, panggil para ustadz! Puaskan dahaga kita akan agama, dan berikan penghargaan pada mereka. Sedikit tak apa!

Kedua, para ustadz harus segera mengintropeksi diri hari ini dan untuk hari esok. Pandemi corona memberi pelajaran setidaknya dua hal;

Para ustadz harus punya senjata cadangan untuk mengantisipasi apabila senjata utama sudah tidak bisa digunakan lagi. Jika ceramah adalah senjata utama. Para ustadz butuh skill lain, untuk menutupi senjata utama itu saat tidak bisa digunakan.

Para ustadz juga harus segera mencari celah mengatasi pusaran pandemi corona saat ini. Para ustadz bisa membuka layanan belajar ngaji online, ceramah online, asal jangan imam online.

Ketiga, pemerintah pun setidaknya melirik kondisi para ustadz ini. Dalam lingkungan sosial, para ustadz sangat memberi pengaruh menyadarkan terutama jika ada hal yang tidak diinginkan.

Pemerintah sebaiknya memberi stimulus!

Baca: orang miskin dan virus corona

Keempat, bagi yang bisa bernafas lebih lega sampai hari ini, diharapkan membantu para ustadz yang sudah tumbang secara ekonomi akibat pandemi covid 19. Mulailah dari lingkungan sekitar.

Saya salut dengan seorang teman di Papua sana, yang menggelontorkan ratusan juta dana pribadinya untuk kelangsungan hidup para imam di daerahnya selama satu bulan.

Salut juga buat para ustadz semisal jajaran dai dan qari di Wajo, mereka patungan, tidak banyak, tapi memberi kekuatan baru dan pesan kepada yang lain, bahwa mereka masih kuat dan punya rasa.

Lalu saya sumbang apa? Saya sumbang tulisan ini saja!

Semoga bermanfaat!

Komentar
Loading...