Nene Pakande, Hoax atau Fiksi?

0 23

Tahun 80-an silam, riang gembira suka ria nawa cita tutur tinular, kalau sehabis makan malam diajak bapak ke rumah nenek noton tv. Tv masih jarang dan jarak yang lumayan jauh kala itu, sehingga yang jarang semakin berkesan dan akhirnya ketagihan. Habis makan malam, bersaudara merajuk merayu menggombal ma bote, agar diajak pergi nonton. Hanya satu yang membuat aksi merayu itu terhenti jika, ibu berkata, “ssst, jangan suka keluar malam, ada Nene Pakande.”

Kami terdiam, karena tahu kisah nene pakande. Nenek berkonde yang suka makan daging manusia. Nenek yang pernah mencuri bayi dan dua anak kecil karena tak mengikuti saran ibunya. Meski nenek itu akhirnya kalah oleh pemuda bernama La Beddu, namun bayang-bayang nenek bungkuk berkonde dengan rambut putih berhasil mengaktifkan imajinasi kami dalam ketakutan.

Imajinasi itu mempengaruhi sehingga setiap saya ketemu nenek, pikiran akan tereduksi kalau nenek itu adalah Nene Pakande. Itu berlangsung lama. Namun, sedikit demi sedikit sirna seiring bertemu banyak nenek yang baik dan berbeda dengan imajinasi yang muncul akibat kisah Nene Pakande.

Kisah Nene Pakande diklaim banyak daerah. Di Soppeng, dikisahkan kalau Nene Pakande benar ada dan terjadi di daerah sana. Di Bone, Sengkang, Bulukumba, dan daerah lain, sama. Sepertinya terjadi kesepakatan otomatis dari orang tua, kalau kisah imajinatif Nene Pakande itu ampuh membuat takut anak.

Apakah kisah Nene Pakande berdasarkan kejadian nyata? Tak ada bukti otentik akan hal itu. Penulis melihat, penelitian mengenai Nene Pakande hanya berkisar pada bahasa khusunya sastra, dan pesan-pesan moril (menakutkan-penulis) yang dikomparasikan dengan pendidikan anak.

Bukti lain yang menunjukan kalau kisah Nene Pakande tidak berdasarkan kejadian sebenarnya, adalah penyebutan selain nama tokoh Nene Pakande yang berbeda. Misal, nama tokoh raksasa versi Soppeng dan Bone berbeda. Demikian pula alur cerita keganasan Nene Pakande juga demikian. Kemasannya berbeda tiap daerah.

Karya fiksi Titan oleh Morgan Robertson 1898 adalah kisah menakutkan yang hampir satu abad sempat membuat banyak orang enggan naik kapal laut. Lalu kemudian kisah itu dianggap fiksi bahkan hoax. Siapa sangka, saat orang mulai mengabaikan dalam Titan, apa yang ditulis dalam karya fiksi itu terjadi saat tenggelamnya kapal Titanic dengan rentetan kejadian yang hampir sama.

Anak-anak sekarang sudah tidak takut lagi dengan cerita Nene Pakande. Bahkan dia akan tembak dengan senjata modern combat game android. Pun kisah itu kalah dengan nenek di Granny Horor. Mereka malah dengan berani mengatakan, “Malin Kundang sudah dimaafkan ibunya.”

Mungkinkah kisah fiksi dan hoax nene pakande akan jadi kenyataan? Semoga tidak!

Komentar
Loading...