Ngeyelisasi dalam Menghadapi Virus Corona

Ngeyel menghadapi Corona

Ngeyel adalah istilah yang biasanya digunakan dalam debat. Seorang yang tidak mau mengalah meski kalah, disebut ngeyel.

Terkadang juga ngeyel diperuntukan kepada sesorang yang seakan akan menerima tapi sebenarnya tidak. Misalnya, disepakati bahwa demi mengantisipasi Corona, semua orang dilarang keluar. Dia seakan menerima keputusan itu, tapi tetap keluar rumah, tetap jalan-jalan, dst.

Proses ngeyel, akumulasi dari sebab terjadinya ngeyel itulah saya definisikan dalam satu kata, “Ngeyelisasi”. Jangan cari di kamus apapun kata ini! Sebelum kamu tersesat ke jalan yang benar!

Ada banyak bentuk ngeyel dan ngeyelisasi yang terjadi di masa-masa mewabahnya virus keren asal Wuhan, China ini. Mari kita lihat:

Ngeyel karena tidak terbiasa dengan keputusan luar biasa dan seketika

Bayangkan masyarakat biasanya, ngopi, kumpul-kumpul, jalan-jalan, liburan, lalu seketika dilarang tanpa prolog. Dalam rangka mengantisipasi penyebaran virus Corona Covid 19, masyarakat dilarang berkerumun di tempat ramai.

Apakah masyarakat protes, demo, makar akan hal itu? Tidak! Mereka seakan-akan menerima, tapi dalam perilakunya tetap tidak sesuai yang disarankan. Ngeyel!

Jangan heran, perintah libur untuk anak sekolah tapi aplikasinya liburan. Perintah libur dilaksanakan, tapi tujuan libur diabaikan. Mereka jalan-jalan, mereka rekreasi, mereka liburan. Mereka ngeyel!

Lebih ngeyel lagi, dengan larangan yang tujuannya sama, masyarakat muslim agar tidak melaksanakan shalat Jumat dulu, karena jumatan itu adalah keramaian. Eh, mereka ramai-ramai melaksanakan salat zuhur berjamaah di hari Jumat. Ngeyel!

Ngeyel karena terpaksa

Opini Terkait
1 daripada 302

Banyak juga masyarakat yang terpaksa ngeyel. Dia tahu bahwa menghindari keramaian itu penting dalam rangka membendung penularan virus Corona. Tapi demi sesuap nasi dan sebongkah berlian, mereka ngeyel, tetap berjualan, dan tetap meramaikan pasar.

Masyarakat ngeyel karena terpaksa sangat sulit diantisipasi, karena pemerintah harus memberikan solusi atas alasan yang membuat mereka ngeyel. Itulah sebabnya, di negara yang menerapkan lockdown menyiapkan kebutuhan sehari hari kepada masyarakatnya.

Ngeyel karena merasa kebijakan tidak adil

Beberapa kebijakan pemerintah daerah memang terkesan tidak adil. Jumatan dilarang, tapi pasar dibiarkan. Tabligh akbar dilarang tapi Misa dibiarkan. Kebijakan yang tidak adil itulah sehingga muncul sikap ngeyel sebagai balasan dari masyarakat.

Masyarakat yang ngeyel karena merasa ada sesuatu yang tidak adil, bagi saya wajar dan tidak salah. Kaalu jumatan ramai, pasar juga ramai. Kalau jumatan dilarang karena ramai, lalu kenapa pasar dibiarkan?

Akhirnya sebagian masyarakat tetap melaksanakan shalat Jumat di masjid. Dalam pikiran mereka, buat apa kita membendung penyebaran Corona dengan menghentikan keramaian, kalau toh tempat lain dibiarkan?

Lebih bahaya lagi, kalau nanti ada jemaah yang menjadikan masjid sebagai tempat jual beli yang ramai layaknya pasar. Toh, pasar yang juga ramai tidak dilarang.

Para penentu kebijakan sepatutnya memikirkan hal ini. Kebijakan yang tidak adil akan menambah deretan sikap masyarakat yang ngeyel terhadap penyebaran virus Corona.

Sebelum menindak tegas, sepatutnya pemerintah memerhatikan rentetan ngeyelisasi di atas. Kalau tidak, maka tindakan tegas tidak akan mencapai tujuan semestinya.

Polisi sudah menegaskan, jika ada masyarakat yang membandel, tidak mengindahkan perintah personel yang bertugas, kami akan proses hukum dengan Pasal 212 KUHP, ‘Barangsiapa yang tidak mengindahkan petugas yang berwenang yang melaksanakan tugas, bisa dipidana’. Kami tambahkan Pasal 216 dan 218 KUHP,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal dalam konferensi pers yang disiarkan akun Instagram DIVISI HUMAS POLRI.

Tapi hati-hati, karena masyarakat ngeyel itu ada sebab dan ada proses. Ngeyelisasi yang dilakukan bukan tanpa alasan, dan itu harus diperhatikan.

Komentar
Loading...