Nur yang Menghiasi Perjalanan Hidupku

Nur yang Menghiasi Hidupku

Kepalanya kuangkat, darah mengucur melumuri tanganku. Tak seperti rangka kepala kebanyakan, yang ini terasa lembut, seperti kerupuk terkena air panas. Semua yang hadir berteriak histris.

“Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun.”

Dia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Kepalanya masih dalam pangkuanku. Badanku serasa tak bisa bergerak sedikitpun, lidah kelu tak bisa berucap sepatah kata. Antara sedih, kaget, dan sedikit kawatir.

Dia kecelakaan sepeda motor saat pulang dari mengantar pacarnya di soppeng. Tabrakan keras dengan pengendara lain yang kebetulan seorang polisi. Belakang hari saya tahu kalau polisi itu anak semata wayang. Polisi itu meninggal di tempat. Menurut saksi mata. Taksiran kecepatan keduanya di atas 100 km/jam.

Polisi berkerumun mengelilingiku. “Kamu keluarganya?” tanya seseorang dari mereka dengan suara agak tinggi. Saya tak menjawab sambil beranjak pergi. Banyak polisi yang mengekor di belakangku

“Dia se kost ku, tak ada hubungan darah. Cuma dia kuanggap adik sendiri.” Jawab ku ringkas.

Ya, sosok almarhum memang sangat baik. orangnya bersih dan rapi, sangat cocok dengan saya yang mabattu dan malas. Semua pekerjaan di kamar kos diselesaikan setiap hari. Menyapu, masak, mengangkat air, semua.

Kepergiannya tahun 2005 lalu sangat membuatku sedih. Kepergian yang mengerikan sekaligus meninggalkan rasa kasihan yang sulit kulupakan sampai hari ini.

Dialah nur. Biasa dipanggil Nure. Santri asal daerah pelosok Kabupaten Maros. Semoga amal ibadahnya di terima di sisinya. Amin

Nur kedua yang menghiasi perjalanan hidupku pastinya orang baik. tapi ini sedikit berbeda. Dia seorang laki-laki. Usianya kisaran 45 tahun. Seorang pejabat teras pengadilan. Ketua pengadilan. Demi privacy jabatannya tak elok dijabarkan secara detil.

Ada beberapa hal yang membuatku salut dengan orang ini. Dia pejabat tapi tak sedikitpun menampakan sikap dan tindak tanduk angkuh. Dalam komunikasi dan bergaul, semua sama.

Setiap ketemu pasti makan siang aman. Di warung sederhana jauh dari kelas pejabat, tapi membuat kenyang tak terbatas. “makan saja, jangan kawatir ini bukan uang kasus, apalagi korupsi. Ini halal.” Candanya.

Opini Terkait
1 daripada 26

Cara berpikirku dengannya sama. Se-iya sekata. Entah mungkin buku logika yang pernah saya baca juga menjadi santapannya. Tak heran, saat gonjang ganjing penilu kemaren, alur pikirku dengan dia sama. Pilihan sama.

“Doakan saya, pindah dari jabatan sekarang, di tempatkan di Wajo.” Ini katanya yang selalu kutunggu semoga terwujud kelak.

Nur aku menunggumu!

Dari belakang: saya, Prof Ahmad Sewang, Idrus, Nur, dan Syarif

Nur yang ketiga. Nah ini seorang wanita. Ehem… kok berdehem sih? Tidak hanya ingin memaknai sesuatu yang tak bisa dipahami orang lain kecuali saya sendiri. Ehem lagi hehehe

Wanita, dari sisi fisik dia tidak cantik. Tapi kecantikan bukan syarat tidak laku. Dia sudah bersuami tentunya. Anaknya banyak malah. Meski demikian, semua itu tak menghalangi kedekatanku dengan dia. Suaminya tak sanggup untuk itu.

Sejak lama saya dengan dia kadang dianggap bermusuhan. Dia sering marah, bukan marah sih, anggap saja perhatian. Ya, dia perhatian banget. Saking perhatiannya kadang mudah dimaknai sebagai amarah.

Komunikasi face to face dengan dia terbilang jarang. Maklum jarak yang tak sesuai kondisi. Kami saling berjauhan. Namun ibarat lagu, jarak tak jadi masalah. Asam di gunung garam di laut. Apalahhh. Pokonya kami dekat. Sangat dekat…

Nama panggilannya Nur. Nama aslinya Nurlaily. Iya. Dia saudari kandungku. Anak sulung dari empat bersaudara, dan saya anak ke tiga. Semoga beliau sehat, panjang umur, rejeki melimpah.

***

Ada banyak orang di sekitar kita. Orang itu berkesan, terkadang biasa saja. Menarik karena orang berkesan ini, nama dan nama panggilannya sama, Nur. Dua pria dan satu wanita. Banyak pelajaran penting dari mereka. Intinya, silaturahim harus tetap terjaga.

Selamat berbahagia Nur!

Loading...