Orang Miskin dan Virus Corona

Miskin dan Corona

Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi mendefinisikan miskin yaitu orang yang tidak mampu mencukupi kebutuhan dasarnya, dan dengan sebab itu dia membutuhkan bantuan orang lain.

Jangankan membeli tiket pesawat keluar negeri, melihat kursi pesawat saja mungkin belum pernah. Jangankan ke tempat dansa, dengar kata dansa saja mungkin mereka mengerutkan kening, heran dan tak tahu.

Bahasa yang digunakan orang miskin juga bahasa sederhana mudah dipahami, cenderung berbahasa daerah. Yah, mungkin sebagian ada yang ketiban rezeki anaknya mendapat jatah sekolah ke luar negeri, sehingga tahu bahasa asing, tapi itu tidak umum.

Jangan bilang social distancing di depan orang miskin, nanti mereka menyangka itu makanan sejenis Pelecing Bali atau apa. Jangan ancam mereka dengan lockdown, nanti mereka mengira itu smackdown, dan mereka tak takut.

Orang miskin dan virus Corona

Orang miskin selalu berpikir hari ini makan apa dan pakai apa. Itulah kebutuhan utama mereka. Kesehatan? Mereka tak mengerti itu secara mendalam. Itulah sebabnya, karena Tuhan Maha Adil, jarang kita mendengar orang miskin sakit, meski orang miskin dilarang sakit. Bukan karena mereka tidak sakit, tapi kita tidak tahu kalau mereka lagi sakit. Setiap hari, setiap saat mereka merasakan itu!

Corona? Virus ini berasal dari Wuhan, China. Tidak mungkin si Corona ini terbang atau blastt menghilang dan sampai di Indonesia, tidak! Itu dibawa oleh minimal oleh orang yang pernah ke sana, beli tiket pesawat, atau berinteraksi dengan sesama mereka.

Pasien Corona pertama adalah penari profesional katanya dan dia tertular setelah interaksi di lantai dansa dengan orang Jepang. Orang miskin belajar menari? Orang miskin pergi berdansa? Tidak! Bahkan pembantu penari yang terpapar ini sehat sehat saja, karena mungkin dia tak kenal sakit.

Opini Terkait
1 daripada 302

Banyak orang takut dengan orang miskin. Mentang-mentang miskin dianggap bisa menularkan virus. Salah! Orang miskin itu dalam tubuhnya terbentuk imunitas yang kuat. Virus apa saja termasuk Corona akan kalah dengan imunitas tubuh yang kuat. Lalu, bagaimana bisa orang miskin menularkan virus?

Kalau ingin imunitas kuat, sering-seringlahbersama orang miskin agar terbentuk herd immunity. Kalau takut dengan Corona dipastikan bukan orang miskin, karena orang miskin sudah terbiasa berdamai dengan virus apapun!

Orang miskin dianggap nekat

Andai di Indonesia menetapkan lockdown, itu akan aman-aman saja dengan syarat, orang kaya tidak berbuat ulah. Menaikkan harga dari harga normal, menimbun kebutuhan pokok, lalu menjualnya hanya kepada yang mampu membeli dengan harga yang sudah dinaikkan.

Orang miskin akan manut saja dengan harga beras per liter mencapai 12 ribu hari ini, tapi akan mengamuk dan nekat kalau tiba-tiba besok harganya naik 10 kali lipat. Dia akan nekat melakukan sesuatu yang dianggap berbahaya oleh orang kaya.

Orang miskin takut melanggar hukum, selain karena mereka tak tahu pasal, junto, mereka tak butuh itu, mereka hanya berusaha mencukupi kebutuhan dasar, makan dan pakaian. Mereka ditangkap juga tak apa-apa karena tahu di penjara disediakan makan. Mereka nekat!

Jadi jika ada keputusan lockdown, karantina wilayah, atau istilah apapun namanya, tak perlu khawatir dengan orang miskin. Cukup jaga orang kaya agar tidak memainkan harga, tidak menimbun barang lalu lari memborong tiket pesawat ke Singapura. Jangan membuat orang miskin kaget, karena bisa membuat mereka nekat.

Di tengah wabah virus Corona Covid 19, mari hargai orang miskin! Ini pesan dari saya, mantan orang kaya!

 

Komentar
Loading...