Organisasi Itu Tak Mudah Bungg…

Epistemologi paling dasar dari organisasi adalah zon politikon (dalam bahasa Indonesia tak baku). Manusia adalah makhluk sosial. Manusia tak bisa lepas dari eksistensi manusia lain. Sedikit mendalam, manusia cuma satu, ragamnya saja yang bermacam-macam. Dari sini kemudian kekuatan nyata manusia dalam kalkulasi matematis, akan bertambah jika berhimpun, bersama dan bersatu.

Dalam konteks lokal, organisasi beragam dan besar dipengaruhi oleh persekutuan di dalamnya. “Jika ada 10 orang berserikat, maka di situ ada 10 potensi”. Permasalahan kemudian muncul; menyatukan potensi dalam benang merah organisasi menjadi samar. Kerawanan dalam hal “dimanfaatkan”. menjadi peluang yang terbuka lebar.

Sebuah lembaga asing (berhubung englis jelek, gk disebutkan), memaparkan hasil penelitiannya, bahwa di Indonesia, sampai hari ini, tak satupun organisasi yang berjalan sesuai rel AD/ART semestinya, kecuali organisasi Rohis, dan sejenisnya. Asumsi ini dibuat dengan berdasarkan pada mekanisme menetapkan tujuan sebuah organisasi, dan kondisi kelayakan model sebuah organisasi.

Menurutnya, tujuan sebuah organisasi tidak ditetapkan berdasarkan keinginan anggota semata, karena yang demikian melahirkan spekulasi pengalihan arah dari epistemologi organisasi seperti yang disebutkan sebelumnya.

Banyak organisasi hadir dan besar bukan karena pencapaian tujuan, tapi cenderung karena kuantitas dan bukan kualitas. Sistem demokrasi ternyata mendukung ini. Sebut saja Ahmadiyah, FPI de el el, menjadi perhatian karena kuantitas anggota yang banyak.

Asumsi kuantitas yang diaproove oleh sistem demokrasi ini kemudian melahirkan model organisasi yang hampir seragam. Menyusun, dirapatkan, bergerak, evaluasi, and back. Konteks makhluk sosial kemudian dipahami terbatas dalam internal saja. Padahal, kualitas lebih penting. Sebut saja ICW, organisasi yang tak memiliki anggota secara kuantitas memadai, namun mampu berjalan sesuai tujuan organisasinya.

Opini Terkait
1 daripada 304

Ber-Organisasi tidak mudah…

Mari bercermin model organisasi Nabi, sang pemimpin nomor wahid dari seratus tokoh yang paling berpengaruh, pemimpin yang mengispirasi lahirnya istilah masyarakat madani akibat keberhasilannya mengorganisir Madinah setelah Hijrah. Beliau dalam menjalankan mekanisme organisasinya, bukan tanpa AD/ ART, bukan tanpa struktur, dan bukan tanpa base camp. Tapi beliau selalu meletakkan tujuan dengan berlandaskan epistemologi manusia berhimpun di atas seegalanya.

Dalam bahasa al-Quran, kata berkumpul dan berhimpun sebagai bahasa mendasar pergerakan anggota organisasi, lebih banyak dalam bentuk majhul, dikumpulkan dan dihimpun. Banyak hikmah dari skenario Tuhan dalam kalamnya seperti ini. Salah satunya mungkin penekanan pada siapa yang menghimpun, dan ini terkait dengan kepemimpinan. Dan dihimpun untuk apa, ini terkait dengan tujuan. Artinya seorang pemimpin organisasi selayaknya memahami betul tujuan dari langkah organisasinya, sebelum memahami tujuan dari anggotanya.

Makin muda organisasi itu, akan makin kurang berakar budayanya. Sama halnya, lebih mudah bagi manajemen untuk mengkomunikasikan nilai-nilainya yang baru bila organisasi itu kecil. Perjuangan Che Gua Vara demi kemerdekaan Negaranya, mungkin sebuah contoh makro. Demo buruh kemaren yang tak mampu menembus Jokowi di Jakarta, menjadi contoh semi makro. Remaja Masjid dengan kegiatan halaqahnya, bisa menjadi contoh mikro. Bagaimana sebuah organisasi bisa berjalan tidak terpaku hanya pada masalah anggaran.

Organisasi itu tak mudah Bungg…

Komentar
Loading...