Kenapa Menteri Agama Tidak Datang?

Setelah ditunda nyaris dua bulan, karena mengharap kehadiran Menteri Agama, akhirnya Muktamar As’adiyah ke-13, dibuka secara resmi pagi tadi. Wakil menteri Agama yang notabene adalah alumni As’adiyah, membuka dengan sambutan ilmiah dan mengharukan.

Ada beberapa pesan yang dititip oleh Pendiri Ponpes al-Ikhlas Ujung, Kabupaten Bone, diantaranya; harapan kepada warga As’adiyah untuk senantiasa mempertahankan Doa dalam segala aktivitas.

“Orang yang tidak mau berdoa adalah orang yang angkuh, dan sombong. Doa adalah senjata orang-orang beriman”. Katanya.

Alumni PGA As’adiyah ini juga mengungkap karakter lemahnya peserta didik kekinian dengan solusi, belajar pada waktu malam. Pengajian malam yang dilaksanakan oleh para ulama di As’adiyah, ternyata bukan tanpa alasan. Jika menilik ke konsep al-Quran, kata yang menyebutkan dan berarti malam, hampir semua menyirat persoalan derajat manusia dan karakter. Rutinitas peserta didik antara maghrib dan isya dengan menonton sinetron tak mendidik, menjadi pemicu “kekurangajaran” yang semakin meingkat.

Pesan terakhir yang penulis sempat kutip adalah “As’adiyah boleh di mana-mana, tapi tidak ke mana-mana”.

Dalam konteks politik, warga As’adiyah diperkenankan berafiliasi dengan salah satu partai politik yang ada, namun secara kelembagaan itu tidak boleh. Alasan secara historis, para ulama pendahulu As’adiyah membuktikan itu.

Pesan posisi As’adiyah inilah yang menggugah penulis untuk sedikit mengurai dan menganalisa As’adiyah dalam kacamata Nasional berdasarkan datang tak dijemput pulang tak diantar judul di atas.

***

Beberapa waktu lalu, masyarakat Belawa, gembira menyambut Muktamar As’adiyah di bumi Tosagena ini. Persiapan hampir seluruhnya matang. Ratusan rumah dipersiapkan, tanpa aling-aling memikirkan konsumsi para tamu. Sampai pada suatu malam Rapat panitia pusat menetapkan bahwa Muktamar As’adiyah, ditunda, sampai waktu yang belum ditentukan.

Opini Terkait
1 daripada 304

Beberapa minggu kemudian, ketetapan waktu datang, karena alasan penundaan akibat bapak Menteri Agama tak sempat hadir, terjawab. Yah, pak menteri memberi waktu pada tanggal 17 November 2012. Ada rasa gembira dengan berita ini, meski panitia sebagian ada yang merasa kesal. Semua ada hikmahnya, kata teman saya yang sedikit bijak.

Tak ada gerakan persiapan, semua tampak lesu. Gairah, mood, nafsu, atau apa saja namanya seakan mulai memudar. Hingga seminggu menjelang waktu yang diberikan pak menteri, hampir bersamaan ketika diumumkan dalam jumatan bahwa bumi penghasil ulama ini kedatangan tamu melalui helikopter. Wooow gitu???… Semua kemudian bergegas, sigap, meski tak seperti dulu. Tampak, tanggal 16 malam jam 2.00 wita, panggung utama belum tuntas.

Namun, penulis katakan “sial”,… Bapak menteri yang kita tunggu, ternyata diwakilkan. Ada apa?

Semua dipastikan bertanya dengan kata sama. Jawaban dari yang mewakili tentu, hampir sama dengan yang lalu-lalu. “Bertepatan dengan acara lain, dipanggil atasan”, atau apalah. Dan, jangan lupa mohon maaf dan titip salam…

Mari kita kaji atau sekedar mengingatkan dengan pemikiran kita. Sederhana, cukup bertanya, dan bertanya…

Secara politis, siapa warga (pengurus; pen) As’adiyah kini? Berapa yang Pegawai Negeri Sipil dan kemudian dilarang berpolitik praktis dalam amanat PP 53? Pengurus Besar, Pengurus Yayasan, Guru? Ke Parpol mana MEREKA berafiliasi? Ada yang berani menjawab dengan jujur?, atau cukup mengatakan KEBANYAKAN…

Atau satu pertanyaan dengan logika terbalik. Andai yang diundang menghadiri Muktamar As’adiyah adalah Menegpora (Andi Mallarangeng), hadir? Menteri Pendidikan (pak Nuh)? hadir? Atau Menakertrans, (pak Muhamin)?, hadir?… Mungkin…

Ada yang protes, “Ah… anda keliru, ini bukan karena masalah politis!”. Ini kebetulan saja. Mari kita lihat, pernyataan ini:

Acara DIKTERAPAN tingkat Nasional ini akan dilaksanakan pada tanggal 17-18 Nopember 2012 di Pondok Pesantren Darul I’tisham Embo Kabupaten Jeneponto. Acara ini direncana dihadiri Menteri Agama RI beserta jajaran beliau, diantaranya Dirjen Pendidikan Islam, begitupula para Ka.Kanwil Kemenag Seluruh Indonesia dan juga dihadiri oleh Bapak Gubernur Prop. SUl-Sel.

Loh itu kan gk ada hubungannya dengan politis, itu murni kunjungan kerja… Mudah-mudahan (tak mau kehabisan akal).

Komentar
Loading...