Pakaian Koruptor Membuat Efek Malu?

0 9

Membicarakan masalah korupsi di Indonesia, seakan menjadi bahan perbincangan tak ada habisnya. Jangankan korupsi kecil, korupsi besar seakan ngantri silih berganti mengisi media. Ada saja hal menarik yang bisa dijadikan bahan jualan media, baik visual maupun media online.

Hal terkait korupsi selalu menjadi menarik, entah mengapa, jumlah uang yang dikorup, siapa pelakunya, wanitanya, sampai pakaian koruptor kerap menjadi headline pemberitaan.

Kalau kaisar China menyediakan peti mati, di Indonesia, KPK terbentuk karena hebatnya kejahatan korupsi. Banyak hal telah dilakukan, intinya meredam tindak pidana ini. Salah satunya dengan membuat malu para koruptor.

Berbeda dengan hukum Islam tentunya, efek jeranya tegas, potong tangan. Hukuman langsung sekaligus membuat malu. Namun di Indonesia, membuat malu koruptor, hanya dengan membuat pakaian gratis yang dikenakan pada tersangka.

Diskusi tentang pakaian koruptor ini, tidak memakan waktu sedikit. Berbagai ide muncul, akhirnya lahirlah pakaian koruptor dengan desain setengah jaket, warnanya putih. “Bahannya terlalu bagus.” Kata penjahit muda teman saya. Bosan dengan pakaian koruptor ini, kemarin pimpinan KPK merilis pakaian baru dengan desain dan warna berbeda.

Ada 4 macam pakaian korupsi KPK kali ini, yaitu baju tahanan untuk sidang, baju tahanan untuk harian, baju tangkapan, dan baju olahraga untuk tahanan. Bentuknya setengah kaos warna oranye, dan satunya warna gelap, mungkin biru tua.

Gonjang-ganjing mengenai pakaian koruptor ini bagi saya cukup menarik. Jika kata Abraham Samad untuk membuat malu, cukupkah hanya dengan pakaian?. Sampai kapan pakaian itu dipakai?, toh ketika di persidangan selama ini, semua tampil dengan gaya dan pakaian sendiri. Toh ketika diliput media, pakaian itu tidak terlalu kelihatan, terlalu banyak orang di sekitar pemakainya. Toh mereka tersenyum, dan melambaikan tangan. Di mana letak efek malunya.

Jika merunut pada fungsi pakaian, salah satunya adalah menutup aurat. Memperlihatkan aurat adalah malu yang nyata, dan pakaianlah menjadi penutup malu itu. Maka pakaian kurang tepat menjadi sarana pembuat malu. Begitupula pakaian sebagai model dan gaya, pakaian memalukan lebih pada trend.

Bisa dilihat, pakaian ngetrend masa lalu, kemudian menjadi pakaian ‘memalukan’, kembali populer jaman sekarang. Dengan merilis pakaian koruptor, tidak menutup kemungkinan akan cepat menjadi trend, dan tidak membuat malu.

Korupsi bukan hanya kejahatan memalukan, namun merupakan kejahatan menyengsarakan. Hukuman setimpal yang adil semestinya menutupi unsur memalukan dan menyengsarakan tersebut. Jika salah satu caranya dengan pakaian, tak sulit mendesain pakaian koruptor yang membuat malu dan menyengsarakan. Jika ingin berbuat baik, desain pakaian koruptor yang bisa membuat malu, menyengsarakan dan membuat mereka bertakwa, adalah pantas.

“Dan pakaian yang paling baik bagimu, adalah pakaian takwa.” Firman Allah dalam al-Quran. Untung pakaian koruptor yang sekarang tidak bisa berbicara. “Andai pakaian bisa bicara, dia pun ogah dipakai oleh mereka.” Tweet unik dari Tuan Guru.

Komentar
Loading...