Pang Aji dan Tanta Aji; 3 x 1

Siapa Pang Aji dan Tanta Aji?

Orang Bugis sangat tendensius dalam menghormati sesuatu, tak peduli itu benda mati atau benda hidup. Bukan orang bugis kalau kadar penghormatannya terhadap sesuatu rendah. Gelar penghormatan yang umum digunakan adalah “Puang.” Puang Aji, artinya panggilan penghormatan kepada seorang yang sudah menunaikan ibadah haji.

Lalu dari mana asal “Pang?” Dari Puang kok menjadi Pang? Menurut saya, itu hanyalah transvoicesasi, pergesaran suara karena penyebutan yang cepat. Puang puang puang dan menjadi pang. Misal dalam kata “pang sio” (pengikat) yang asalnya “sio,” “pang muccikeng” (orang yang suka baper), “pang aji” (orang yang sudah menunaikan ibadah haji)dst.

Seperti halnya masyarakat muslim indonesia, masyarakat Bugis juga menggunakan gelar Aji. Sebenarnya, “Aji’ berasal dari “Haji dan kalau perempuan “Hajjah,” yaitu gelar yang disematkan kepada orang yang sudah menunaikan ibadah haji. Namun dalam bahasa Bugis, panggilan hajjah jarang kita jumpai. Semua menggunakan “Aji” baik laki-laki maupun perempuan. Tak ada panggilan khsusus yang menunjukan Aji laki-laki atau Aji perempuan, yang ada hanya penambahan kata di depan kata aji yang mewakili status pemilik Aji. Dan ini biasanya berdasarkan umur.

Mereka yang sudah renta dipanggil “Nene Aji.” Kalau ibu muda, dipanggil “Tanta Aji.” Kalau merasa lebih tua tapi masih kadar sebaya, dipanggil “Deng Aji.” Dan yang lebih umum dipanggil “Pang Aji.” Panggilan Pang Aji ini berlaku untuk semua. Awalnya sebagai bentuk penghormatan. Lambat laun, menjadi panggilan akrab bahkan menjadi panggilan mesra.

Saya punya teman wanita, masih muda, mamah muda (mahmud) dan sudah pernah menunaikan ibadah haji. Tak banyak mamah muda yang sudah menunaikan ibadah haji loh? Ibadah haji tidak murah. Dan yang paling penting, ibadah haji bukan faktor kemampuan materil saja, banyak hal lain termasuk kesempatan yang diberikan yang Maha Kuasa.

Ibadah haji, mereka tunaikan saat umur terbilang masih muda. Belum susah seperti sekarang. Mendaftar hari ini, 30 tahun kemudian baru kemungkinan bisa berangkat. Keduanya berangkat ke tanah suci malah dengan pasangan masing-masing, asyik kan…

Karena ada dua orang mahmud yang sudah menunaikan ibadah haji, maka di komunitas, kami panggil mereka Pang Aji dan Tanta Aji. Mengalir saja, dan mereka tidak marah. Panggilan itu sudah identik untuk keduanya.

Siapa yang dipanggil Pang Aji dan yang mana dipanggil Tanta Aji? Kenapa berbeda? Apa yang membedakan? Menjawab semua ini tentu harus diungkap siapa mereka. Bagi saya tak perlu. Saya tulis persamaan dari keduanya saja. Apa pentingnya? Baca saja ah…

Gambar hanya Ilustrasi

Pertama: keduanya menjadi icon. Tak menarik acara kalau tanpa keduanya, meski acaranya sama atau bahkan lebih besar. Arisan, makan ikan, massiara, ke kebun, pokoknya acara apa saja bersama teman-teman, ada yang hambar tanpa mereka atau salah satunya tidak ada.

Tak mudah menjadi icon. Ada orang, saat dia hadir serasa ada yang lebih. Tidak hadir tidak apa-apa. Ada juga hadir serasa ada yang lebih, tidak hadir, serasa ada yang kurang. Tapi dua mahmud ini, Pang Aji dan Tanta Aji, rasanya sepaket. Satunya garam, tapi tak terlalu asin. Satunya lagi gula yang tidak terlalu manis.

Opini Terkait
1 daripada 10

Icon adalah penanda. Tanpa icon sesuatu yang diwakili oleh icon dianggap tidak ada. Misal, acara besar pasti memiliki icon. Tujunan awalnya sebagai penanda. Saat icon kelihatan maka acara itu masih ada.

Dalam komunitas, kami sangat menghawatirkan dua orang ini. Kawatir mereka berada dalam keadaan yang sudah tidak bisa bersama dan tidak bisa lagi menjadi icon, sudah tidak bisa peduli lagi dengan komunitas, entah terpaksa atau tak ada jalan lain. Komunitas pasti akan bubar, dan semua akan menjadi hambar.

Kedua, keduanya mabessa. Mabessa itu bahasa bugis yang artinya murah hati. Murah hati kelasnya sedikit di atas dermawan. Dermawan erat kaitannya dengan pemberian. Sedangkan murah hati, berawal dari perasaan yang memang hendak memberi. Orang dermawan akan memberi jika ada. Tapi orang murah hati akan memberi, dan jika tidak ada dia akan berusaha sampai dia bisa melakukan pemberian itu.

Itulah sebabnya, rejeki keduanya mengalir lancar tak tersendat. Beli tanah 500 juta tak menghalangi traktir 7 orang setelahnya. Beli rumah 1 M, tak mempersulit mengantar teman setengah jalan. Semuanya karena janji Tuhan, yang diinfakkan akan diganti dengan yang lebih baik.

Pang Aji dan Tanta Aji, keduanya mabessa. Mabessa pada tempatnya sehingga tak mudah dimanfaatkan orang yang punya niat buruk. Memang ada? Ada! Ada sebagian orang yang mencari orang mabessa untuk dimanfaatkan, tentu pada hal yang kurang baik.

Ketiga, keduanya mahmud tangguh. Ibu, kewajibannya hamil, melahirkan, menyusui, dan menjadi madrasah bagi anak-anaknya. Selain dari itu hanya sunnah dan bukan kewajiban. Ibu hamil, melahirkan, menyusui, dan menjadi madrasah bagi anak-anaknya ditambah memasak, mencuci, melipat pakaian, dan bersih-bersih, berarti dia wanita yang hebat. Nah, ibu yang melakukan semua itu plus mencari nafkah entah untuk diri atau keluarganya, itulah wanita tangguh.

Pang Aji dan Tanta Aji wanita tangguh, bukan karena yang bertanggungjawab atas itu tidak bisa melakukannya, tapi keduanya ingin mendapatkan nilai lebih, tanpa mengabaikan kewajiban dan sunnah sebagai ibu rumah tangga.

Kelebihan perempuan tangguh tentu sangat terasa pada sisi ekonomi. Selain tidak bergantung pada penghasilan suami misalnya, perempuan tangguh juga tidak merasa kawatir berlebihan dari kuantitas belanjanya, karena itu berasal dari penghasilan sendiri.

Keempat, nah ini kekurangan Pang Aji dan Tanta Aji bagi saya nih. Seperti halnya umumya para Pang Aji dan Tanta Aji, mereka sangat ambisius terhadap make up. Tapi itulah wanita kali ya… tak akan pernah puas dengan iming iming cantik. (Baca: menjadi wanita cantik)

Satu jam saya di dalam di-make up, bayar lebih satu juta. Kirain keluar wajah ku mirip Syahrini.

Pang Aji dan Tanta Aji Mahmud Tangguh

Ini salah satu kalimat yang keluar dari lisan Pang Aji dan Tanta Aji dan membuat saya membayangkan duit satu juta yang habis sekejap hanya demi penampilan… tapi saya kembalikan. Hanya masalah efektif dan tidak efektif saja, toh keduanya mahmud yang tangguh.

Tiga poin kelebihan yang sama, dan satu poin kekurangan yang sama menurut saya, adalah akumulasi ketidaksempurnaan manusia. Saya bahasakan bahwa Pang Aji dan Tanta Aji ibarat resep dokter; 3 x 1. Tiga kelebihan dan satu kekurangan. Kalau dalam matematika, 3 x 1 hasilnya 3. Masih banyak…

Loading...