Pekan Kondom; Tantangan Baru Pendidikan Karakter

Harmonisasi antar kementerian memang sudah menjadi masalah birokrasi sejak dulu. Terkait hal itu, hari ini, masalah baru muncul. Ketika wacana pembentukan dan perbaikan karakter peserta didik digodok dan digaungkan Kementerian Pendidikan melalui kurikulum 2013.

Lawan baru bagi guru muncul secara tidak langsung dari program membagi-bagikan kondom itu dilakukan dengan alasan mencegah HIV AIDS. Tak pelak, kebijakan pemerintah mencegah bahaya virus HIV AIDS melalui pembagian kondom, menjadi tantangan baru pendidikan karakter yang dicanangkan,

Secara langsung, terlihat bahwa kebijakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), terkesan baik. Pembagian kondom bertujuan mencegah perilaku seks berisiko menularkan HIV Aids. Namun secara tidak langsung, membagikan kondom tersirat himbauan, “silahkan melakukan sex bebas, siapapun boleh berhubungan seks bebas, asalkan memakai kondom.” Upaya melegalkan sex bebas melalui pembagian kondom gratis, tentu sangat bertentangan dengan konteks ke-Indonesia-an dan budaya timur bangsa.

Tentu menjadi tantangan baru pendidikan karakter. Dalam beberapa tulisan saya, seorang guru sebenarnya tidak hanya berupaya menjawab seabrek problematika dalam pembelajaran di kelas, tapi jauh dari itu, adalah tantangan dari stimulus lingkungan yang sejatinya juga betanggungjawab atas tujuan tercapainya keberhasilan pendidikan.

Sehebat apapun guru dalam menjelaskan makna kejujuran plus memberikan keteladanan, akan mendapat perlawanan kuat dengan berita gossip, gibah dan fitnah dari infoteimen media televisi. Dan hebatnya, lingkungan punya kans besar untuk menang, karena durasi waktu peserta didik di luar sekolah lebih besar.

Maraknya video asusila yang dilakoni oleh mereka para pelajar adalah buktinya. Adakah materi ajar atau konteks dalam kurikulum apapun yang menganjurkan hal ini?. Sama sekali tidak ada. Lalu kenapa hal itu mudah terjadi?. Jawaban paling rasional adalah pengaruh lingkungan.

Lingkungan telah memberikan ruang besar dan merasuki alam bawah sadar peserta didik kalau apa yang disaksikan di sekitarnya berulang adalah benar, meski sebenarnya salah.

Opini Terkait
1 daripada 304

Pekan kondom nasional dengan salah satu bentuk kerja membagikan kondom menjadi menarik, bagaimana tantangan baru pendidikan karakter peserta didik dalam kurikulum 2013.

Bus yang juga menampilkan salah satu model dengan tampilan (maaf) merangsang dan kontroversial sengaja atau tidak sengaja akan dipahami sebagai bentuk tak salah dari peserta didik. Sisi lainnya mampu menjadi pemancing rasa penasaran peserta didik akan kondom dan segala aktivitas terkait dengan benda licin tipis itu.

Pembagian kondom jika tepat sasaran, implementasinya juga akan baik. Tapi jika diberikan ke kampus dengan model retribusi via bus yang dapat dilihat semua orang, akan memancing riuh penasaran bukan hanya terhadap mahasiswa, tapi jauh terhadap generasi yang lebih muda.

Para generasi muda yang awalnya tidak berpikiran dengan sex di luar nikah, akan mendapat stimulus men-follow up kondom yang didapatkan. Ada baiknya, kalau toh dikatakan untuk penanggulangan HIV AIDS, maka pembagian kondom tepat sasaran dan tidak menjadi wahana baru yang mempengaruhi banyak orang termasuk peserta didik.

pekan kondom
Ilustrasi sumber: Fimela.com

Pemerintah memunculkan gerakan pendidikan karakter melalui kurikulum 2013, tentu setelah melalui pertimbangan matang berdasarkan kajian mendalam. Hasil pendidikan yang hanya melahirkan anak pintar, namun berperilaku tidak sopan, tidak peduli, kurang cinta pada tanah air, dan cenderung radikal.

Apalah jadinya upaya peras keringat dan banting tulang pemerintah dengan ujung tombak guru untuk hasil pendidikan terbaik, kalau toh lingkungan tidak mendukung hal ini. Pembagian kondom yang dianggap sebagai jawaban bahaya HIV AIDS perlu dikaji ulang, sebagai upaya mendukung lahirnya peserta didik berkompeten dan berkarakter.

Komentar
Loading...