Pelajaran dari Bapak; Mengenang Sosok Almarhum Bapak Kami

0 12

Bapak kami lahir tahun 1955. Tidak diketahui tanggal pastinya. Hidup dalam keluarga berada di masa kecilnya. Ini saya simpulkan saat beliau menceriterakan, bahwa bapaknya (kakek kami) adalah warga yang memiliki radio pertama kali di kampung. Konon, saat radio itu dibeli sekampung orang berjejal di bawah rumah ingin melihat benda yang bisa bersuara tanpa melihat orang. Itulah radio, alat teknologi paling keren di masanya.

Masa kecil, bakat pembelajar kelihatan dari bapak. Ini diceritakan oleh teman dekatnya. Masa muda beliau merantau, seperti pemuda bugis pada umumnya. Bapak memilih target rantauan ke Bali, daerah mayoritas beragam Hindu, meski ada beberapa segelintir beragama Islam. Di Bali beliau menjadi guru ngaji, sampai kemudian menikah dengan ibuku. Terhitung 4 kali mewakili provinsi Bali di ajang MTQ Nasional, sampai akhirnya beliau mendapat penghargaan kala itu diangkat menjadi Abdi Negara, namun ditolaknya.

Dua orang kakak ku lahir di Bali, kemudian diboyong kembali ke tanah kelahirannya, Bugis. Kami bersaudara diajarkan untuk tidak terpengaruh dengan dunia. Ajaran yang sulit tentunya. Beliau mengajarkan dengan memberikan keteladanan. Saat kakek kami wafat, beliau tak memburu warisan, kecuali apa yang bisa dibaca. Sawah dan harta lain silahkan, hanya buku dan siswa catatan kakek yang beliau lemarikan. Inilah awal, kami bersaudara mengenal yang namanya “miskin”.

Mencintai ilmu terus dilakukan dengan mengajar di rumah. Mengaji (membaca al-Quran), bahasa Arab, dan pelajaran agama lainnya. Berpuluh tahun, plus mengajar di madrasaha 5 KM dari rumah kami, dan itu semua dilakukan tanpa pamrih, tak ada ikatan kontrak, gaji, apalagi sertifikasi seperti saat ini. Semua itu terekam baik di pelupuk mataku, bagaimana waktu beliau habis untuk mengajar sekaligus mendidik kami mengenal dunia.

Gaya pendidikan beliau tegas, namun muridnya tak pernah dendam. Saya selaku murid dan anaknya sudah kebal jika sekedar kibasan batang bambu atau gagang sapu. Andai para aktivis HAM tahu, mungkin bapak sudah dibui, karena sebenarnya mereka tidak paham, kalau pukulan dan ketegasan bapak bukanlah tindak kekerasan.

Tahun 80-an, seorang remaja dibawa oleh orang tuanya untuk belajar membaca al-Quran di rumah. Remaja itu gagap, dan latah. Jangankan menyebut huruf Hijaiyyah, berbicara saja sulit. Dengan sabar, bapak mengajarinya, hingga suatu hari kibasan bangku menghantam mulut remaja itu. Tak ada tangis, yang ada remaja itu sejak saat itu berhenti gagap dan latah. Bicara dan penyebutan hurufnya menjadi lancar.

Jumlah murid yang berhasil entah menjadi guru, juara even membaca al-Quran, dan tolak ukur keberhasilan lain sudah tak terhitung lagi, bahkan sampai almarhum bapak kami menghembuskan nafas terakhir, beliau masih mengajar anak-anak yang mana kakek anak itu juga murid bapak dahulu.

Di rumah, kami bersaudara mendapatkan pola pengajaran yang sama tegas. Kami tidak pernah berharap mendapatkan jatah makan malam jika tugas belajar yang diberikan belum kami kuasai. Saat umur 10 tahun, kami bersaudara disarankan menghapal al-Quran, “10 jus saja” kata beliau. Sepulang sekolah, kami hanya mendapat jatah bermain 30 menit, sisanya apalagi kalau bukan belajar, dan ketentuan lain yang sudah ditetapkan. Jenuh, jengkel, itu pasti sebagai anak-anak usia 10 tahun. Namun, setelah dewasa barulah kami sadar, kalau semua itu ternyata untuk kebaikan kami semua. Kami merasa ketegasan itu kurang, kami merasa menyesal karena dulu kami terkadang pura-pura belajar, padahal tidak.

Pelajaran dari bapak yang belum berhasil kami wariskan, adalah berpegang teguh akan kebenaran dan taat aturan. Saya teringat, saat Kementerian Agama RI membuka pendaftara beasiswa bagi guru agama, saya berniat mendaftar. Salah satu syaratnya adalah melampirkan SK mengajar minimal setahun. Saya sebelumnya pernah mengajar di madrasah binaan bapak sekita 9 bulan sebelum akhirnya berhenti karena jarak. Saat saya meminta SK sebagai lampiran persyaratan itu, bapak memberikan tapi yang sebenarnya, yaitu 9 bulan. Tentu SK itu tidak memenuhi syarat. Saya meminta agar masa SK itu dicukupkan setahun, dan Alhamdulillah bapak menolak.

Betapa sulit konsisten akan kebenaran. Betapa sulit menjadi pendidik tanpa pamrih, tapi bapak kami mencontohkan hal itu. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Mengajarkan sesuatu bukan berarti mengurangi apa yang kita tahu, tapi menambah pengetahuan itu. Kini kami bersedih, sekeluarga dan mungkin murid-murid beliau mencintainya, tapi Allah lebih mencintai beliau.

Tulisan ini adalah kenangan sekaligus pelajaran dari bapak. Tentu lembaran ini sangat kecil untuk menulis semua. “Sesungguhnya dalam kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang yang berpikir” (Surah Yusuf)

Komentar
Loading...