Pembuktian ADA-nya Tuhan Secara Rasional Bagian 3

Pembuktian ADA-nya Tuhan

Kita mulai melakukan pembuktian ada-nya Tuhan secara rasional dengan kalimat pemancing, “Jika tuhan maha kuasa, sanggupkah dia (tuhan) membuat batu besar dan berat sehingga dia sendiripun tak sanggup mengangkatnya”

Sebuah pertanyaan, yang cukup unik bagi yang tidak terbiasa memakai rasionalnya dalam menelaah sesuatu. Temanku yang alumni pengkaderan ulama bahkan mengusir dengan nada marah yang bertanya seperti itu.

Padahal bagi saya, yang bertanya seperti itu sudah melangkah pada tahapan rasionalisasi keimanan lebih tinggi dari orang beragama pemula.

Sesuatu yang dikatakan (sengaja saya bold) ada, pasti terbatas, karena kata ada sendiri adalah ejaan a+d+a rangkaian huruf, menghasilkan bunyi dan memberi makna tertentu. Ejaan, rangkaian, sampai makna yang dipahami tersebut adalah ruang lingkup bagi pelaku. Jika pelaku itu manusia, maka ejaan, rangkaian, sampai makna yang dipahami ada dalam batasan lingkup manusia.

Manusia, batu, kertas, asap, tali sepatu, coca cola, pendengaran, ide, hayalan, harapan dll, merupakan sesuatu yang ada. Dengan demikian semuanya terbatas.

“Ada”nya segala sesuatu yang terbatas tersebut pasti bukan wujud mutlak, karena dia dibatasi oleh keterbatasan masing-masing. Jika segala yang ada terbatas, maka tentu ada sebab dari keterbatasan tersebut. Lantas, apakah sebab dari keterbatasan itu terbatas?. Tentu tidak, karena sebab itu lebih sempurna dan berada di luar lingkar keterbatasan.

Dengan demikian, andaikan ada pertanyaan “di mana letak wujud mutlak itu?”, maka jawabannya adalah di luar lingkar keterbatasan.

 

Masihkah kita akan bertanya, “apakah wujud yang tak terbatas itu ada?”, apa jawabannya?

pembuktian adanya TuhanBagaimana kita bisa mengenal wujud tak terbatas sedangkan “ada”nya kita, dan pengetahuan kita adalah terbatas?

Pertanyaan ini saya yakin akan muncul dalam ide penasaran kita. Jika betul, maka saya sarankan untuk membaca ulang artikel ini.

Adakah dalam diri kita sesuatu yang tak terbatas?. Apakah “diri” kita itu bukan sebagai pembatasnya?. Jawabannya ADA. BUKAN

Komentar
Loading...