Pembuktian ADA-nya Tuhan Secara Rasional (6)

  • Bagikan
para pencari tuhan

Pernahkah anda membayangkan andaikan di dunia ini tidak ada agama. Atau dengan kata lain manusia ditakdirkan tak mengenal agama. Apakah tak ada kebenaran di muka bumi ini?. Jawabannya tidak.

Semua manusia memiliki fitrah kemanusian. Kemungkinan fitrah tersebut berasal dari dimensi ketuhanan yang dengannya manusia disempurnakan. Fitrah dikenal tidak mengalami perubahan dengan berubahnya waktu dan tempat, diperoleh tanpa memerlukan proses belajar mengajar, dan senantiasa hadir dalam diri setiap manusia karena merupakan esensi dasar dalam proses penciptaannya.

Seorang anak yang lahir dengan keadaan fitri. Saat masih kecil, sangat sulit mempraktikkan bohong dalam perilakunya. Lebih memilih tempat indah dan sangat suka sesuatu yang sempurna. Yang demikian adalah lumrah karena fitrah manusia adalah cinta kesempurnaan, cinta kebenaran, dan cinta keindahan. Meski secara subjektif pengejawantahannya kemudian akan berbeda bagi tiap individu.

Semua “kesempurnaan” yang ada pada eksistensi alam material termasuk manusia ini bersifat terbatas. Fitrah mengajak kepada suatu yang tidak terbatas, dengan demikian, desain terpaksa telah dibentuk tuhan mungkin sebagai soft bagi pemilik fitrah. Sebelum manusia mencapai kesempurnaan absolut, fitrah akan selalu menarahkan manusia menuju kepada kesempurnaan yang bersifat absolut tersebut. Karena hanya eksistensi dan kesempurnaan absolut saja yang mampu menghentikan tuntutan fitrah, maka yang bersifat absolut dan memiliki kesempurnaan absolut disebut dengan ejaan tuhan.

Seseorang yang menganggap bahwa kesempurnaan sejati itu hanya milik Tuhan disebut monoteisme sejati. Manusia yang tidak berusaha mengenal absolutisme tuhan, pasti akan merasa tidak tenang dan gelisah akibat tuntutan fitrah kemanusiannya, karena fitrah “diri”nya secara terus menerus menuntut untuk mencari kesempurnaan (dirinya).

Masalah lain muncul, ketika konsep kesempurnaan hanya akan terbatas pada wujud materi saja, maka ia hanya akan menyibukkan dirinya dalam upaya mencari kesempurnaan tersebut di alam materi. Rasionalisasi hanya akan terbatas pada wujud materi, dan semua argumen ketuhanan menegaskan bahwa wujud absolut adalah inmateri. Lantas?

Secara pribadi, fitrawi harus didukung dengan suprarasional, dan itu tidak terjadi tanpa rasionalisasi teoretis.

  • Bagikan