Pembuktian ADA-nya Tuhan Secara Rasional (2)

Sebagai lanjutan pengantar mengenal tuhan sebagai wujud mutlak yang tak terbatas secara rasional pada bagian 1, kali ini saya akan melanjutkan dengan mengenal tuhan bagian 2 melalui teori prima causa.

Teori prima causa berarti sebab pertama dan utama. Awalnya di perkenalkan oleh Aristetoles yang mencoba membuktikan keberadaan Tuhan dengan argumen prinsip “kausalitas”, yakni bahwa setiap akibat pasti memerlukan sebab. Ada asap pasti ada api. Identitas kausalitas yaitu, yang bergantung pada sesuatu yang lain disebut akibat. Realitas yang tempat bergantung disebut sebab. Namun, jika realitas sebab itu memerlukan realitas lain, maka dikatakan realitas tersebut juga sebagai akibat bagi sesuatu yang digantungi itu.

Jika demikian, kausalitas atau sebab-akibat ini pun membentuk suatu rantai sebab-akibat. Rantai sebab-akibat ini memiliki beberapa opsi kemungkinan, yaitu:

Opsi A. Sebab yang tak berkesudahan. Contoh: jika A disebabkan oleh B, B disebabkan C, C disebabkan D, D disebabkan E, – Z, maka Z pun disebabkan oleh sesuatu, dan sesuatu itu disebabkan oleh sesuatu.

Opsi B. Berakhir pada sebab yang tidak lagi disebabkan. Contoh: A disebabkan B, B disebabkan C, C disebabkan D, D disebabkan Z, dan Z tidak lagi disebabkan oleh sesuatu.

Opsi C. Bertaut pada daur tak terbatas. Contoh: A disebabkan B, B disebabkan C, C disebabkan A.

Opsi A mustahil, karena jika rantai sebab akibat ini tidak berkesudahan, maka semua yang ada adalah akibat. Opsi C juga kemungkinan yang mustahil, karena kaidah kausalitas menyatakan” Sebab lebih sempurna dari akibat”. Api pasti lebih sempurna dari asap, karena asap adalah akibat.

Dalam teori prima causa, Z dalam opsi B yang kemudian disebut wujud mutlak. Teori ini memiliki beragam kelemahan, salah satunya adalah tidak memberi ruang bagi tuhan yang berpribadi, berinisiatif dan berkehendak. Tuhan hanya dinobatkan sebagai detonator, dan pemicu pertama. Tuhan pasif. Rasionalnya, dia hadir hanya sebagai sebab pertama, tapi dia tidak berkuasa atas sebab kedua, A, B, M dan seterusnya. tuhan hanya hadir, dan yang lain menentukan.

Komentar
Loading...