Pemikiran Liberal atau Perilaku Liberal

Sudah menjadi tugas seorang guru pada tiap-tiap awal semester menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dan silabus pembelajaran. Itulah yang kemudian diterapkan nantinya dalam setiap kegiatan pembelajaran di kelas.

Dalam kerangka rencana pelaksanaan pembelajaran dan silabus tersebut juga dituangkan aspek karakter yang ingin dicapai setelah kegiatan pembelajaran nantinya. Ada tiga aspek tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran; kognitif, afektif dan psikomotorik. Ketiga aspek ini sebenarnya barada dalam posisi yang sangat strategis terhadap peserta didik ke depan, terutama dua aspek, yaitu kognitif dan psikomotorik.

Sikap terkait dengan psikomotoris seseorang, sedangkan pemikiran berhubungan dengan hal kognitif. Perbedaan kedua aspek ini, menyebabkan perbedaan besar dalam ruang aplikasinya.

Beberapa hal mendasar yang menjadi pembeda antara keduanya adalah; sikap diaplikasikan dalam ruang lingkup yang terbatas, bentuknya materil dan lahir, bersifat sosial dan “wujudnya” terlihat. sedangkan pemikiran berada dalam ruang absolut (akal) yang tidak dapat dibatasi apapun dalam hal kinerja, berbentuk non-fisik dan batin, bersifat pribadi, dan “wujudnya” tak terlihat.

Bagaimana kemudian dua apek ini memiliki nilai strategis?.

Opini Terkait
1 daripada 8

pemikiran liberalHukum Islam menetapkan bahwa urine adalah najis. Dikatakan najis karena urine tersebut keluar dari tempat yang membatasinya. Apakah urine najis ketika masih berada dalam tubuh manusia?. Tentu tidak, karena masih ada yang membatasi.

Beberapa tulisan saya di sini, dinilai oleh banyak pihak dan mengklaim saya sebagai orang yang liberal. Tulisan ini akan menjawabnya.

Jadi jika kita berpikir lberal bahkan menjadi Islam liberal sekalipun, bagi saya tidak jadi masalah, selama hal tersebut hanya dalam tahap pemikiran. Pemikiran bersifat absolut, tak terbatas. Wilayah kebebasan berpikir itu tidak berada dalam ruang publik dan bersifat internal. Hal itu sudah kodrat bagi akal.

Masalah kemudian muncul jika pemikiran liberal tersebut diaplikasikan (dipsikomotoriskan) dalam sikap atau perilaku. Hal tersebut menjadi masalah karena bersentuhan dengan sosial kita.

Masalah muncul ketika Irshad Manji berpikir liberal dengan apologi lesbianism dan menerapkannya, itu sudah bukan pada kebebasan berpikir maupun berpikir leberal, akan tetapi sudah bersikap liberal. Tidak ada kebebasan bersikap lesbianism, sebab sudah berada dalam wilayah sosial, bersentuhan dengan manusia lain dan bukan di pikiran Irsyad Manji saja.

Ketika saya mencoba berpikiran liberal tentang tuhan (dalam hurup kecil), tak layak orang lain menyalahkan saya. Kecuali saya meliberalisasi sikap, dan atau mempengaruhi orang lain untuk bersikap liberal.

Loading...