Penjual Tuak dan Budaya Tidak Jujur

[minnosh_ext_dropcap font-size=”75″ font-weight=”700″]A[/minnosh_ext_dropcap]nda pernah jalan-jalan ke kota Sengkang?, kota kecil ibukota Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan. Sekitar 4 jam perjalanan normal dari kota Makassar.

Nah, di pinggir kota dekat perbatasan berjejer penjual tuak, minuman yang diambil dari pohon lontar. Jika tuak asli rasanya cukup unik. Manis, meskipun bukan manis seperti biasanya.

Tuak dengan rasa asli sudah jarang, dan memang sulit didapatkan. Jika ada, harganya pasti mahal. Tuak asli, paling banyak diganrungi oleh pengunjung yang datang.

Penjual tuak di sana sudah jarang menyediakan tuak yang asli. Umumnya tuak yang dijual sudah dicampur dengan pemanis rasa, sehingga rasanya otomatis tidak asli lagi.

Dulu penjual tuak di perbatasan kota Sengkang itu, banyak dikunjungi orang. Setiap masuk ke kota Sengkang, atau ingin keluar, menyempatkan diri untuk singgah istirahat, sambil minum tuak dan menyantap gogoso’ (makanan dari ketan yang dibakar). Suatu prospek ekonomi yang banyak dilirik.

Tapi itu dulu. Sekarang, kebanyakan dari mereka banyak yang gulung tikar. Penyebab pastinya, penulis tidak tahu. Namun ada cerita menarik terkait dengan penjual tuak. Cerita ini sekaligus kejadian nyata yang menjadi ispirasi budaya bohong.

Seorang teman penulis berinisial F, ingin menguji kejujuran penjual beberapa penjual tuak yang ada di sana. Janjianlah dia dengan temannya berinisial M. Strateginya, J akan datang lebih dahulu dan mengatakan bahwa dia hanya suka tuak yang sudah dicampur dengan pemanis. Tak lama, M akan datang dan menanyakan tuak yang asli tanpa campuran.

Pada hari yang dijanjikan, mereka melakukan strategi itu. Datanglah F, dan berkata, “ada gak tuak yang sudah dicampur pemanis, saya mau pesan untuk 20 orang”?. Spontan penjual berkata, “oo di sini yang ada memang cuma tuak yang sudah dicampur pak”..

Tak lama berselang, datanglah M, dan berkata, “saya mau beli tuak asli untuk 80 orang kalau ada”… tanpa pikir panjang lagi, penjual menjawab, “kebetulan, kami memang tidak pernah menjual tuak yang tidak asli pak”. Katanya meyakinkan, tanpa sadar bahwa F masih duduk di tempat itu.

Fenomena penjual tuak ini, hanyalah gambaran kecil yang senantiasa terjadi di sekitar kita. Memahami ke-tidakjujur-an (bahasa lain dari kebohongan), menjadikannya sebagai hal yang biasa saja akhirnya menjadikan ke-tidakjujur-an menjadi sesuatu yang etis dalam kehidupan. Masyarakat seakan sudah pasrah dengan hal itu, dan lebih baik mengatakan “memang sudah begitu”, dari pada menegur atau memberikan pemahaman.

Demi keuntungan di depan mata, terkadang kebohongan bukan lagi hal yang dapat membuat manusia malu. Jarang yang berani menegur, bahkan sudah menjadi budaya. Slogan “Ada pabbalu”, dalam bahasa indonesia berarti itulah kata-kata penjual, seakan sudah menjadi legitimasi, bahwa penjual itu pasti berbohong.

Kebiasaan yang membudaya tanpa filter ini kemudian menjadi bias terhadap pelanggaran norma lain. Ketika petugas menahan kendaraan kita, lalu kita lolos setelah kita dimintai bayaran sejumlah uang yang tidak mengikat tetapi tertentu jumlahnya (seakan-akan sudah disepakati).

Jika kendaraan bermotor jumlah setoran akan berbeda dari kendaraan mobil. Jenis mobil pun tertentu dan bervariasi jumlah bayarannya .

Contoh fenomenal penjual tuak tadi, tidaklah menunjukan masyarakat tidak tahu. Hanya cara merespon saja yang berbeda. ketika pemerintahan ditingkat pusat dan daerah dengan DPR dan DPRD berbohong dalam penentuan dan penetapan anggaran suatu proyek.

Antara pembayar dan yang dibayar masing-masing diam dan memaklumi. Bahkan kebohongan-kebohongan yang dilakukan ditutupi bersama seolah-olah kedua belah pihak sudah melakukan hal yang wajar-wajar saja.

Loading...