Pentingnya Diagnosa Kesulitan Belajar

Diagnosa Kesulitan Belajar

Setiap anak didik datang ke sekolah tidak lain kecuali untuk belajar agar menjadi orang yang berilmu pengetahuan di kemudian hari.

Prestasi belajar yang memuaskan dapat diraih oleh setiap anak didik jika mereka dapat belajar dengan wajar, terhindar dari berbagai ancaman, hambatan, dan gangguan. Namun, sayangnya ancaman, hambatan, dan gangguan dialami oleh anak didik tertentu. Sehingga mereka mengalami kesulitan dalam belajar.

Dari sinilah diperlukan adanya diagnosia untuk mengetahui kesulitan belajar yang dihadapi siswa serta untuk mencari pemecahannya.

Awalnya, diagnosa merupakan istilah kesehatan dengan makna upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weaknees, disease) apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang seksama mengenai gejala-gejalanya (symptons). Sehingga diagnosis kesulitan belajar adalah upaya mengetahui kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana siswa tidak dapat belajar secara wajar, disebabkan adanya ancaman, hambatan ataupun gangguan dalam belajar.

Siswa yang mengalami kesulitan belajar adalah siswa yang tidak dapat belajar secara wajar, disebabkan karena adanya beberapa faktor sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Dari faktor-faktor tersebut sehingga dapat diketahui gejala-gejala yang bisa diamati oleh orang lain, guru, ataupun orang tua.

Opini Terkait
1 daripada 302

Pemecahan kesulitan belajar dapat dilakukan dengan cara melakukan diagnosis. Dalam melakukan diagnosis diperlukan adanya prosedur yang terdiri dari atas langkah-langkah tertentu yang diorientasikan pada ditemukannya kesulitan belajar jenis tertentu yang dialami siswa. Prosedur seperti ini dikenal sebagai diagnosis kesulitan belajar.

Memang pada kenyataannya diagnosis kesulitan belajar kurang sekali diperhatikan sekolah. Padahal melalui diagnosa, akan dapat diketahui letak kelemahan belajar anak didik. Jika kelemahan sudah ditemukan, maka guru atau pembimbing sebaiknya mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan guna menolong siswa tersebut.

Weener dan Senf merilis dari hasil penelitiannya mengenai step diagnosis kesulitan belajar, yaitu; 1) Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran; 2) Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar; 3) Mewawancarai orang tua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar; 4) Memberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa.

Namun demikian, jauh sebelum melakukan diagnosis kesulitan belajar siswa, tak kalah penting bagi pihak pendidikan untuk menentukan potensi siswa. Potensi yang dimiliki anak pastilah berbeda-beda. Biasanya potensi anak didasarkan pada tes intelegensi.

Oleh karena itu setelah identifikasi anak kesulitan belajar dilakukan, maka untuk menentukan potensi anak diperlukan tes intelegensi. Selain daripada itu untuk menentukan potensi anak dapat dilakukan dengan meneliti pekerjaan rumah, meneliti tugas kelompok, dan melakukan tes prestasi/hasil belajar.

Komentar
Loading...