Beragam Sikap atas Perceraian Ustad Abdul Somad (UAS)

Perceraian Ustad Abdul Somad (UAS)

Perceraian Ustad Abdul Somad (UAS) dengan istrinya Mellya Juniarti, menyisakan tanggapan dan sikap beragam yang beredar di publik. Pertama, ada yang biasa-biasa saja, dan menganggap hal itu wajar, karena memang talak adalah tindakan yang dibolehkan meski dibenci Allah swt.

Kedua, ada yang berubah sikap terhadap sang ustad. Tidak nge-fans lagi, tidak mengidolakan lagi, tapi diam tidak berbuat apa-apa. Hati kecilnya, seakan tidak menerima UAS menceraikan istrinya, karena kata cerai konotasinya negatif, belum lagi menyisakan status baru terhadap mantan istrinya. Tapi memilih diam, karena tahu, itu adalah hak dan privacy seseorang dan keluarganya.

Ketiga, perceraian Ustad Abdul Somad disikapi radikal. Tampil mengecam sang ustad. Mereka tidak sekedar berpindah idola, tapi nyinyir habis-habisan terhadap mantan idolanya. Banyak kata terlontar. “Tidak menghargai wanita lah.” “Berpindah ke lain hati lah.” Bahkan ada yang sebar gosip, kalau perceraian itu karena adanya pihak ketiga.

Bagaimana sikap kita melihat masalah keluarga UAS?

Pertanyaan sebenarnya sifatnya umum dan berlaku untuk siapa saja dan keluarga siapa pun. Bukan hanya sikap kita atas perceraian Ustad Abdul Somad. Siapa saja; publik figur, idola, atau bahkan keluarga sendiri. Tidak bisa dipungkiri, seorang publik figur yang menceraikan istri dengan orang biasa, tentu mempengaruhi cara kita menilainya. Di situlah letak ujiannya.

Sikap terbaik adalah sikap pertama poin sebelumnya. Kita hanya bisa mencampuri jika diminta, merasa mampu untuk membantu, dan untuk maslahat. Jika tidak, diamlah. Dan tak perlu berubah sikap kepada salah satunya.

Dalam sejarah Islam, Hafsah istri Nabi saw, pernah bersikap sehingga mengundang kemarahan Rasulullah saw. Bahkan beredar kabar bahwa Hafsah akan diceraikan.

Mendengar hal itu, Umar ibn Khattab merasa malu dan marah kepada Hafsah, dan dengan emosi dia mendatangi puterinya kemudia menasehatinya agar bersikap baik dan tidak membuat Rasulullah saw marah.

Selepas itu, Umar bin Khattab bertemu dengan Ummu Salamah yang juga masih kerabatnya. Lalu dia menyampaikan permasalahan puterinya kepada Ummu Salamah. Ummu Salamah justeru mengkritisi sikap Umar yang terlalu jauh masuk ke dalam urusan rumah tangga puterinya, dia berkata,

“Engkau ini mengherankan wahai Ibnu Khattab, engkau ingin ikut campur dalam segala urusan, bahkan engkau ingin ikut campur terhadap urusan Rasulullah saw dengan para isterinya.”

Kedua, menjadi istri ustad, istri ulama, memang membutuhkan pemahaman, kesabaran berlapis dan lebih tinggi dari istri selain ustad atau istri ulama. lho kok seperti itu? Iya! Karena seorang ustad, ulama, menghabiskan waktunya untuk melayani, mengajar, mengisi pengajian, sekaligus muthalaah, dan hal terkait umat lainnya. Sehingga waktu untuk istrinya tersita untuk itu.

Opini Terkait
1 daripada 303

Tak banyak orang bisa menjadi ulama, ulama sangat sedikit, di tengah permintaan kebutuhan umat yang sangat banyak. Sehingga jika wanita yang ditakdirkan menjadi istrinya, bersikeras mendapat perhatian seperti istri-istri lain, lalu siapa yang akan melayani umat?

Abu Bisyr Amr bin Utsman bin Qanbar Al-Bishr, seorang ulama ahli tata bahasa Arab abad ke VII yang lebih dikenal dengan nama Sibawaihi, adalah sosok ulama yang tampan. Dalam catatan sejarah, dia dikenal dengan orang yang harum seperti bau apel. Alim, tampan, berbau harum, wajar jika wanita berharap menjadi istri mendampinginya.

Sibawaihi menikah pertama kali dengan seorang wanita yang sangat mencintainya. Namun, itulah ulama. Sibawaihi, sibuk menulis karyanya yang sangat terkenal sampai sekarang berjudul al-Kitab. Siang malam, Sibawaihi sibuk muthalaah, sehingga waktu untuk istrinya tersita.

Istrinya merasa jengkel, cemburu karena merasa kurang mendapat perhatian. Suatu hari saat Sibawaihi ke pasar untuk membeli kertas, sang istri membakar semua tulisan Sibawahi. Habis tanpa sisa.

Sepulang dari pasar, Sibawaihi bertanya, mana lembar-lembar tulisannya. Dengan enteng istrinya menjawab, “Sudah saya bakar.” Sibawaihi pingsan, dan dengan alasan itu dia menceraikan istrinya.

Kita juga bisa belajar dari cara Imam Syafi’iy saat mencari istri. Saat Imam Syafi’iy sudah menjadi alim, terkenal, banyak orangtua ingin menikahkan anak perempuannya dengan sang ulama. Simpel, Imam Syafi’iy mengajukan syarat, “wanita itu harus shalehah, dan mengerti statusnya sebagai ulama.”

Saya tidak ingin mengatakan bahwa Mellya Juniarti tidak bisa menjadi istri ustad, istri ulama, tapi poin kedua ini ingin menegaskan bahwa wanita di samping seorang ulama memang memiliki tantangan baru yang berbeda dengan istri dari suami yang bukan seorang ustad atau ulama.

Ketiga, masalah keluarga orang lain, jangan menjebak kita kepada hal yang justru menjadi ladang dosa. Mendengar orang bercerai, kita sibuk mengira-ngira, dan berburuk sangka. Buat apa? dan bukankah sebagian dari berburuk sangka itu adalah dosa.

Lebih jauh, ada yang mendengar selintingan berita lalu menjadi bahan pembicaraan yang mengundang prasangka-prasangka baru, yang akhirnya menjadi fitnah. Bukankah fitnah itu lebih kejam dari fitnes, eh membunuh?

Bercerita tentang seseorang dan itu benar bisa menjadi ghibah. Ghibah itu seperti memakan bangkai saudara sendiri. Bercerita tentang orang lain dan itu tidak benar, menjadi fitnah, dan itu seperti membunuh. Semuanya buruk.

Adakah pilihan lain? Diamlah, dan berlindunglah kepada Allah swt agar terhindar dari hal-hal seperti itu!

Perceraian Ustad Abdul Somad, bagi sebagian orang yang mengidolakannya adalah ujian. Ujian bagaimana bersikap atas perceraian itu dan menjadikan pelajaran. Bagi sebagian orang yang membencinya adalah kesempatan, kesempatan mencocok-cocokkan hal, lalu menggorengnya, mengaduknya menjadi adonan ghibah atau fitnah!

Komentar
Loading...