Perhatian Kita Terhadap al-Quran

Al-Quran sebagai makhluk menjadi perdebatan teologi masa lalu. Kaum Hanabilah dan Asy’ariyah menyatakan bahwa al-Quran bukanlah makhluk. Berbeda dengan sebagian kaum Muktazilah, menyatakan jika al-Quran adalah salah satu makhluk Allah swt. (Baca: al-Quran Direvisi)

Artikel kali ini, sama sekali tidak terkait dengan perdebatan teologi itu, namun jauh dekat berkaitan. Ya, andai al-Quran adalah makhluk seperti manusia yang memiliki rasa kemanusiaan, dia akan cemburu. Sampai di mana perhatian kita terhadap al-Quran.

Hakikat al-Quran ada dalam diri manusia, fisiknya disebut mushaf. Memperhatikan hakikat al-Quran bagi manusia ammi, dengan cara memperhatikan mushaf al-Quran, dan memperhatikan mushaf al-Quran dengan cara membacanya. Bukan membelikan dan menempatkannya, pada wadah emas, bukan membeli al-Quran dari tinta emas, bukan dan bukan. Tuhan cuma memerintahkan al-Quran dibaca sebagai langkah pertama untuk diamalkan.

Perintah Tuhan untuk membaca al-Quran, bukan tanpa imbalan, meski sebaik-baik amal tanpa mempertimbangkan imbalan yang dijanjikan. Banyak janji Tuhan kepada para pembaca al-Quran; “Barang siapa membaca al-Quran satu huruf, dalam keadaan wudhu, pahalanya 10. Dalam salat, pahalanya 100, dan seterusnya.

Demikian pula beberapa penelitian ilmiah mengungkapkan, kalau membaca al-Quran berdampak baik terhadap kesehatan fisik secara umum dan kesehatan wajah secara khusus.

Namun, bagaimana perhatian kita terhadap al-Quran? Apa yang telah kita lakukan terhadap al-Quran?. Tidakkah kita membuatnya cemburu?. Andaikan dia (al-Quran) adalah makhluk, saya yakin dia akan cemburu.

Dalam era teknologi, keseharian kita lebih sering menyentuh dan bercanda dengan gadget mahal kita. Notifikasi twitter atau facebook tak henti, pun menimpa penulis. Bagi para kutu buku, berapa ribu halaman bisa ditamatkan dalam seminggu?. bagus. Namun pernahkah kita mengulang halaman mushaf al-Quran yang hanya tiga ribuan dalam seminggu?.

Opini Terkait
1 daripada 304

Bagi para penulis, pernahkah kita mencoba mengambil rujukan dari al-Quran yang mulia sebagai rujukan ilmiah terbaik kita?, yang dengan demikian kita juga membacanya?.

perhatian kita terhadap al-Quran.

Anak-anak kita paksa menghapal dan menamatkan buku-buku pelajaran mereka setiap hari, kalau iya, paernahkah kita memikirkan kalau dia sebagai muslim membaca al-Quran walau hanya satu ayat sehari?. Ibu-ibu, hapal jadwal sinetron dan gosip televisi yang berlarian antri setiap saat.

Pernahkah kita (duhai Ibu-ibu) menambah perhatian kita terhadap al-Quran, mungkin dengan cara menghapal ayat al-Quran walau satu ayat saja perhari, agar Yusuf Mansur tak sibuk berkampanye?.

Jawabannya tentu lebih condong pada TIDAK !!!. Pernahkah kita berpikir, jika kita memberi perhatian berbeda pada dua hal yang kita sayangi, maka salah satunya akan cemburu?.

Kenapa kita tidak pernah berpikir sama pada mushaf al-Quran sebagai perwakilan hakikat al-Quran? Sudah cukup banyak pertanyaan saya kepada anda, saya, dan kita. Tak perlu dijawab, cukup disadari saja. Hidup hanya sekali.

Tak ada kehidupan setelah dunia pun, maka tak rugi memperhatikan al-Quran dengan membacanya. Agar kita mencoba adil terhadap al-Quran, agar al-Quran tidak cemburu. Bersyukurlah, al-Quran bukan makhluk, dan rasa cemburu itu tak ada padanya. Cemburu karena perhatian kita terhadap al-Quran entah masih ada atau tidak

 

Komentar
Loading...