Persaingan di Dunia Maya, dan Kita Hanya Jadi Penonton

Persaingan di Dunia Maya

0 125

Kita seakan tak bisa lepas dari perangkat kecil bernama ponsel dengan akses internetnya. Sekarang, bangun tidur yang dicari adalah ponsel, yang di cek adalah apa yang terjadi di dunia maya, media sosial, dll. Sebagai kasta terendah di dunia maya, otomatis kita sebagai pengguna hanya akan jadi korban. Korban persaingan dunia maya yang kian seru, dan kita sampai hari ini hanya menjadi penonton.

“150 juta jiwa penduduk indonesia.” Salah satu lirik lagu Rhoma Irama, yang saat lagu itu dibuat jumlah penduduk Indonesia memang demikian. Kini, 150 juta penduduk Indonesia adalah pengguna media sosial, media sosial yang diakses dengan perangkat digital tentunya. 88% dari 150 juta itu adalah pengguna Youtube, salah satu platform yang disediakan oleh Google, gratis. Di dunia, pengguna “rumah” dengan fitur upload video, nonton video oleh pengguna ini mencapai 1,8 milyar orang.

Apakah pemilik rumah dalam hal ini Google sibuk dengan 1,8 Milyar orang itu? Apakah google berpikir tentang transportasi, terasi dan konsumsi para pengguna? Tidak!, meraka hanya menyediakan tempat. Pengguna sebagai kasta paling rendah membuat video, menguploadnya, mungkin juga sebagai penonton dari video pengguna lain.

Setelah video diupload, maka hak pengguna atau pemilik video berkurang dan dibatasi oleh beberapa aturan pemilik rumah. Contoh kecil, saya punya video dan saya memiliki akun di Youtube. Beddu juga pengguna, dan video saya tadi diupload di akunnya. Maka dalam konteks ini, Youtube akan menganggap pemilik video saya tadi adalah Beddu.

Kekuasaan Google di dunia video sebenarnya hanya secuil dari beberapa wilayah kekuasaan raksasa perusahaan ini di dunia maya. Sebelumnya, sejak 1990 an, search Engine atau mesin pencari sudah dirajai mengambil alih kedigdayaan Yahoo. Muncullah istilah “semua ada di Google.” Karena orang mencari sesuatu melalui browser dengan mesin pencari Google. Bahkan tak sampai di situ, Chrome sebagai browser pun milik Google.

Hampir semua dimiliki dan disediakan. Anda punya data disimpan di komputer, takut hilang. Simpan di drive saja. Lagi-lagi Google menyediakan platfrom seperti itu melalui Google Drive. 15 GB buat kita, gratis. Anda akan mengirim surat elektronik, berpikir ringkas tak usah repot membuat, Google menyediakan itu dengan Gmail-nya. Lagi-lagi, gratis. Bahkan lebih jauh, saya melihat justifikasi kebenaran pengetahuan, kendalinya akan dipegang oleh Google melalui Google Scholar. Mengenai hal ini, akan saya tulis pada edisi selanjutnya.

Siapa saingan Google? Tak lain adalah Facebook. Mahakarya Mark Zuckerberg ini memiliki pengguna 1,6 miliar lebih pada tahun 2019 dan terus meningkat. Mark melihat peluang bahwa ada yang tidak disediakan oleh Google (waktu itu masih tanpa saingan), yaitu jaringan pertemanan dan interaksi sosial. Dibuatlah platform pertemanan. Pengguna membuat akun dan antar pengguna diciptakan ruang lebar untuk saling berinteraksi.

Sama dengan Google, apakah Mark sibuk mengurusi 1,6 milyar penggunanya? Tidak! Facebook tidak membuat apa-apa, tidak membuat status, tidak membuat video, tapi para pengguna dibuatkan tempat, ruang dan desain untuk melakukan itu. Konten datang sendiri dari pengguna untuk pengguna, saling komentar, menghabiskan waktu pengguna untuk melihat, mengomentari konten pengguna lain. Interaksi terjadi antar pengguna yang jumlahnya mencapai seperempat penduduk bumi. Dan Mark menjadi orang terkaya kedua di dunia tanpa sibuk mengurusi pengguna. Dia hanya duduk manis saja.

Soal interaksi, Facebook tak mau ada yang menyainginya. Saat muncul aplikasi pesan singkat Whatsapp oleh Jan Koum. Tahun 2014, Facebook mengakusisinya dengan harga 19 milyar Dollar. Fantastis, di Indonesia pengguna aplikasi ringan ini mencapai 120 juta orang.

Sebenarnya, masih banyak platform lain yang melirik potensi lain di dunia maya yang mencoba bersaing dengan dua raksasa Google dan Facebook. Ada Alibaba yang menyediakan rumah dalam bentuk pasar. Jadi, pengguna bisa membuat toko, kios maya di Alibaba.

Apakah Jack Ma sebagai pemilik Alibaba sibuk menjual, membuat toko? Tidak! Ratusan juta penjual online di Alibaba membuat Jack Ma akhirnya masuk sebagai jajaran orang terkaya di dunia. Ibarat dunia nyata, saya memiliki lahan yang ditempati jutaan orang sebagai penjual, pembelinya milyaran. Kira-kira tukang parkirnya, kaya nggak? Itu tukang parkirnya lho… heheheh

Di Indonesia, ada beberapa yang mirip dengan Alibaba, sebut saja Tokopedia, Lazada, Bukalapak, dll, yang konon hasilnya ke singapura. Entahlah…

Lalu kita di mana? Ya, kita sebagai pengguna. Pengguna perangkat kecil dengan akses internet untuk membuat kaya para raksasa ini. Bangun pagi, cek pesan masuk melalui WA. Siang ke kampus, kantor, butuh bahan, cek di Search Engine milik Google. Tersesat gunakan Google Maps. Ada waktu update status Facebook, dan seterusnya.

Kamu kok nyinyir begitu? Kan bisa simbiosis mutualisme. Mereka membutuhkan kita, kita manfaatkan dia. Kita jadikan WA tempat jualan, Facebook sebagai penghasil uang, di Alibaba kita membuat toko online, di Google kita menyimpan data kita, dll. Biarkan saja mereka kaya, mari kita manfaatkan karya mereka.
Saya tidak berpikir ke sana, karena tanpa hal itu pun kita bisa lakukan di dunia maya. Ada poin besar yang mengusik perasaan saya;

Pertama, masih adakah hal privacy yang kita punya sebagai makhluk yang hidup bersama dengan milyaran manusia lain? Bahkan alamat saja, Google Maps lebih tahu dari kita. “Setelah 20 meter belok kiri dan tujuan Anda berada di sebelah kiri.” Pernah dengar kalimat sejenis ini bukan?

Semua data yang digunakan oleh pengguna disimpan oleh para raksasa dalam server database mereka. Anda pernah chat aneh -aneh di Facebook di WA. Kalau Mark marah, dia bisa saja buka data chat kamu lho.

Kedua, ketergantungan. Ketika ada yang mengetahui kebutuhan kita, maka dengan mudah dibuatkan sesuatu untuk kebutuhan kita. Contoh, saya tahu kebutuhan Anda, lalu saya siapkan, gratis. Hampir semua hal demikian, maka dengan mudah Anda akan tergantung sama saya.

Untuk mengukur hal ini sederhana. Bisakah kita tidak mengakses internet, tidak ber-facebook ria, tidak WA, seminggu saja? Jawaban dari pertanyaan ini, itulah bentuk ketergantungan.

Ketiga, keamanan Nasional. Ah ini terlalu jauh. Tak usah dibahas ya…

Hmmmm… kenapa negara tak membuat rakasasa seperti ini juga ya? China telah memikirkan hal itu dengan Baidunya, dan semua warganya diwajibkan menggunakan itu, dan kita masih jadi pengguna. Pengguna sekaligus penonton.

Komentar
Loading...