Masjid al-Aqsha dalam Isra’ Mi’raj Nabi saw

Kemarin saya menulis rentetan tweet yang singkat seputar Isra’ dan Mi’raj Nabi saw. Dalam kultwet (istilah tweet berseri) tersebut, saya mencoba menjabarkan seputar Isra’ dan Mi’raj Nabi saw berdasarkan penafsiran kata demi kata QS. al-Isra ayat 1, namun sebenarnya dalam perjalanan berikutnya, kultwet tersebut hanya sampai pada kata ‘lailan’ saja.

Hal ini saya lakukan karena kata Masjidil Aqsha dalam lanjutan kata lailan, menjadi polemik setidaknya dalam pemikiran saya.

Sebagaimana dipahami oleh para pemerhati Islam, bahwa gerakan penghancuran Islam sejak wafatnya Nabi saw, adalah melalui hadis. Melalui hadis itulah menghasilkan gagasan, interpretasi, sehingga kemudian dalam ilmu hadis ada istilah hadis dhaif (lemah) dan hadis maudhu (hadis palsu). Hadis palsu tersebut dalam pengamatan saya, hampir pada semua aspek kehidupan. Sebut saja, “perbedaan adalah rahmat.” Hadis yang rutin digemborkan di wilayah muslim mayoritas.

Dalam dunia sufi misalnya, “siapa yang mengenal dirinya, mengenal Tuhannya.” Dan masih banyak hadis lemah lain, juga hadis seputar Isra’ dan Mi’raj Nabi saw.

Sampai detik ini, entah kenapa tidak ada klarifikasi dari para cendekiawan muslim mengenai kata ‘masjidil haram’ dan kata ‘masjidil aqsha’ dalam surah al-Isra ayat satu. Jika sepintas melihat ayat ini, maka pemikiran kita akan megarah kepada, masjid di Makkah, dan Masjid di Yerussalem.

Hadis yang menjelaskan mengenai hal ini mengungkapkan bahwa masjid al-Aqsha di Yerussalaem adalah tiang tinggi menjulang ke atas, lebih diperkuat lagi dengan ungguhan poto berjudul the dome of the rock. Dalam poto tersebut digambarkan bahwa masjid al-Aqsha berkubah emas dengan warna kuning kemilau.

Opini Terkait
1 daripada 302

Dalam catatan sejarah, peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi saw, jauh sebelum dibangunnya masjid al-Aqsha, bahkan ada penelitian menyebutkan, bahwa pada masa itu di Yerussalaem tempat singgah Nabi melakoni Isra’ dan Mi’raj, hanya terdapat bongkahan batu tempat sujud. Ada benarnya juga, jika dari sisi bahasa, maka kata Masjid sudah relevan, karena masjid berarti tempat susjud.

“Maha suci Allah yang memperjalankan hambanya dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha, yang diberkati sekelilingnya…..” demikian arti tekstuil ayat surah al-Isra ayat 1.

Dari arti ayat yang tertulis miring dan bold, hati saya protes. Betulkah berkah Allah di sekitar Masjid al-Aqsha adalah pertikaian yang tak kunjung usai antara Muslim Palestina dengan dukungan Bangsa Muslim dunia dengan Israel?, bahkan pertikaian tersebut tertera dalam literatur jauh sebelum kelahiran Nabi saw.

Jika arti kata masjid al-Aqsha didekati dengan pendekatan bahasa, maka al-Aqsha artinya jauh, atau masjid yang jauh. Dalam surah an-Najm digunakan kata penggambaran peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi saw denga kata ‘adna al-Ardh’ yang berarti Negeri yang dekat.

masjid aqsha

Berdasarkan kronologi ayat lain, maka ‘adna al-ardh’ dalam surah Rum adalah Palestina, sesuai ramalan bahwa Roma dikalahkan oleh negeri terdekat, dan negeri terdekat itu adalah Palestiana.

Jadi?… peribadi jadi bimbang… Langkah awal saya meyakini, kalau masjid al-Aqsha adalah masjid yang jauh sesuai arti kata al-Aqsha, dan tempatnya belum jelas setidaknya bagi saya. Karena tak elok menjustifikasi sebuah tempat hanya berdasarkan nama yang sama, yaitu masjid al-Aqsha di Paletina.

Komentar
Loading...