Prediksi Saya tentang Virus Corona dan Kita sebagai Manusia. Jangan Percaya!

Prediksi tentang Virus Corona

Prediksi adalah proses perkiraan secara sistematis mengenai suatu fakta dan kejadian. Prediksi saya tentang bagaimana corona dan bagaimana kita ke depan terkait corona, juga demikian.

Prediksi tidak sekedar menduga atau mengira. Asumsi suatu prediksi sangat besar dipengaruhi oleh sumber pengetahuan orang yang memprediksi. Apa yang saya baca, apa yang saya dengar, itulah yang menghasilkan prediksi saya tentang corona, virus asal Wuhan ini.

Ada banyak pertanyaan terkait virus yang sudah hampir melumpuhkan negara Adidaya, Amerika, yang belum terjawab. Kita pun jangan menghabiskan waktu untuk menjawab hal itu. Hanya jika ada waktu luang, coba renungkan, bagaimana corona ini kedepan? Bagaimana kita, apa kita harus seperti ini terus? Dan pertanyaan lain tentunya.

Kapan wabah corona ini akan berakhir?

Pertanyaan ini kerap muncul berbarengan dengan rasa kesal dan putus asa. Penghasilan tak ada, makan susah, hidup susah, jemaah di masjid tidak boleh. Ya Tuhan, kapan pandemi akan berakhir?

Kapan semuanya akan kembali seperti semula? Bisa aman dengan iman, tanpa sibuk dengan imun. Bisa berjamaah lagi, bisa ketemu dengan banyak orang, bisa nge-warkop, dan bisa-bisa seperti sebelumnya.

Maaf, prediksi saya mengajak kita untuk hal yang kurang menyenangkan. Ada banyak pernyataan, misalnya saja WHO pernah merilis, kalau virus tak pandang bulu ini akan turun pada bulan ini dan bulan itu.

Tapi, itu semua bukan jawaban pasti dan terkesan hanya ingin membuat masyarakat lebih tenang! Prediksi saya, virus ini tak akan hilang seperti saat nyamuk yang disemprot, dan semua habis, hilang dan mati. Tak perlu membahas temuan baru bagaimana corona covid 19 berinkubasi, bermetamorfosis, dan ber ber lainnya.

Prediksi saya, corona tidak akan hilang, tapi corona akan berdamai dengan kita. Maksudnya? Ya, corona akan tetap ada, tapi manusia sudah terbiasa. Seperti halnya flu, yang pada awal munculnya bahkan menewasan banyak orang di Spanyol. Toh akhirnya, kini virus penyebab influeansa, berdamai dengan manusia.

Banyaknya virus dan anti bodi manusia yang terbentuk karena stimulus corona akan membentuk herd immunity yang kuat. Sayangnya, itu akan terjadi dengan rentan waktu yang lama.

Harapan kita satu-satunya, adalah vaksin yang sudah diuji secara klinis, vaksin itu lalu diproduksi secara massal, disebarkan ke seluruh dunia, sehingga menghentikan penyebaran akibat virus corona.

Mana dan kapan vaksinnya akan dibuat? Berita baiknya, hampir semua negara hebat dan memiliki tenaga ahli untuk itu bekerja sekuat tenaga. Jerman sempat bersitegang dengan Amerika, karena Trump menekan, jika vaksin buatan Jerman sudah jadi, Amerika akan membelinya dan menguasai haknya secara total. Jerman menolak.

Kabar buruknya, mereka menyebut bahwa seluruh rangkaian proses pembuatan vaksin ini setidaknya memerlukan waktu 18 bulan. Gen, anti gen, pembuatan, pengujian pada hewan, pengujian pada manusia, produksi, dst.

eknograpik vaksin corona-min
Eknografik vaksin Corona. Sumber: katadata.co.id

Lalu, apakah kehidupan kita akan seperti ini terus?

Meski banyak yang menganggap telat, physical distancing yang dilanjutkan dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), akhirnya dilakukan. Pada awalnya, semua itu akan sangat sulit dilakukan. 14 hari selesai, pandemi masih ada, lanjut lagi. Sampai kapan?

Dalam teori psikologi, minimal 21 hari, manusia akan terbiasa dengan sesuatu meski sesuatu itu sangat sulit. 18 bulan menunggu vaksin hingga terbentuknya herd immunity secara tidak langsung akan membentuk kebiasaan baru. Kebiasaan berbeda, ada yang normal ada yang tidak normal

Sebuah tulisan menarik dari Fahd Pahdepie, mengistilahkan hal ini dengan  ‘the new normal’, kebiasaan baru yang akan dianggap normal. Menurutnya, manusia akan terbiasa karena dipaksa untuk itu, sehingga kebiasaan yang awalnya paksaan itu akan beradaptasi dan dianggap normal.

Prediksi saya akan kebiasaan baru itu, ada yang tantangannya mudah, ada yang sulit, dan ada yang tidak mungkin dilakukan. Poin akhir inilah yang akan menjadi pertarungan sosial baru dalam menghadapi virus Corona.

Kebiasaan dengan tantangan mudah

Kelak, manusia akan tahu pentingnya kebersihan. Tak heran lagi jika di tempat umum menggunakan masker, wanita bercadar bukan lagi teroris mereka tidak bercadar, mereka memakai masker.

Kebiasaan cuci tangan akan kembali digalakkan, cuci kaki, menjaga jarak, tidak interaksi sembarangan, intinya semua harus bersih.

Kesemua itu masih tergolong mudah, karena memang hal itu dianjurkan sebelumnya.

Opini Terkait
1 daripada 302

Kebiasaan dengan tantangan sulit

Kabar beberapa kasus, pasien terpapar corona melalui belanjaan akan membuat dunia maya akan mengambil hak lebih banyak dari dunia nyata.

Karena pandemi corona, kita akan terbiasa dengan pertemuan online, video conference, pembelajaran dalam jaringan (daring), menjual dan belanja online. Kesemua itu kelak bukan lagi karena menghindari kemanan dari corona, tapi kita sudah beradaptasi dengan semua itu.

Tentu menjadi hal sulit, di mana para pengguna dunia maya hari ini hanya sekedar menggunakan, dan lengah dari persoalan data. Kita lengah dari perang data.

Contoh kecil, para pengguna daring Zoom, mereka hanya sekedar menggunakan, tanpa sadar, semua data kita terkait penggunaan aplikasi itu terbaca dan terekam dengan baik dan bisa digunakan oleh pemilik aplikasi.

Kita masih ribut dengan penggunaan kuota, tapi tak sadar kalau tantangan kita sebenarnya adalah penyalahgunaan data.

Baca: dari mana keuntungan Facebook dan Google

Kebiasaan yang tidak mungkin

Tak semua hal bisa dilakukan melalu daring. Berjamaah, tak mungkin dilakukan via video conference. Menunaikan haji tak mungkin melalui internet. Ada banyak hal, dan semua itu akan bertentangan dengan adaptasi dari kebiasaan baru kita saat menghadapi corona.

Apakah larangan jemaah akan berlaku selama setahun? Sepertinya, jawaban dari pertanyaan ini, tidak mungkin. Kalau toh masjid di tutup, akan muncul masjid-masjid kecil di rumah masing-masing.

Masyarakat agamis yang tersiksa dengan ulah Corona, akan mencoba melawan dengan lebih nekat dan radikal. Syukur-syukur, kalau mereka menjadi pemenang, dan tidak menularkan ke yang lain.

Masyarakat juga akan jenuh dengan pelarangan berkerumun. Mereka akan beradaptasi hanya dengan hal yang mudah tapi tidak dengan yang terkait adat dan keagamaan mereka seperti dulu.

Mereka ingin melakukan hajatan, ma barsanji, pesta pernikahan, kumpul-kumpul. Mereka akan melawan, namun tetap melakukan kebiasaan baru yang mudah.

Aplikasi digital memang dengan mudah menggantikan ruang-ruang publik konvensional, tapi tidak dengan ruang publik keagamaan. Dan tantangan ini yang menurut saya akan sangat sulit kelak.

Manusia akan menang melawan wabah apapun

Corona covid 19 memang membuat kita panik, tapi dia tidak akan menang melawan manusia. Ingat bahwa manusia, kita ini adalah khalifah di muka bumi. Kita wakil Tuhan di muka bumi. Jangan takut! Corona tidak mampu mengalahkan manusia!

Ada ratusan virus menjangkiti dan mewabah menyerang sepanjang peradaban manusia, dan tak satupun mampu menggantikan posisi manusia.

Yuah Noval Harari, profesor sejarah dari Hebrew University of Jerusalem, mengatakan, mungkin memang akan ada banyak kematian, tetapi kehidupan baru terbuka dari sana. Manusia selalu menang melawan wabah. Kita selalu berhasil melewati masa-masa sulit dan kelam.

Lalu apa yang paling tepat kita lakukan sekarang?

Pertama, ikuti anjuran pemerintah, ulama, para ahli. Satu kata! Jangan ngeyel. Pergerakan virus corona sudah terbaca dengan baik, kita sebagai manusia awam tidak tahu. Olehnya itu, ikuti yang tahu akan hal itu.

Kedua, berdoalah. Berdoa agar vaksin corona cepat ditemukan. Vaksin menurut saya satu-satunya harapan ilmiah kita saat ini.

Dengan doa juga bisa menjadi senjata dan melahirkan harapan yang religius. “Corona itu makhluk Tuhan, semua dalam kendali Tuhan.” Kata Aa Gym.

Ketiga, kalau prediksi ini menakutkan, jangan percaya! Kebetulan, setiap saya memprediksi sesuatu, hampir semua salah.

Semoga bermanfaat

 

Komentar
Loading...