Preman, Premanisme, dan Cara Mengatasinya

Awalnya, agak muak melihat penjelasan KADIVHUMAS Mabes POLRI ketika berdialog dengan seorang pengamat mengenai masalah preman, malam ini. Sebuah apologi cantik berhasil menyelamatkan muka kepolisian dari pertanyaan “betulkah selama ini polisi mem-beking preman.” Dengan gaya mendefinisikan ulang preman, sehingga tak mampu serta merta dibinasakan, peran lembaga lain seperti kementerian agama, dan pendidikan, menjadi alasan bahwa masalah preman bukan ranah kepolisian saja.

Asal kata preman, jelas dari bahasa Indonesia, melainkan bahasa Inggris yaitu “Free Man” dan bahasa Belanda yaitu “Vrijman” yang berarti orang bebas, merdeka, tanpa ikatan, orang yang tidak bisa diatur oleh siapapun sehingga kata preman menjadi sebuah bentuk indoktrinasi. Dari cikal bebas ini kemudian menjadi hasrat berbuat tanpa ada penghalang sesuai keinginan.

Jika melihat Kamus Bahasa Indonesia, beberapa definisi preman dan premanisme dan disinkronkan dengan kenyataan memang cukup dialektis. Istilah preman sendiri menurut kamus ini masih dalam ragam cakapan atau masih digunakan dalam ragam tak baku.

Ujungnya, premanisme identik dengan gaya hidup seperti preman, biasanya mengedepankan kekerasan. Sementara, masih dari sumber yang sama, preman itu berarti sebutan kepada orang jahat (penodong, perampok, pemeras dan lain-lain).

Kelompok preman terbagi dalam beberapa bentuk. Pertama, preman yang terikat oleh rasa persaudaraan, kesukuan atau kedaerahan. Kelompok preman ini terbentuk berawal dari rasa solidaritas kelompok yang tinggi, tak heran ada preman Batak, Betawi, Madura, Ambon, Timor de el el.

Kedua, preman yang terikat oleh organisasi kepemudaan yang kebanyakan merupakan perpanjangan tangan atau sayap partai politik maupun organisasi massa, bahkan tidak jarang terkait dengan agama tertentu, yang kemudian muncul istilah preman berjubah.

Ketiga, preman yang dipekerjakan biasanya tergabung bekerja sebagai tukang tagih utang (debt collector), bodi guard. Dan preman terakhir adalah kelompok elit yang masuk kedalam sistem, menjadi mafia penghubung para koruptor melalui bisnis percaloan meliputi percaloan dari kelas teri.

Tentu tak elok menyelesaikan masalah preman dengan berkutat pada definisi dan penjabaran bentuk. Perlu tindakan nyata untuk menciptakan rasa aman akibat ulah preman. Penulis menawarkan beberapa langkah mengatasi preman, yaitu:

Opini Terkait
1 daripada 123

Pertama, ketegasan aparat dengan melepaskan kepentingan pribadi. Diperlukan komitmen kuat dari Pemerintah melelui aparat hukum harus mau membersihkan aksi premanisme waulapun ditunggangi oleh aparat hukum sekalipun.

Kedua, menghidupkan jiwa organisasi yang sehat, mulai dari organisasi siswa, organisasi mahasiswa dan ormas maupun oragnisasi kepemudaan.

preman dan premanisme
Ilustrasi

Ketiga, memperbaiki ekonomi dan membuka lapangan kerja. Sebagai manusia seorang preman sekalipun memiliki waktu terbatas. Dengan kesibukan menghasilkan, tindakan berbau preman sedikit demi sedikit akan ditinggalkan.

Keempat, menciptakan suasana dan pemahaman pendidikan mendalam. Ketga langkah sebelumnya bahkan bisa diterapkan dalam langkah keempat ini. Kaum pendidik pun harus punya andil dengan membebaskan premanisme mulai dari sekolah.

Kelima, agamawan maupun rohaniawan yang aktif dalam membina umat. Langkah paling minim dari sini adalah mendoakan.

Dan terakhir, adalah peran keluarga. Keluarga sekaligus berperan mendidik mulai dari anak untuk jauh dari iklim kekerasan, seperti kekerasan dalam rumah tangga.

Langkah ini, memang terkesan lamban, kecuali mungkin langkah pertama. Itulah premanisme, terbentuk tidak serta merta, dan menyelesaikannya pun butuh waktu. Penulis dan mungkin seluruh masyarakat Indonesia menjadi Negara bersih preman dan premanisme bisa tercapai. Mari berjalan dalam tujuh langkah menuju Indonesia bebas preman.

Loading...