Quickcount, Realcount, Discount

0 61

Quickcount atau hitung cepat adalah metode mengetahui hasil tanpa menghitung keseluruhan. Quickcount banyak digunakan sebagai verifikasi hasil pemilihan umum yang dilakukan dengan mengambil sampel lalu menghitung persentase hasil pemilu di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Kok mesti ada Quickcount sih? Rasa penasaran dan ingin tahu dengan cepat siapa pemenang dalam pemilihan yang menjadi pemicu utama munculnya Quickcount ini.

Quickcount merupakan metode ilmiah. Misal, untuk mengetahui sekarung langsat, manis atau tidak tak perlu mencoba sekarung. Satu dua biji bisa dianggap mewakili keseluruhan. Inilah argumen pentingnya penggunaan Quickcount.

Secara pribadi saya tidak sepakat Quickcount dipublish secara umum ke publik karena akan menimbulkan kegaduhan. Praktis hanya hitungan jam saja setelah mencoblos, maka angka-angka Quickcount mulai berseliweran.

Bagi pendukung serta sebagian masyarakat, hasil quickcount ini sangat dinanti karena ingin cepat mengetahui hasil. Masalahnya, bagaimana jika Quickcount itu keliru. Hasil keliru dimungkinkan dalam semua metode perhitungan termasuk Quickcount. Itulah sebabnya kita butuh Realcount.

Kalau dalam Quickcount cukup mengambil sampel saja lalu dihitung secara cepat, maka pada realcount tidak demikian. Tak ada sampel. Semua harus dihitung satu persatu. Tentu prosesnya akan lama.

Realcount sangat penting karena lebih valid hasilnya dibanding Quickcount. Dalam analogi langsat tadi, terkadang saat mencoba langsat ternyata buah yang diambil sebagai sampel kebetulan yang pahit, akhirnya sekarung divonis pahit. Padahal, keseluruhan lebih banyak yang manis. Inilah argumen pentingnya Realcount

Quickcount akan sangat bermanfaat dibanding Realcount jika perhitunganya tepat. Namun jika salah, Quickcount akan sangat berbahaya.

Publik yang terlanjur terhipnotis dengan hasil Quickcount terkadang lupa bahwa hasil Quickcount tidak se-valid realcount, dan akhirnya muncul rasa tidak terima dan menyalahkan hasil realcount.

Dalam konteks pilpres dan copras capres, abaikan Quickcount atau paling tidak cukup dijadikan sebagai pengetahuan awal yang perlu dibuktikan lebih lanjut. Karena kelemahan quickcount ada pada pengambilan sample.

Ada yang menarik pada Pilpres 2019. Sebelum hari H pencoblosan banyak perusahaan, toko yang memberikan potongan harga atau Discount (Diskon). Tujuannya hampir seragam, yaitu penghargaan kepada mereka yang sudah menggunakan hak pilihnya dibuktikan dengan bekas tinta di tangan.

Ini menarik, selain karena jarang terjadi, bahkan pemilu sebelumnya tak ada hal seperti ini, saya merasa ada hubungan antara Discount dan Quickcount.

Pertama, jika bertanya pada emak-emak, “Pilih discount, realcount atau discount?” Saya yakin, emak-emak akan memilih discount. Sepantastis apapun kehebatan quickcount, tak mampu mengalahkan antusias mengejar discount.

Saya ingin mengatakan bahwa ajakan mencoblos untuk memotivasi orang menggunakan hak suaranya itu wajar. Yang menarik karena hal itu sekaligus bisa mengalihkan banyak orang dari hasil Quickcout, apalagi Realcount. Maksudnya, realcount butuh pengawasan, jangan terlena dengan discount.

Kedua, kembali ke analogi langsat tadi. Saat penjual langsat sudah terlalu banyak, dan buah tersimpan cukup lama dan harus dihabiskan kawatir busuk, maka disitulah terkadang penjual memberi discount. Penjual langsat tak peduli lagi dengan hasil jualannya yang real. Discount akan menjadi senjata untuk menangani masalah itu.

Discount bisa menjadi pelarian dari carut marut Quickcount dan Realcount. Sayangnya, discount pasca pilpres hilang entah kemana setelah keluarnya rilis quickcount. Ada apa?

Ketiga, quickcount sepertinya menjadi discount awal yang mengancam suasana tentram dalam bingkai persatuan. Saya tak bisa membayangkan jika hasil quickcount ternyata berbeda dengan hasil realcount. Masyarakat akan marah, dan para pemberi discount berupa quickcount abal-abal tentu tak akan bertanggungjawab, karena itu hanya trik mereka agar langsat dagangan mereka selamat dari busuk kelamaan.

Quickcount, realcount dan discount, tiga kata yang memiliki kesamaan penyebutan sepertinya akan menghiasi kehidupan berbangsa dan berneagara kita. Semoga tak ada apa-apa, tetap adem dan jaga kondusifitas!

Komentar
Loading...