Ramadhan, Pilpres dan Piala Dunia

Ramadhan kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, bahkan mungkin sampai beberapa dekade mendatang, hal ini jarang terjadi. Kalau tahun-tahun sebelumnya, melaksanakan ibadah pada bulan seribu bulan bisa lebih fokus, atau fokus hanya terpecah ke satu hal lain saja, namun tahun ini tak tanggung ada dua “pesta” bertepatan pelaksanaannya pada bulan Ramadhan, Pilpres dan Piala Dunia.

Antara Ramadhan, Pilpres dan Piala Dunia ada beberapa persamaan dan perbedaan mendasar sesuai dengan apa yang kita alami hari ini. Pribadi melihat, mengetahui persamaan dan perbedaan Ramadhan, Pilpres dan Piala Dunia penting, minimal menjadi rujukan dalam bertindak, atau sekedar menambah pengetahuan. Seperti halnya persamaan linear dalam matematika, yang bisa dijadikan turunan dalam kehidupan sehari-hari.

Ramadhan, Pilpres dan Piala Dunia, ketiganya adalah kompetisi yang memiliki tujuan akhir, yaitu menang. Ramadhan adalah bulan kompetisi melawan hawa nafsu. “Masih ada perang yang jauh lebih besar daripada perang Badar ini, yaitu perang melawan hawa nafsu,” Kata Rasulullah saw. Kalau lawan dalam Pilpres dan Piala Dunia jelas, terukur, dan menempati ruang, akan tetapi lawan umat Islam dalam melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan, justru sebaliknya, tidak nyata.

Perbedaan lainnya, kemenangan dalam Pilpres dan Piala Dunia, meniscayakan salah satunya mengalami kekalahan. Sedangkan umat Islam semuanya akan menang tanpa terkecuali pada hari lebaran 1 Syawal, meski kualitas ibadah berbeda. Yang berpuasa, yang tidak berpuasa, yang rajin shalat malam, dan yang tidak, semua menang pada 1 Syawal. Hari itu memang disediakan dan ditetapkan yang Maha Pemberi nikmat sebagai hari kemenangan. Itulah persamaan dan perbedaan Ramadhan, Pilpres dan Piala Dunia yang pertama.

Kedua, Ramadhan, Pilpres dan Piala Dunia memiliki kesamaan dari sisi aturan peserta. Seperti diketahui, dalam bulan suci Ramadhan, ada kewajiban berpuasa dan tidak untuk semua orang. Hanya orang yang beriman dipanggil oleh yang Maha Pemberi Perintah. Peserta Pilpres juga demikian. Hanya yang orang yang dimandatkan oleh partai atau koalisi partai dengan 20% parlementery threshold, atau 25% kursi DPR yang berhak maju sebagi capres. Peserta Piala Dunia apalagi. Tak semua negara bisa ikut serta, hanya perwakilan benua yang lolos kualifikasi, diikutsertakan.

Perbedaan dari sisi ini adalah kejelasan aturan. Sejak, perintah puasa di bulan Ramadhan oleh Allah swt, sampai hari ini tidak pernah berubah-ubah. Hanya yang beriman. Tanpa administrasi. Tanpa pengawas. Karena aturan itu adalah kodrat, yang bisa berpuasa di bulan Ramadhan, adalah mereka yang di hatinya ada keimanan, meski cuma sedikit. Perhatikan aturan Pilpres dan Piala Dunia, sifatnya dinamis karena senantiasa memiliki kelemahan. Tak menutup kemungkinan, 5 tahun berikutnya, peserta Pilpres bukan dari partai tapi capres independen. Seperti halnya Australia, yang dimasukan sebagai perwakilan Asia di Piala Dunia, bisa berubah.

Ilustrasi sepak bola dan pilpresKetiga, peserta Ramadhan, Pilpres dan Piala Dunia masing masing mendapatkan hadiah bagi pemenang. Hadiah bisa dalam bentuk uang, pahala, piala, atau nama besar. Perbedaannya jelas, transparansi nilai. Allah tidak menyebutkan pahala (hadiah) di bulan ramadhan, itu rahasiaNya, dan berbeda dengan ibadah yang lain. Dalam Pilpres, pemenang mutlak menjadi pemimpin, pemegang kendali utama kehidupan bernegara. Materi, nama besar, jelas berada di tangan.

Opini Terkait
1 daripada 127

Perhatikan pula janji bonus yang nilainya jelas kepada peserta Piala Dunia. Spanyol dalam kondisi krisis saja, menjanjikan setiap pemainnya mendapat kisaran 8 Milyar jika lolos 16 besar putara Piala Dunia. Perbedaan ini terkait landasan dan dasar pelaksanaan yang mana dalam puasa Ramadhan landasannya adalah iman.

Keempat, Ramadhan, Pilpres dan Piala Dunia dalam pelaksanaannya memerlukan strategi yang jelas untuk menang. Tak mudah menahan hawa nafsu dari kebiasaan keseharian seorang manusia. Strategi menghadapi bulan Ramadhan terkait dengan aturan syariah yang mesti dijamin kebolehannya. Perlu strategi menahan lapar dan haus, tapi pahala puasa tak ada jika menggunakan obat penahan lapar dan haus (baca: hukum mengkonsumsi obat penahan lapar dan haus di bulan Ramadhan). Allah sebagai “wasit” Maha Tahu. Tahu apa yang dilakukan hambanya, memakai cara benar atau tidak.

Jauh berbeda dengan perhelatan Pilpres dan Piala Dunia. Strategi meski diawasi bawaslu, panwaslu sebagai wasit dalam Pilpres, atau wasit dalam Piala Dunia, tetap saja strategi fitnah bisa lolos dan akhirnya mendapat pembenaran setelah mamapu diargumenkan. Lihat Neymar yang menjadi korban oleh strategi permainan keras Kolombia saat melawan Brazil di perdelapan final Piala Dunia. Strategi “curang” lolos, meski dilarang. Kenapa? Karena wasitnya adalah manusia yang pasti bisa khilaf.

Kelima, Ramadhan, Pilpres dan Piala Dunia memancing prediksi baik pelaksanaan, maupun step by step prosesnya yang bisa memengaruhi. Perbedaannya, dalam Ramadhan, tidak butuh prediksi seperti Quickcount dalam Pilpres atau prediksi Bola yang menjadi incaran para gambler Piala Dunia. Ramadhan jelas, bisa memakai rukyah atau hisab dalam melihat hilal (baca: kesalahan penganut hisab), atau perhitungan waktu penentuan berbuka dan imsak.

Jauh berbeda dengan Pilpres dan Piala Dunia meski Ramadhan, Pilpres dan Piala Dunia ketiganya memancing polemik perbedaan pendapat. Perhatikan prediksi pemenang Pilpres. Puluhan lembaga survey hadir, ada yang kredible, ada pula yang pesanan. Ditambah lagi media massa yang selalu memberi suport pembenaran ke lembaga survey rekanannya. Tak ada polemik berakibat kisruh berdarah tentunya dari perbedaan waktu proses bulan Ramadhan. Namun bagaimana dengan prediksi bola apalagi Quickcount ???

Terakhir, sebenarnya perbedaan Ramadhan, Pilpres dan Piala Dunia bisa diminimalisir dengan satu cara. Jika dalam Ramadhan landasannya adalah keimanan, maka hadapi Pilpres dan Piala Dunia, dengan kepercayaan terhadap pelaksana. Securang apapun wasit dalam Piala Dunia menurut Anda, sisakan secercah kepercayaan bahwa wasit itu berusaha adil. Seburuk apapun KPU cs dalam melaksanakan Pilpres, sisakan sedikit kepercayaan, bahwa mereka bekerja untuk kebaikan bersama.

Salam bahagia

Loading...