Saat Doa Ulama Ikut Berkompetisi

Doa Ulama

Ustad Abdul Somad, dai kondang sejuta umat, ilustratif memberikan dukungan ke Prabowo Subianto praktis sepekan sebelum hari H pencoblosan. Dalam setengah jam dialog bersama capres nomor urut 02, diakhiri doa sekaligus memberikan minyak wangi dan tasbih kesayangannya asal Persia.

Esoknya, ustad Adi Hidayat melakukan hal yang sama. Doa Ulama cerdas dengan ingatan hapalan super kuat ini menambah deretan doa ulama yang ikut berkompetisi, sekaligus dukungan kepada mantan jendral Koppasus sebagai tanda memberikan dukungan.

AA Gym, ulama yang teruji lulus gonjang ganjing poligami pun mendoakan capres dan cawapres 02 hari berikutnya. Doa ulama teduh berbarengan dengan ungkapan “pilihannya jatuh ke 02” seakan menambah kekuatan doa untuk mengetuk pintu langit mengharap yang terbaik.

Lalu, siapa yang tak kenal dengan Mbah Maimoen Zubair, guru para ulama, bersama ulama sufi internasional Habib Luthfi bin Yahya yang mendoakan pasangan capres nomor urut 01. Tak hanya itu, Doa duo ulama masyhur ini dilengkapi dengan pemberian sorban dan tasbih keramat sebagai simbolik dukungan.

Penulis melihat doa para ulama untuk dua pasang capres cawapres, ibarat peserta yang ikut berkompetisi. Ilusi yang buruk, seperti melihat beberapa tangan mengetuk satu pintu. Entah, siapa yang dijinkan masuk ke dalam rumah. Entah siapa permintaan yang dikabulkan sesuai apa yang diminta.

Doa ulama tentu ranah kompetisinya beda dengan kompetisi TKN dan BPN, beda dengan simpatisan, beda dengan cebong dan kampret. Perbedaan mendasar ada pada tujuan. Tujuan doa ulama murni mengharapkan kebaikan, kebaikan individu yang didoakan, lebih besar kebaikan untuk bangsa dan negara.

Para ulama berdoa bukan mengharap jabatan, bukan mengharap tenar apalagi materi. “Jangan berikan saya jabatan,” kata ustad Abdul Somad. Bukti lain, ulama yang mendoakan pasangan capres cawapres pilihannya sekaligus memberikan sesuatu yang berharga. Tasbih, minyak wangi, sorban… bukan malah meminta.

Opini Terkait
1 daripada 127

Di balik Doa tulus ulama dengan tetesan air mata, ada ilustrasi bahwa bangsa dan negara ini harus dijaga, dan itu dimulai dengan mendoakan pasangan yang berkompetisi. Pegang para kontestan, pegang kepalanya, gunakanlah doa.

Perbedaan mendasar kedua, doa ulama yang seakan berkompetisi bukan untuk menunjukan persaingan, tapi mempelihatkan keniscayaan akan perbedaan. Suer… Tuhan sengaja menciptakan manusia untuk berbeda sebagai bagian cara untuk menguji manusia.

Manusia niscaya berbeda. Jangankan manusia biasa, ulama pun berbeda. Berbeda adalah hal lumrah. Perbedaan akan menunjukan sikap dan tingkah laku. Apakah sikap dan tingkah laku itu susuai koridor, bermanfaat? Di situlah nilai ujiannya.

Ketika kita berbeda, lalu dengan perbedaan itu menfitnah, menjelekan, mengadu domba, dan hal memanen dosa yang lain, di situlah ladang dosa bagi Anda. Sebaliknya, jika perbedaan itu membuat kita makin dewasa, dan menimbulkan inovasi berbuat baik, di situlah ladang pahala buat kita.

Ulama berbeda, tapi mereka tidak saling menjelekan. Yang mereka lakukan semua menjadi ladang pahala, dan salah satunya mendoakan pasangan yang menajdi pilihannya.

Perbedaan ketiga, ulama ingin membuktikan bahwa semua doa pasti akan dijawab oleh Tuhan. Jangan katakan, ketika salah satu capres cawapres terpilih, lalu diartikan doa ulama yang mendoakan makbul dan ulama yang berbeda tidak makbul. Keliru!!!

Semua doa akan diijabah, hanya saja bentuk ijabahnya berbeda beda. Ijabah sang Maha Pemberi, sesuai kebutuhan hamba yang berdoa dan bukan sesuai keinginan hamba yang berdoa. Dan itulah pemberian yang paling baik buat hambaNya.

Saat Anda berdoa ingin kaya, selama memenuhi syarat berdoa yang baik, maka itu pasti akan diijabah. Jadi kaya? Jika kaya adalah kebutuhanmu dan jika kaya akan baik buatmu, itu pasti karena Anda adalah hamba!

Baca: menjawab teka teki doa

Tulisan ini saya paksakan di tengah waktu dan keadaan yang sulit. Saya melihat ada ancaman besar pasca pemilu serentak selesai. Dengan mudah, pikiran akan terbawa bahwa ada ulama tidak makbul doanya, dan ada ulama yang makbul doanya.

Implikasinya besar. Kepercayaan terhadap ulama, lebih jauh esensi perkembangan islam yang kendalinya di bawah tangan para ulama.

Semoga bermanfaat.

Loading...