Saat Rasa Jadi Penghalang

Saat Rasa Jadi Penghalang. Usia pernikahannya baru tiga tahun, menikah setelah pacaran selama 6 bulan. Menangis sedih, pernikahannya gersang, serasa sudah tidak ada rasa lagi katanya. Berbeda dengan suaminya yang kebetulan juga sahabat saya. Menurutnya tak ada wanita lain, pun dia masih sayang sama anak-anak. Tapi terhadap istrinya, rasa itu sudah hilang.

Keduanya lepas berbicara meneganai masalah mereka. Untuk memberikan solusi, tentu harus ditemukan sebabnya dulu. Ada beberapa kemungkinan; bisa jadi karena mereka pacaran (baca: alasan harus pacaran setelah menikah), mungkin saja ada pihak ketiga. Banyak… tapi saya tidak fokus pada masalah itu, tapi saya tertarik dengan sesuatu yang hilang dari mereka; rasa.

Berbeda dengan seorang gadis mapan, banyak pria yang ingin mempersunting dirinya yang sudah tidak bisa dikatakan muda lagi dari sisi umur. Semua ditolak! Anehnya, alasan penolakan sangat sederhana, “saya tidak ada rasa dengan dia.”

Rasa sudah hilang. Rasa belum datang. Rasa cinta, rasa sayang, atau rasa-rasa yang lain. Kemana dan di mana rasa itu? Kalau Anda ke psikiater rumah tangga, atau kepengadilan agama saat sidang perceraian, ungkapan hilangnya rasa akan kerap kita dengar. Rasa-rasanya mereka mati rasa.

Banyak orang terlalu menghamba pada perasaan. Perasaan diagungkan dan dijadikan alasan prioritas. Rasa dijadikan alasan bercerai. Ketika dalam rumah tangga, rasa dijadikan sebagai standar ukur, usia pernikahan tak akan lama. Karena perasaan itu naik turun. Rasa cinta terkadang datang menggebu, kadang hilang, dan pasangan terlihat menjengkelkan.

Di ujung sana, rasa juga dijadikan alasan menolak. Saya menolakmu karena tak ada rasa. Rasa apa? Rasa cinta katanya. Ketika seorang menolak dengan alasan rasa, maka dia membiasakan diri kehilangan rasa. Rasa cinta, rasa sayang, rindu, bisa hadir sesuai keinginan kita. Jangan menuhankan rasa.

Rasa itu tingkatannya berbeda beda. Rasa sangat dipengaruhi oleh estetika, namun sumber utama rasa adalah pengetahuan, dan epistemologi pengetahuan utama pada nalar, pikiran. Apa yang anda lihat, dengar, akan menjadi pengetahuan. Pengetahuan itu jika memiliki estetika yang sesuai naluri seni sesorang, maka akan menghasilkan rasa.

Anda seorang wanita, suka pria yang tinggi, putih, pintar, ramah. Suatu hari, anda hadir di seminar yang pematerinya seorang laki-laki. Rasa mulai hadir, karena wanita itu tahu, naluri seninya setuju kalau laki-laki itu pintar; dia pemateri.

Saat istirahat, wanita itu ke kantin. Di sana dia dilayani seorang pria tinggi, putih. Nalar akan berfungsi; tahu, dan naluri seni akan memberikan persetujuan kalau pria pelayan itu tinggi dan berkulit putih. Rasa muncul kedua kalinya.

Memasuki materi setelah istirahat, wanita itu masuk ruangan. Pematerinya pria lagi. Kali ini pria berkulit putih, tinggi, memberikan materi sangat luga menunjukan kalau dia pintar, ramah pula orangnya. Maka munculah rasa ketiga. Alangkah bahagianya wanita itu hari ini.

Opini Terkait
1 daripada 161

Tapi, bagaiaman kalau cerita kita ubah sebaliknya. Tak ada satupun pria yang hadir hari itu yang memenuhi kriteria tinggi, putih, pintar dan ramah. Pemateri dan pelayannya seorang wanita gemuk, bermata bulat hitam, jarang senyum. Maka perasaan yang muncul seperti di neraka. Alangkah gersangnya hidup ini. Iya, karena wanita itu terlalu mengangungkan rasa.

Cukup sampai di sini, kita sudah bisa menarik kesimpulan cara menghadirkan rasa dalam hidup. Pertama, hadirkan standar estetika dalam hidupmu yang paling sederhana. Tinggi, putih, pintar ramah, itu terlalu banyak. Bagaimana kalau satu saja, ramah. Toh, itu sudah bisa menghasilkan rasa. Semakin sedikit standar yang digunakan maka peluang mendapatkan sesuai perasaan akan terbuka lebar.

“Susah, rasa itu baru bisa muncul kalau dia putih.” Tidak! Anda hanya egois dan tidak mencoba mencari hal estetika yang lain.

Kedua, biasakan diri berpikir tujuan. Saat sudah menikah, pikirkan apa tujuan menikah. Apakah tujuan menikah untuk merasakan yang indah-indah saja? Tidak mungkin. Karena dalam hidup fungsi estetika tidak berjalan sepanjang waktu. Pasangan yang sesuai standar sulit sekali pun, akan ada masa dia tidak telihat indah. Pernikahan akan langgeng jika keduanya bepegang teguh pada tujuan pernikahan, entah rasa itu ada atau tidak.

Saat belum menikah, pikirkan apa tujuan menikah. Sehingga jika ada pria baik-baik datang dengan niat baik, maka yang terpikir bukan yang indah, tapi prinsip tujuan hidup bersama pria itu. “Ah dia tidak indah, tak ada rasa.” Iya, artinya kamu tak berpikir tujuan.

arti keperawanan
Gambar hanya Ilustrasi

Ketiga, pikiran murni tanpa dipengaruhi rasa itulah logis. Karena pikiran logis adalah pikiran yang dihasilkan berdasarkan kaedah cara atau bagaimana berpikir, yakni berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. Rasalah yang paling mempengaruhi pikiran logis. Dua pilihan yang tak sulit. Karena pikiran logis akan membawa pada kesuksesan. Jangan rusak jalan sukses itu dengan rasa sebagai penghalang.

Seorang yang sudah menikah lalu kehilangan rasa, maka dia akan mudah bertindak tidak masuk akal. Bercerai pada kondisi 7 orang anak hanya dengan alasan tak punya rasa, apakah itu logis? Rasa terhadap anak bagaimana? Rasa itulah yang merusak pikiran logis sehingga menggerakan orang bertindak tidak logis.

Wanita yang belum menikah juga demikian. Mengagungkan rasa berarti menginjak nalar logis. Itulah sebabnya, keputusan yang diambil sulit dicerna. Umur sudah 30 tahun, mencari suami makin sulit, pengaruh makin banyak, tapi ternyata masih kuat menolak hanya dengan alasan tak ada rasa. Logis tidak? Ingat, rangkuman tindakan dan pikiran tidak logis akan menjadi penghalang kesuksesan.

Stop! Jangan jadikan rasa sebagai penghalang!

Loading...