Shalat dalam Agama-Agama

Shalat Berbagai Agama

Mendengar kata shalat, sebagai muslim pikiran tak jauh dari aktifitas ber-muwajahah, berdoa, ruku, sujud, takbir, salam, wudhu, dan hal lainnya. Shalat disyariatkan lima kali dalam sehari, dan satu-satunya ibadah yang wajib dilakukan dalam kondisi apapun, kecuali dua hal; tidur dan lupa.

Ternyata, istilah shalat pun ada dalam terminologi agama-agama. Yah, kata shalat dengan berbagai bentuk tulisan dan penyebutannya, ada dalam agama lain, dan bukan Cuma Islam.

Dalam bahasan Arab, صلاة “shalat” berasal dari bahasa Aram “tselota.” Contoh kata ini misalnya terdapat pada Kisah Para Rasul 2:42 dalam teks Peshitta, yaitu terjemahan kuno Alkitab dalam bahasa Aram/Suryani; “waminin hu bsyulfana dshliha wmishtautfin hwo batselota wbaqtsaya deukaristiya.” Artinya; Mereka bertekun dalam pengajaran para Rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu menjalankan salat-salat dan merayakan Ekaristi.

Kata bahasa Aram Tselota merupakan kata yang mewakili pekerjaan ruku dan membungkukkan badan. Dari dasar kata Tselota inilah, bahasa Arab melestarikannya menjadi kata Salat.

Dalam Alkitab versi bahasa Arab, shalat disebut dalam kalimat “كسرالخبزوالصلاة” yang artinya memecah-mecahkan roti dan melaksanakan salat-salat. Memecah roti dan salat-salat seperti dalam kalimat tersebut ternyata bagian dari ibadah Yahudi “Mahzor dan Siddur.” Mahzor yaitu perayaan besar yang diselenggarakan 3 kali dalam setahun di kota suci Yerusalem, dan tujuh ibadah sakramental, khususnya Perjamuan Kudus yaitu “Salat tujuh waktu.”

Alkitab mencatat kebiasaan nabi Daniel berkiblat yang ke arah Yerusalem, tiga kali sehari ia berlutut dengan kakinya (ruku) mengerjakan salat (Daniel 6:11, dalam bahasa Aram: “negel Yerusyalem, we zimnin talatah be Yoma hu barek ‘al birkohi ume Tsela“. Seluruh umat Yahudi sampai sekarang berdoa dengan menghadap ke Baitul Maqdis, di kota suci Yerusalem. Sinagoge-sinagoge Yahudi di luar Tanah Suci mempunyai arah kiblat ke Yerusalem. Awalnya, kebiasaan ini diikuti oleh umat Kristen, tetapi mulai berkembang beberapa saat setelah tentara Romawi menghancurkan Bait Allah di Yerusalem pada tahun 70 M.

Kehancuran Bait Allah membuat arah kiblat salat Kristen menjadi ke arah Timur, Yohanes 4:21, Kejadian 2:8, Yehezkiel 43:2 dan Yehezkiel 44:1. Kiblat ibadah ke arah Timur ini masih dilestarikan di seluruh gereja Timur, baik gereja-gereja Ortodoks yang berhaluan Kalsedonia (Yunani), gereja-gereja Orthodoks non-Kalsedonia (Qibtiy/Koptik dan Suriah), maupun minoritas gereja-gereja Nestoria yang masih bertahan di Irak.

Mar Ignatius Ya’qub III dari gereja Ortodoks menekankan bahwa orang Kristen hanya melanjutkan adab yang dilakukan orang-orang Yahudi dan bangsa Timur lainnya ketika memuji Tuhan dalam praktik ibadah mereka.

Opini Terkait
1 daripada 123

“طبعا لما كان يفعله اليهود وغيرهم فى الشرق فى اثنى ممراستهم العباده”.

Dan perlu dicatat bahwa pola ibadah ini telah dilestarikan pula oleh umat Muslimin

وقد اقتبس المسلمون ايضا بدورهم هذا النون من العباده

L E Philips, berdasarkan penelitian arkeologisnya menulis bahwa umat Kristiani paling awal sudah melaksanakan daily prayers (salat) pada waktu pagi, tengah hari, malam dan tengah malam.

Shalat subuh dalam Islam disebut dengan kata yang sama di gereja Suriah. Salat Bakir (Salat bangun tidur) dalam istilah gereja Koptik. Hora prime Dalam Gereja Katolik Barat. Matin yang juga disebut sebagai ibadah berdoa oleh gereja Barat.

Dalam Gereja Katolik dikenal dengan Vesper, yaitu ibadah yang dilakukan sore menjelang Magrib. Waktunya bersamaan dengan terbenamnya matahari, sebanding dengan Salat maghrib dalam Islam.

Referensi:

  1. Shalat tujuh waktu
  2. Perjamuan Kudus
Loading...