Siapa Bilang Presiden Tidak Marah Negaranya Disadap?

Presiden Marah Disadap

Alkisah seorang Presiden di sebuah Negeri yang kaya raya, dalam istilah Jawa, “Gemah Ripah Loh Jenawi.” Dia ahli strategi. Setiap kali mendapat kesempatan masuk dalam pemilihan langsung selalu saja menang mengalahkan kontestan lain. Rasa prihatinnya sangat tinggi. Dia gampang pula terusik apabila menyangkut dengan pribadinya, tapi tidak jika menyangkut Negaranya sendiri.

Kekayaan alam yang dimiliki Negaranya, akhirnya diminati sejak jaman penjajahan sampai puluhan tahun Negara itu merdeka. Timah, emas, besi sampai kayu digerus oleh perusahaan asing, sialnya, sang Presiden kelihatan manut-penakut sama Negara adi kuasa dan cenderung membelanya. Sampai suatu hari tersiar kabar kalau negaranya disadap oleh dua Negara Besar, yang katanya sahabat dalam hubungan diplomatik.

Ibarat sebuah rumah pribadi, tiba-tiba ada orang lain masuk mengusik ketenangan pemilik rumah. Atau ada orang asing selalu mengintip ada apa gerangan di rumah itu. tentu sang pemilik rumah akan merasa marah, atau setidaknya menegur keras. Begitulah penyadapan yang terjadi. Masyarakat satu Negara marah, wakil rakyat, para hacker, semua menunjukan bentuk kemarahan ketika Negaranya disadap. Anehnya sikap itu tidak terlihat dari sang Presiden.

Karena merasa aneh, suatu hari asisten Presiden menanyakan sikap sang Presiden si ahli strategi itu tentang kejadian Negaranya disadap dan sikap warganya.

Asisten Presiden: “Tuanku, rakyat kelihatan sudah tidak bisa menahan emosi, mereka marah, bahkan para hacker meretas situs Negara lain yang tak ada kaitannya dengan aksi penyadapan ini…”

Presiden: “Iyah, saya merasa prihatin…”

Asisten Presiden: “Iyah tuanku. Maksud saya, kira-kira apa yang harus kita lakukan, atau saya menunggu titah Presiden menjawab aksi penyadapan ini. Menurut saya ini sungguh melecehkan sebuah Negara yang sudah merdeka.”

Presiden: “Menurutmu apa yang harus saya lakukan…?”

Asisten Presiden: (Mulai sedikit jengkel) “Mungkin ada baiknya, tuanku menunjukan rasa marah, meski pura-pura, seperti negara tetangga kita yang baru lepas dari wilayah kita dulu, atau saya diperintahkan konfrensi pers menyatakan kalau Presiden pun sedang marah besar ketika Negaranya disadap.”

Presiden: “Kenapa kamu tidak lakukan saja, dan katakana dengan sejujur-jujurnya. Serahkan ke aparat hukum. Sampaikan juga kalau saya sangat prihatin!”.

Opini Terkait
1 daripada 304

Asisten Presiden: “Tapi tuanku, ini kan berarti saya bohong lagi seperti biasa.”

Presiden: (Berdiri berkacak pinggang) “Siapa bilang!. Apa kamu tidak tahu, kalau saya memang sudah marah. Meski saya marah melalui telepon !.”

Asisten Presiden: “Maaf tuanku, saya tidak mengerti.”

Presiden: “Kamu tidak tahu, kalau saya sudah menelepon ke Presiden Negara penyadap teman kita itu. saya mengatakan; buat apa penjenengan melakukan penyadapan lagi. Bukankah semua sudah saya infokan kepada penjenengan semua yang penjenengan butuhkan.

Aksi penyadapan sangat berbahaya, di tengah lalu lintas dunia maya. Kenapa tidak Tanya langsung ke saya, kenapa pake penyadap segala. Dan Presiden teman kita mengatakan; kalau itu bagian strategi, memberikan kesan kalau hubungan kita dengan mereka masih ada batasnya. Nah ini kan tidak diketahui oleh rakyat, dan memang tidak boleh ada yang tahu.”

Asisten Presiden: (Tertegun mengangguk-angguk)

Presiden: “Kamu juga harus perhatikan, hal ini jangan sampai bocor. Lakukan konfrensi pers, katakana apa saja untuk menenangkan mereka (rakyat).”

Asisten Presiden: “Baiklah tuanku. Saya permisi.”

Walhasil, tiga bulan kemudian. Isu penyadapan berubah. Rakyat pun kembali tenang, bahkan masyarakat kini tahu, bahwa ini adalah bukti kalau hubungan masing-masing Negara masih ada batasannya, padahal tidak!

Banyak keuntungan dari isu ini, terutama korupsi yang merajalela akhirnya berhasil dialihkan sejenak, terlebih rencana manipulasi suara pada pemilihan langsung Negara itu yang kian dekat.

Komentar
Loading...