Sikap “Gila” Pendukung Capres

0 21

Sikap “Gila” Pendukung Capres “Di dunia ini, ada dua orang yang tidak bisa dinasehati; orang gila dan pendukung capres. Jika memaksakan kehendak agar mereka mau mendengar, maka bisa-bisa Anda jadi gila.” Ungkapan ini bukan sekedar isapan jempol. Sesekali datanglah ke warung kopi, temuilah para pendukung capres. Fakta apapun yang dikemukakan kepada mereka, pasti akan tetap bersikukuh dengan pilihan mereka.

Mungkin inilah nasib sementara sebagian masyarakat bangsa yang masih belajar berdemokrasi. Masih banyak orang menentukan pilihan bukan karena apa yang mereka dapatkan sebagai sesuatu yang benar, tapi mereka menetapkan dukungan karena itulah pilihan mereka. Tak ada alasan dan itulah sikap “gila.”

Sesuatu yang benar lahir dari konstruksi berpikir yang benar, rasional, logis, faktual, dan tidak melanggar esensi kemanusiaan, termasuk untuk urusan pilih memilih. Ketika negara butuh dukungan luar negeri, maka logisnya pemimpin yang dipilih punya jaringan kuat di luar, bahasa asingnya bagus, dan hal faktual pendukung lainnya. Ketika negara butuh pemisah skat antara pejabat elite dan masyarakat kelas bawah, maka logisnya pilih pemimpin yang sederhana, bermasyarakat. Saat manusia tak suka hoax, maka logisnya pemimpin yang dipilih bukan pelaku hoax. Saat manusia tak suka dizalimi, maka logisnya memilih pemimpin yang tidak tempramental, tidak punya catatan masa lalu yang kelam, dst.

Berbeda dengan prinsip menetapkan pilihan karena itulah pilihan mereka, yang seakan tanpa alasan, tak logis, bukan hasil pemikiran yang lurus, dan melanggar esensi kemanusiaan. Maka akan kelihatan perilaku-perilaku tak logis yang mengikuti. Misal, kita menyadari bahwa percepatan pembangunan akan tercapai dengan pembangunan infrastruktur yang merata, tapi membully para pendukung calon pemimpin yang meningkatkan pembangunan infrastruktur. Anda tak suka kekerasan, tapi mendukung calon pemimpin yang suka marah-marah. Melakukan sesuatu yang berbeda pada keputusan dan kondisi yang sama, mirip perilaku orang gila yang tiba-tiba ketawa dan menangis. Tentu aneh dan dsngat tidak rasional.

Sulitnya mengaku salah dan mengakui kesalahan, inilah penyebab sikap gila pendukung capres yang pertama. Banyak orang merasa malu jika diketahui telah melakukan kesalahan. Akibatnya  terciptalah kesalahan baru, karena tidak mengakui kesalahan merupakan sesuatu yang salah. Mereka lupa bahwa manusia disebut insan seakar kata نسى yang berarti lupa atau khilaf.

Semua manusia pasti pernah khilaf, dan pasti pernah salah. Manusia salah yang paling baik adalah yang mengakui kesalahan bukan malah merasa malu karena salah. Pendukung capres yang kebetulan sudah menetapkan pilihan sebelumnya, lalu di belakang hari sadar bahwa ada hal yang salah dari ketetapan itu, maka tak perlu merasa malu untuk berubah. Teruslah memikirkan, menimbang, dan menganalisa se-logis mungkin.

Menarik, dalam konteks politik, salah benar, kesalahan dan kebenaran kadang dinilai dalam bentuk kemenangan. Mereka yang menang akan merasa benar dan menuduh pilihan mereka yang kalah adalah salah. Padahal, belum tentu yang menang itulah yang benar, karena dalam demokrasi one man one vote, pemenang adalah yang memiliki suara terbanyak. Bisa jadi pemilik suara terbanyak sekaligus menjadi pilihan yang benar, namun tidak menutup kemungkinan itu adalah pilihan yang salah.

Kedua, kurangnya analisa para pendukung capres. Cukup dengan analisa sederhana, yaitu dengan mengelompokkan berapa kelebihan dan berapa kekurangan dari capres yang akan dipilih, lalu dibandingkan. Bisa juga dengan mengidentifikasi kebutuhan dengan skala prioritas. Negara ini butuh apa? Prioritas nya apa? Anda butuh apa? Lalu melihat potensi yang dimiliki para calon presiden.

Tak sedikit para pendukung capres cenderung ikut-ikutan dalam menetapkan pilihan. Mereka tak mau ambil pusing untuk menganalisa sedemikian rupa. Menurut mereka, analisa itu biar dilakukan oleh orang lain, mereka mengikut saja. Padahal, manusia punya potensi akal yang sama untuk memikirkan segala hal, termasuk calon presiden.

Sikap “gila” pendukung capres mirip seorang yang melihat keajaiban. Orang akan mudah menetapkan pilihan pada sesuatu yang ajaib, luar biasa, suprarasional, dan di luar jangkauan akal. Andai ada capres yang menunjukan keajaiban dengan sim salabim, semua masalah bangsa selesai, rampung dalam sekejap, maka pilihan akan berpihak padanya. Tentu itu tidak mungkin, itu mustahil.

Sikap Gila pendukung capresRasulullah saw, mengajarkan untuk memikirkan segala hal bahkan yang ajaib sekalipun. Al-Quran adalah mukjizat, tak ada keraguan padanya. Al-Quran adalah kitab suci yang lebih dari sekedar keajaiban, dan juga petunjuk bagi orang beriman. Toh al-Quran mengajak manusia untuk berpikir.

Tak sulit bagi Rasulullah saw berdoa meminta agar Allah swt, memakmurkan negeri dalam sekejap, agar semua masyarakat jahiliyah waktu itu mendukungnya, tapi faktanya itu tidak dilakukan. Sebagai umatnya, kita dianjurkan berpikir untuk semua hal termasuk urusan capres, berpikir dengan nalar logis, agar sikap kita tidak seperti orang “gila.”

Komentar
Loading...