Sikap Kita Terhadap Perbedaan Pendapat Para Ulama

Sikap atas Perbedaan Pendapat Ulama

Sikap atas Perbedaan Pendapat Ulama – Perbedaan adalah sebuah keniscayaan, karena dengan perbedaan itulah manusia diuji. “ … Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan Nya satu umat saja, akan tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan…” Demikian firman Allah dalam surah al-Maidah ayat 48.

Betapa banyak perbedaan yang kita temukan setiap saat. Kalau perbedaan mengenai masalah kecil, mungkin tidak jadi masalah. Tapi jika perbedaan itu memaksa kita untuk menentukan salah satu pilihan yang sulit, di situ terkadang membuat bingung. Seperti halnya perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama.

Ulama A mengatakan ini haram, ulama B mengatakan boleh, ulama C mengatakan makruh, maka sebagai orang awam, tentu harus memahami perbedaan itu dengan baik sehingga mampu menyikapinya dengan tepat.

Perbedaan di antara ulama dalam menetapkan hukum tidak hanya terjadi antar mazhab, namun juga terjadi di antara ulama dalam lingkungan mazhab mereka.

Dampak perbedaan pendapat para Ulama

Sebenarnya, perbedaan pendapat sudah terjadi sejak masa Nabi saw, hanya saja perbedaan pendapat di kalangan sahabat dengan mudah menemukan solusi dan jawaban yang tepat dengan mengikuti keputusan Nabi saw ini.

Masa ulama terdahulu, perbedaan pendapat tidak memberikan dampak negatif, karena para ulama mengedepankan sikap toleran dan menghargai pendapat yang lain. Imam Syafi’iy menghargai pendapat Imam Malik dan Imam Malik juga menghargai pendapat Abu Hanifah, dst.

Seiring waktu, dampak perbedaan pendapat ulama membawa dampak negatif terutama dari antara para pengikut ulama. Masyarakat kadang melihat suatu pendapat sebagai keputusan mutlak, lalu meyakini sebagai kebenaran satu-satunya, sehingga dengan mudah bersikap tidak toleran dengan pendapat lain.

Hanya karena perbedaan fatwa permainan catur atau hukum musik, dengan mudah masyarakat islam terkotak-kotak, lalu mencari kesalahan pendapat yang berbeda dengan pendapat ulama yang diikutinya.

Sebab perbedaan pendapat para Ulama

Karena perbedaan itu niscaya, maka sebab dari perbedaan hanyalah jalan. Sebab perbedaan yang terjadi di kalangan ulama, hanyalah bentuk/jalan dari keniscayaan akan adanya perbedaan.

Ada beberapa sebab terjadinya perbedaan pendapat di antara ulama yaitu:

  1. Karena berbeda dalam memahami kata, kalimat dan istilah baik dalam al-Quran maupun hadis
  2. Berbeda dalam memahami hadis yang disebabkan hadis yang sampai kepada sebagian ulama, tetapi tidak sampai kepada ulama yang lain.
  3. Karena berbeda dalam memahami kaidah ushul
  4. Berbeda memahami pertentangan antara dalil, seperti nasikh dan mansukh.
  5. Karena berbeda dalam menetapkan dalil yang sifatnya ijtihadi
Opini Terkait
1 daripada 92

Hikmah perbedaan pendapat para Ulama

Seperti yang diungkapkan sebelumnya, bahwa salah satu tujuan perbedaan adalah untuk menguji manusia. Olehnya itu, hikmah terbesar dari perbedaan pendapat dari para ulama adalah melatih kita bersikap terbuka terhadap perbedaan yang ada.

Hikmah kedua; dari sekian banyak pendapat ulama memungkinkan kita sebagai masyarakat awam untuk belajar memilih alternatif terbaik di antara pendapat para ulama yang ada.

Ketiga; perbedaan pendapat para ulama, akan memperkaya khazanah pengetahuan kita dengan mengetahui alasan-alasan para ulama saat mengemukakan pendapatnya.

Sikap kita terhadap perbedaan para ulama

Perbedaan pendapat di kalangan ulama terjadi karena beberapa alasan dan sebab. Sikap terbaik kita sebagai pengikut ulama dan masyarakat awam, yaitu;

Pertama, lebih fokus dan memprioritaskan terhadap masalah besar umat, daripada perhatian terhadap masalah kecil. Jangan sampai energi kita habis hanya untuk memperdebatkan perbedaan ulama, padahal perbedaan itu hanyalah masalah kecil saja.

Kedua, kembali ke al-Quran dan sunnah. Seperti dalam surah an-Nisa ayat 59. Lho, kita masyarakat awam. Jangan kembali ke al-Quran dan sunnah, mengerti saja kagak! Apa maksudnya? Berserah diri kepada Allah saat mengikuti suatu pendapat.

Ketiga, pendapat yang diikuti, bukan berdasarkan atas hawa nafsu dan fanatisme termasuk fanatisme kelompok atau golongan. Tapi memegang dan mengikuti suatu pendapat tanpa mengingkari pendapat yang lain, tidak meremehkan, tidak nyinyir apalagi mengolok-olok pendapat lain.

Keempat, senantiasa menambah dan membekali diri dengan ilmu, iman, amal dan akhlaq secara proporsional secara berjenjang setiap menemukan perbedaan pendapat ulama.

Kelima, jangan karena berbeda pendapat, lantas mengurangi penghormatan kita terhadap para ulama. Syarat ulama, berilmu dan takut kepada Allah. Ulama bukan gelar akademik. Tak mudah mendapat gelar ulama.

Ada yang mengatakan kalau perbedaan adalah rahmat. Tapi bagi saya, tidak semua perbedaan bisa jadi rahmat. Dalam logika sederhana, jika perbedaan semuanya adalah rahmat, maka kesepakatan bukan rahmat. Yang terpenting bagi kita, bagaimana menyikapi perbedaan yang terjadi.

Rujukan:

Abdul Wahhab Afif. 1995. Pengantar Studi Perbandingan Mazhab. Jakarta: Darul Ulum Press. Wahbah Az-Zuhaili. 1986. Fiqh al-Islami. Beirut: Dar al-Fikr. Huzaemah Tahido Yanggo. 2011. Pengantar Perbandingan Mazhab. Jakarta: Gaung Persada Press.

 

Loading...