Stop Mengatakan Non-Muslim Masuk Surga !

Apakah non-muslim masuk surga?. Atau apakah hanya yang beragama Islam masuk surga?. Sebenarnya opini mengenai hal ini sudah banyak dibahas diberbagai media nyata maupun maya. Terinspirasi dari perdebatan sebuah group, tulisan ini saya posting terlepas dari kemungkinan celoteh saya ini hanya mengulang, merefresh ingatan atau kesadaran kita akan hal ini. Pendekatan yang digunakan adalah menempatkan wahyu sebagai konfirmasi, dan rasionalisasi murni dalam kesimpulan.

Awal perbedaan pendapat ini adalah al-Quran surah al-Baqarah ayat 62, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nashrani, dan orang-orang Sabi’in, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka.” Para ahli tafsir sekelas Ibn Katsir, menafsirkan ayat ini dengan mengembalikan pada definisi agama dan menyatakan bahwa Islam sebagai agama sebagai pelaksanaan syariat yang dibawa Nabi Muhammad. Penegasan yang nyata bahwa pasca kenabian Muhammad saw maka syariat tidak akan diterima.

Banyak pakar tafsir berbeda dengan pendapat Ibnu Katsir ini. Sebut saja Muhammad Rasyid Ridha, bahwa kepastian akhirat tidak terkait dengan jenis agama yang dipeluk seseorang. Sepertinya tekstual, bahwa hanya dibutuhkan dua persyaratan pokok untuk mencapai surga, yaitu iman dan amal shaleh, meski label agamanya Yahudi, Kristen, dan Islam, berdasarkan ayat tadi. Rasyid Ridla mendasarkan pandangannya ini pada al-Baqarah ayat 62. Rasyid Ridha berkata; “Sesungguhnya keberuntungan (akhirat) tak terkait dengan jenis-jenis agama, melainkan dengan keimanan yang benar dan perbuatan yang memberikan kemaslahatan buat umat manusia. Oleh karenanya, terhapuslah urusan ketuhanan pada angan-angan umat Islam dan Ahli Kitab.”

Perjalanan al-Baqarah ayat 62 dimulai dari perdebatan orang Yahudi dan Nashrani yang masing-masing mengklaim bahwa hanya dari golongan merekalah yang masuk surga. al-Zamakhsyari dan at-Thabari menyatakan bahwa yang akan masuk surga itu adalah yaitu orang yang tulus ikhlas hanya kepada Tuhan serta tidak menyekutukan-Nya. Jika demikian pandangan al-Quran berdasarkan penafsiran para ulama, maka surga tidak dimonopoli komunitas suatu agama. Ia adalah milik publik yang bisa dihuni umat agama mana saja yang beriman dan beramal saleh. Sebaliknya, orang non-Islam yang beriman dan beramal shaleh akan masuk surga.

Nabi Muhammad bersabda, “saya melihat seorang pendeta berada di dalam surga sedang memakai baju sutera karena ia beriman”. Yang dimaksud dengan pendeta ini adalah Waraqah ibn Naufal.

Dari perbedaan tersebut, maka lahirlah rumusan masalah utama yaitu; Apakah Yahudi, Nashrani, Majusi, dan Islam hari ini beriman seperti iman yang diajarkan al-Quran?. Penarikan masalah utama ini berangkat dari pemahaman bahwa Yahudi, Nashrani, dan Islam yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah agama sebagai kelompok, tapi agama berdasarkan perilaku. Salah satu ayat yang mengkonfirmasi hal ini bisa diperhatikan dalam surah al-Hajj ayat 16.

Opini Terkait
1 daripada 303

Kaum rasionalis akan mudah berargumen dengan kalimat “orang-orang yang beriman”. Akidah seperti apa yang akan diimani, sedangkan jauh sebelumnya perdebatan teologi tidak hanya marak di dunia Islam sendiri. Apakah si A mengetahui Iman si B, jikalau iman itu letaknya di hati. Allah swt Maha Tahu, Tahu bahwa ini akan terjadi. Konsep “ahad” mendapat durasi 11 tahun diajarkan, jauh lebih lama dari materi syariat pasca hijrah. Esensinya jelas, monotheisme atau esensi Tauhid. Dalam sejarah, hal ini terekam bagaimana sebagian dari ahl kitab, sulit untuk ber-monotheisme. Lihat al-Quran surah Ali Imran ayat 64. Dialog dalam ayat tersebut, tersirat bahwa Nabi saw sama sekali tidak mengejar pengakuan para pendeta ahli kitab itu terhadap klaim kenabiannya, tapi Nabi swt lebih mengajak pada nilai luhur “ahad.”

Hal ini penting sebelum kalimat, non-muslim masuk surga menjadi konsumsi merebak tanpa filter, melihat agama sebagai kelompok, yang akhirnya tak perlu label Islam untuk masuk Surga. Merajut menjadi pluralisme dalam beragama, dan lupa pluralisme yang sifatnya monotheisme, bukan pluralisme campur aduk semua konsep ketuhanan. Trinitas, Trimurti, Mvelinqangi, Pramatma, Atmatu, Yahweh, dan ratusan konsep ketuhanan yang ada di dunia, dalam narasinya jelas berbeda dengan Allah dalam surah al-Ikhlash.

Terkadang kita terlalu jauh memberikan tempat surga kepada Mahtma Ghandi, Bunda Teresa, Alva Edison, dll, dengan dasar kebaikan yang dirasakan manusia lain, dan lupa bahwa syarat utama surga dan neraka adalah Iman lalu kemudian amal Shaleh. Sepertinya kalangan liberal dan pluralism kebablasan dan akan termakan dengan pertanyaannya sendiri. Siapapun tak akan mengetahui keimanan seseorang termasuk legitimasi KTP atas klaim sebuah agama atas individu. Tahukah kita dengan iman seseorang bahkan keimanan kita sendiri?.

Jika demikian, seorang muslim pun tak bisa mengklaim bahwa orang Islamlah masuk surga yang lain di laut saja… 🙂 Bagi saya, orang Islam punya modal dengan syahadatnya sebagai persaksian awal. Jika syahadat itu tidak dirusak, modal syahadat itulah yang akan membangun dan menyisakan bahwa iman itu masih ada, dan selangkah lagi, dengan amal shaleh ticket ke surga berada di tangan. “Apa yang membuat kamu berada di neraka Saqar?. Mereka berkata, kami tidak mendirikan salat, tidak member makan orang miskin, dst…” (QS. al-Muddatsir). Dalam ayat tersebut jelas, syarat ticket surga juga berupa amal.

Orang Islam bermodal syahadat sebagai legitmasi keimanan dunia, return persaksian sebelum lahir atau tidak. Amal salehnya menyusul. Sedangkan non-Islam yang beramal saleh, menunggu bentuk keimanan untuk mendapat tempat di hari kemudian sesuai dengan keadilan Ilahi. Posisinya jelas, amal tidak abstrak, sedangkan iman sebaliknya. Lalu apa wewenang kita menghukumi mereka yang bentuk ke-tauhidan-nya tidak kita ketahui?. Akan lebih mudah megklaim seorang muslim dengan melihat amalnya yang nyata dibanding mengklaim non-muslim masuk surga atau tidak, karena keimanan tidak nyata.

Pernyataan bahwa non-muslim masuk surga adalah pernyataan yang berpotensi menggiring ke fallacy besar. Kesalahan berpikir yang akhirnya menganggap semua agama termasuk Islam itu tidak penting, yang terpenting adalah amal baik. Jadi, Stop mengatakan non-muslim masuk surga.

Rujukan: Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir. Muhammad Rasyid Ridla, Tafsir al-Quran al-Hakim. Nawawi al-Jawi dalam Marah Labidz. Ahmed Deedat, Allah dalam dalam Yahudi, Masehi, Islam.

Komentar
Loading...