STQ Nasional XXII Bangka Belitung, Membentuk Karakter Anak Bangsa?

“STQ Nasional XXII tahun 2013 sarana pendalaman makna ajaran al-Quran sebagai modal pembangunan bangsa yang berkarakter” adalah tema pelaksanaan Seleksi Tilawatil Quran Nasional di Bangka Belitung. Tema ini terlihat betul-betul diaplikasikan dan tidak sekedar tema pajangan. Terlihat dari setiap tempat acara, minat dan gairah masyarakat dipancing untuk berpartisipasi melalui doorprize dan pancingan lain.

Meski acara yang sedianya dibuka oleh Presiden SBY, namun akhirnya cuma dibuka oleh Menteri Agama Surya Dharma Ali, namun tidak mengurangi antusiasme masyarakat dan elemen berkepentingan terhadap pembentukan karakter bangsa. Dan yang paling mencolok, adalah keterlibatan siswa minimal menjadi penonton dalam setiap acara. “Siswa belajarnya di luar kelas. Ini kan penting untuk membentuk karakter dan moral mereka” Kata salah seorang guru ketika saya tanya.

Memang, membangun karakter anak bangsa tidak semudah membalikan telapak tangan. Makanya diperlukan pondasi kuat dan kokoh. Ada empat komunikasi yang diperlukan, yaitu komunikasi emosional, intelektual social dan spiritual. Membangun 4 komunikasi tersebut tidak musiman hanya dalam acara MTQN dan STQN saja misalnya, tapi mesti berkesinambungan terutama bagi peserta didik.

Opini Terkait
1 daripada 304

Seorang peserta didik pada dasarnya sedang berkomunikasi scara emosional dan sosial dalam kehidupannya. Dengan dua komunikasi inilah nantinya, mereka bisa merasakan komunikasi intelektual. Posisi orang tua lebih pada komunikasi spiritual, mendoakan anaknya agar bisa memiliki skil dan akhlak seperti harapan. Bukan berarti seorang anak tidak berkomunikasi secara spiritual, tapi interaksi dalam ibadahnya umumnya bagian dari kebiasaan emosional, atau interaksi social.

Di sinilah diperlukan “Jebakan” bagaimana seorang peserta didik bisa berkomunikasi secara emosional dan dengan membiasakan membaca dan mendengarkan al-Quran. Dengan kebiasaan ini, diharapkan seorang anak memegang teguh kebiasaannya dalam interaksi sosialnya, memiliki keteladanan seorang qari dan hafizh atau menyukai lantunan ayat al-Quran yang dibacakan.

Apa yang dilakukan pemerintah Provinsi Bangka Belitung sebagai penyelenggara STQ Nasional ke-22 2013, patut mendapat acungan jempol. Awalnya memang menjadi kewajiban peserta didik, namun hari-hari berikutnya, terlihat mereka mulai suka menyaksikan dan mendengarkan lantunan ayat al-Quran dari 33 Provinsi se-Indonesia.

Semoga apa yang dilakukan para pendidik dari momen STQN ini, benar-benar menentukan perubahan karakter anak bangsa ke arah yang lebih baik.

Komentar
Loading...