Sunni dan Syiah Masih Saudara?

0 12

Masih mahasiswa dulu, saya sudah diperhadapkan dengan perselisihan sunni dan syiah. Bahkan menimbulkan kebencian baru termasuk diluar konteks keagamaan.

Apa yang terjadi dengan kesatuan keislaman kita sekarang. Apakah sunni yang salah, syiah benar?. Sebaliknya?. Ataukah keduanya sama, salah?. Atau keduanya benar?. Tidakkah kita mencoba seikit sadar bahwa ini merupakan sebuah strategi dari pihak ketiga untuk memecah belah kelompok paling mayoritas di bumi.

Pertanyaan itu sampai sekarang masih eksis. Namun pembunuhan karakter terhadap sahabat Nabi saw tampak berjalan mulus, dan banyak orang yang menjadi korban pemutar balikan opini dan fakta terhadap Umar ibn Khathab dan sahabat lainnya.

Strategi menjatuhkan sebuah ideologi yang paling tepat adalah meruntuhkan argumen kebenaran sumber ideologi tersebut. Jika masing-masing pihak (suni-syiah), selalu merasa bahwa orang ini salah dan ini yang benar, padahal yang disalahkan tersebut adalah sumber ideologis, maka runtuhlah argumen kebenaran ideologi itu.

Kebencian yang mendalam terhadap pribadi Umar ibn Khathab misalnya, berakibat pembunuhnya justeru diagung-diagungkan. Bisa dibuktikan dengan melihat replika kubur Abu Lu`lu`ah yang telah membunuh menantu Ali ibn Abi Thalib r.a. dan mertua Rasulullah saw. itu.

Anda akan dapati kuburan orang yang telah berbuat kejahatan sangat besar itu justeru saat ini dijadikan tempat ziarah yang ramai. Dan dirinya dinamakan sebagai “Sahabat yang mulia calon penghuni surga: Abu Lu`luah”, di Qasyan, Iran. Kita juga bisa melihat kemegahan kubur pembunuhnya Umar ibn Khathab itu di sini. Perhatikan bagaimana ungkapan-ungkapan kebencian kepada Umar ibn Khathab di sana.

Bukankah imam Ali ibn Abi Thalib bersahabat baik dengan Umar ibn Kathab?. Mereka berdua saling bertukar pikiran untuk mewujudkan kejayaan bagi perjuangan Islam. Kematangan mereka di bawah bimbingan Rasulullah saw, bisa mengalahkan dua super power dunia kala itu sekaligus, yaitu Imperium Romawi dan Persia.

Ilustrasi

Bukankah Ali ibn Abi Thalib menjalin ikatan nasab dengan Umar ibn Khathab dengan menikahkan Ummu Kultsum yang merupakan puteri Ali ibn Abi Thalib dan Fathimah az-Zahra dengan Umar ibn Khathab. Lahirlah Zaid ibn ‘Umar al Akbar dan Ruqayyah dari perkawinan itu.

Haruskah kita berdebat dan saling menyalahkan?. Kalau memang kita bersaudara, haruskah kita memakan daging mayat saudara kita sendiri?. Bukan saatnya memperjuangkan dengan mencari alasan kesalahan sahabat, di tengah pelatihan perwira Amerika selama setahun untuk memerangi Islam.

Sumber bacaan: Usud al-Ghabah: 1/1459, Kitab Imamiyah Ja’fariyah, al-Kafi, karya al-Kulaini juz 6 hal 115 dan 116,

Komentar
Loading...