Karamah Syekh Abdul Malik bin Ilyas; Fana 3 Tahun Tanpa Makan dan Minum

Syekh Abdul Malik bin Ilyas

Syekh Abdul Malik bin Ilyas, lebih familiar dengan sebutan mbah Malik. Ulama ini merupakan keturunan Pangeran Diponegoro berdasarkan ”Surat Kekancingan” (semacam surat pernyataan kelahiran) dari pustaka Kraton Yogyakarta.

Adapun jalur nasabnya adalah Muhammad Ash’ad, Abdul Malik bin Muhammad Ilyas bin Raden Mas Haji Ali Dipowongso bin HPA. Diponegoro II bin HPA. Diponegoro I (Abdul Hamid) bin Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III Yogyakarta.

Mbah Malik lahir pada hari Jumat, tanggal 3 Rajab tahun 1294 H, bertepatan tahun 1881 Masehi. Nama lengkapnya adalah Muhammad Ash’ad bin Muhammad Ilyas. Nama ini dikarenakan saat mbah Malik lahir dia lahir di atas kasur.

Tradisi Banyumas, jika seorang ibu akan melahirkan, maka dihamparkan tikar di atasnya. Namun ketika ibu kandung Mbah Malik akan meharikan, sang bayi tak kunjung keluar. Akhrinya ayahnya memindahkan ibunya ke atas kasur, barulah sang bayi lahir Ash’ad artinya, lahir di atas kasur

Mbah Malik adalah ulama terkenal, Guru Maulana Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya. Selain dikenal sangat alim, ada beberapa kejadian di luar nalar yang dialami ulama hapal al-Quran sejak kecil ini.

Pernah suatu ketika, sebelum salat Dzuhur Mbah Malik terbiasa melakukan salat sunnah Qabliyah, dan setelahnya dilanjutkan membaca shalawat bersama jamaahnya dari jam 12 siang sampai jam salat Ashar.

Tepat iqamat pun berkumandang tanpa komando karena sudah menjadi adat kebiasaan, jamaah berdiri mengambil shaf untuk melaksanakan salat ashar. Namun, Mbah Malik masih tetap duduk terdiam, tidak bangun dan hanya tasbihnya saja yang masih jalan.

Ditunggu lama Mbah Malik tak kunjung bangun hingga waktu Ashar hampir habis. Akhirnya salat pun terpaksa dikerjakan berjamaah dipimpin Kiai Isa, adik ipar Mbah Malik.

Sampai malam hari Mbah Malik belum juga bangun, padahal kondisinya normal tidak ada gejala apapun yang mencurigakan. Sampai 3 hari, seminggu, sebulan, hingga bertahun-tahun lamanya tidak ada yang berani membangunkan. Tidak ada perubahan sedikitpun yang mencurigakan kecuali setiap harinya wajah Mbah Malik semakin bersinar bercahaya.

Baru setelah 3 tahun berlalu, Mbah Malik tiba-tiba bangun persis pada jam waktu salat ashar. “Qamat… qamat…” pinta beliau. Lalu semuanya berdiri untuk salat berjamaah dan Mbah Malik sebagai imamnya.

Herannya, salat beliau berlangsung dengan normal seperti biasanya, tanpa lemah ataupun limbung, padahal mbah Malik tidak makan dan tidak minum selama tiga tahun. Itulah maqam fana’ yang pernah dialami Mbah Malik.

Selesai salat, Mbah Malik bertanya, “Lha si anu mana? Si itu ke mana?”

“Mereka sudah meninggal Kiai,” jawab para santri.

“Lha tadi masih bareng shalawatan koq,” ucap Mbah Malik kaget sebelum mengetahui sudah 3 tahun dirinya baru terbangun.

Berikan Komentar

Alamat email bersifat pribadi