Tangkap Tangan Romi, Diralat atau Kualat?

0 19

“Cukup Roma, cukup. Kamu ternyata tidak ganteng seperti kata orang. Ternyata kamu koruptor.” Kata Ani sambil menangis histeris.

“Itu bukan aku Ani, itu Romi.” Ujar Roma berusaha meyakinkan.

Ani tetap tidak terima. Dia berlari menjauh, sejauh yang dia bisa. Dia tidak menyangka kalau kekasihnya ternyata tertangkap tangan KPK. Ani menggeneralkan Romi sebagai Roma, tak ada bedanya.

Roma hanya bisa tertunduk lesu. Dia sangat menyesal berteman dengan Romi. Benar pesan orang tua dulu, “Jika kamu berteman dengan orang baik, kamu pun akan jadi orang baik. Sebaliknya, jika kamu berteman dengan orang yang tak baik, sifat tidak baik itu juga akan ada padamu.”

Sejak lama Roma memang tidak setuju dengan beberapa perilaku Romi yang terkesan seenaknya. Romi bahkan mencoba merebut Ani dari sisinya seperti cara Romi merebut partai yang dia pimpin dari pemimpin yang sah terdahulu.

Romi pernah meralat doa dari seorang kyai sepuh. Kiyai nya para kyai. Orang tua, yang sudah tidak diragukan lagi pesan dan nasehat karena kedalaman ilmunya.

Tak hanya sampai di situ, kamar pribadi kyai sepuh dia masuki sambil menggelar aksi rekaman video. Hal yang tabu dilakukan oleh seorang santri. Roma sempat curiga, mungkin Romi memang bukan seorang santri.

Romi konon pernah mencoba mengajak beberapa ulama berbeda untuk tidak mendukung pilihanya dalam kontes politik. Tapi sekaligus membiarkan ulama lain berbuat hal seperti itu, asal mendukung pilihannya. Romi benar-benar menunjukan ketidakadilan yang nyata.

Mungkinkah Romi kualat? Pertanyaan ini yang selalu berputar dipikiran Roma. Karena Roma tahu, merendahkan orang yang lebih tua apalagi seorang yang berilmu, bisa menyebabkan orang kualat.

Yang muda mungkin juga berilmu, tapi yang tua lebih punya banyak pengalaman. Pengalaman itulah yang membuat orang tua lebih akrab dan bersahabat dengan alam.

Alam akan marah jika sahabatnya direndahkan. Hal yang menimpa Romi akibat kemarahan alam itulah yang kemudian disebut sebagai kualat. Romi kualat terhadap orang tua.

Banyak yang terpukul dengan tangkap tangan atas Romi, dan bukan hanya Roma. Roma sangat sedih. Sedih karena kini Ani mengira dirinya adalah Roma.

Roma memang sangat akrab dengan Romi. Dia sering jalan bersamanya, dan publik sudah tahu hal itu. Roma kawatir, sikap publik juga seperti cara Ani melihatnya. Roma telat menyadari keahlian Romi yang pandai menjilat seperti cara kucing menjilat dengan liur salivanya. (Baca: keunikan kucing)

Roma berpikir cara memperbaiki semua ini. “Masih banyak jalan menuju Roma hai Roma.” Bisik iblis keramat mirasantika.

“Ahha, bukankah Romi pandai meralat. Doa pun bisa dia ralat. Kyai sepuh pun berani dia perintah.” Roma sepertinya memikirkan sesuatu.

Jika Romi mencoba meralat apa yang disangkakan kepadanya, Roma yakin Ani akan tidak bersikap seperti ini lagi. Ya, salah satu jalan, ini harus diralat.

Meralat kasus Romi kendala utamanya ada pada tanggapan publik. Publik bisa menilai dengan mudah, kalau Roma pun ternyata bisa meralat semua itu. Syukur-syukur, tidak didoakan kualat nantinya. Lalu ralat atau kualat?

Harus dibuat skenario matang untuk meralat itu. Jika Romi tertangkap tangan karena jual jabatan di kementerian surga dan neraka, maka yang harus dikorbankan adalah salah satu pejabat teras yang seimbang dengan pengaruh Romi.

Masih ada kesempatan satu hari memikirkan skenario yang tepat menyelamatkan Romi. Apalagi ini terkait Ani. Ini ibarat pertaruhan bagi Roma; menyelamatkan Romi dan Ani atau terkena kutukan karena kualat. Judi dan pertaruhan memang menjajikan ketenangan.

Malam ini Roma terpaksa begadang walau sebenarnya begadang yang dilakukan tidak ada artinya. “Aani, tabahkan hatimu aku juga rindu.” Gumam Roma sambil pergi menenteng gitar tuanya.

Komentar
Loading...