Terdakwa Memakai Atribut Busana Muslim; Propaganda?

  • Bagikan
terdakwa memakai busana muslim
Ilustrasi terdakwa memakai busana muslim

Entah Cuma kebetulan atau memang ada unsur kesengajaan, di banyak proses persidangan yang saya perhatikan, terdakwa memakai atribut busana muslim, atau lebih tepatnya disarankan memakai baju muslim. Kata “disarankan,” saya ambil melihat kondisi terdakwa berangkat dari tahanan ke pengadilan. Lalu siapa yang menyarankan? Saya tidak tahu, tapi mungkin juga, keputusan terdakwa memakai atribut busana muslim saat persidangan adalah keputusan pribadi.

Perhatikan poto-poto saat persidangan di pengadilan beberapa kasus.

Semua orang tentu berhak memakai pakaian sesuai keinginannya terkecuali dalam rangka menyesuaikan diri terhadap aturan dan etika sosial. Misalnya, pelajar yang ke sekolah dengan memakai sepatu, memasukkan baju, plus aturan berpakaian saat di sekolah lainnya. Demikian pula saat berangkat ke acara hajatan, kita memakai pakaian tertentu yang sesuai dengan kelaziman. Posisi pakaian saat di sekolah tentu berbeda saat di hajatan tadi. Di sekolah berlandaskan aturan, namun di hajatan berlandaskan kelaziman dan etika. Begitupula pada kasus memakai pakaian di tempat lain.

Seorang yang memakai pakaian namun tidak mengikuti aturan dan etika sosial, maka dengan mudah dicurigai memiliki maksud tertentu. Ada apa?

Masih ingat ketika Presiden Gus Dur keluar dari Istana Negara dengan kaos oblong dan celana pendek? Bukan tanpa tujuan, tapi memberikan aspirasi dengan bahasa non-verbal.

Nah, ketika di pengadilan terdakwa memakai pakaian atau atribut Islam berupa busana muslim, tentu juga dengan mudah memunculkan perspektif baru. Dengan mudah publik yang melihat bertanya, ada apa? Adakah pesan yang akan disampaikan kepada publik dari terdakwa bersangkutan yang hak bicaranya sudah dibatasi? Ataukah hal itu adalah propaganda pengadilan melalui persidangan?.

Seperti diketahui, bahwa para terdakwa di pengadilan adalah orang yang sudah diberi label tersangka oleh pihak berwajib. Tersangka adalah siapa yang melakukan pelangaran hukum berdasarkan perundangan yang berlaku. Entah itu kasus pembunuhan, maling ayam, bahkan koruptor. Artinya, seorang pesakitan adalah orang bersalah dan tidak benar.

Ada dua pesan non-verbal yang bisa muncul saat terdakwa memakai pakaian di persidangan;

“Terdakwa itu orang baik-baik kok, tidak salah cuma khilaf. Buktinya lihat pakaiannya. Dia memakai pakaian dengan atribut agama. Bukankah agama mengajarkan yang baik-baik saja?”

Pertanyaan berikutnya, kenapa dengan pakaian muslim. Ini sangat vital, karena selain dengan pesan non-verbal tadi, bisa juga muncul pesan baru;

“Lihat para terdakwa adalah orang muslim semua. Islam memang melahirkan orang yang tidak benar.”

Dengan perspektif publik seperti ini, maka memakai pakaian muslim saat di persidangan bisa jadi akan dianggap sebagai bentuk propaganda.

Dalam Everyman’s encyclopedia, propaganda merupakan suatu seni untuk menyebarkan dan meyakinkan suatu kepercayaan, khususnya kepercayaan agama atau politik. Dalam komunikasi, propaganda bisa saja disampaikan secara verbal maupun non verbal. Propaganda verbalis sangat mudah terbaca dan ditebak arahnya, namun tidak dengan propaganda non-verbal, sangat sulit dideteksi bahkan untuk sekedar mengetahui hal itu adalah salah satu bentuk propaganda atau bukan.

Tulisan ini tidak untuk memprovokasi dan membuat kisruh kehidupan beragama, tapi lebih cenderung pada pertanyaan terhadap gejala sosial yang ditimbulkan. Mari kita diskusikan sesuai dengan fakta yang ada.

terdakwa memakai busana muslim
Ilustrasi terdakwa memakai busana muslim

Terdakwa memakai busana muslim, sedangkan busana muslim hanya cocok pada acara keagamaan (Islam). Seorang terdakwa saat mengikuti persidangan yang bukan acara keagamaan, maka memakai pakaian muslim bisa dinilai sebagai bentuk propaganda. Bukankah hanya dengan pakaian khusus terdakwa adalah lebih tepat? Kecuali yang bersangkutan menjadikan hal itu adalah pakaian kesehariannya. Seperti wanita yang mengenakan jilbab, dll.

Hal ini tidak sepele dibanding mengosongkan kolom agama di KTP, ini penting!. Pengadilan di seluruh Indonesia seharusnya menata dan meninjau kembali tata cara berpakaian terdakwa dalam kasus apa saja di setiap persidangan.

  • Bagikan