Adakah Permusuhan Antara Ali ibn Abi Thalib dan Umar ibn Khathab?

Permusuhan Ali dan Umar

Banyak yang mengatakan, bahwa telah terjadi permusuhan antara Ali bin Abi Thalib dengan Umar Ibn Khathab. Benarkah demikian?

Sebenarnya, banyak riwayat dan catatan sejarah bahwa diantara tidak ada permusuhan antara Ali dan Umar. Sayangnya, sekelompok orang, yang mana kelompok itu tidak ada pada zaman Ali ibn Abi Thalib, malah justru menjelekkan sahabat Umar ibn Khathab.

Bukti bahwa tak ada permusuhan antara Ali dan Umar, dapat dilihat dari beberapa catatan sejarah berikut ini;

Ketika Khalifah Umar ibn Khathab yang berencana memimpin langsung pasukan Islam yang akan berperang dengan pasukan Imperium Persia, Ali ibn Abi Thalib memberikan nasihat:

“Jihad ini kemenangannya dan kekalahannya bukan ditentukan oleh banyak atau sedikitnya pasukan. Karena Islam adalah agama Allah yang akan Dia menangkan, dan tentara-Nya yang akan Dia siapkan dan Dia tolong. Hingga tercapailah apa yang tercapai dan terwujudlah apa yang terwujud. Kita semua berada dalam janji Allah, dan Allah swt akan mewujudkan janji-Nya serta menolong tentara-Nya. Sedangkan kedudukan pemimpin dalam perang adalah seperti tali bagi butiran-butiran kalung, yang menyatukan dan mengumpulkan butiran-butiran itu. Maka jika tali tersebut terputus, niscaya butiran-butiran itu terpisah dan tercerai-berai. Kemudian butiran-butiran tersebut tidak pernah tersatukan lagi. Orang Arab saat ini, meskipun bilangan mereka sedikit, namun nilai mereka menjadi banyak karena Islam, dan mereka mulia karena persatuan. Oleh karena itu, jadilah poros bagi mereka. Dan jika tidak ada engkau, niscaya akan terjadi perang diantara mereka. Karena jika engkau perhatikan tanah (Arab) ini, niscaya suku-suku Arab dari ujung ke ujung berpusat ke sini. Sehingga menjaga persatuan Arab itu lebih penting bagimu dibandingkan jika engkau ikut perang ke Persia. Sedangkan orang-orang asing, ketika mereka melihatmu di medan perang besok, niscaya mereka mengatakan, inilah pemimpin orang Arab, dan jika kalian bunuh dia niscaya tenanglah kalian (karena pasukan Arab tidak mempunyai pemimpin lagi untuk maju memerangi Persia). Sehingga kehadiranmu di medan perang itu justru akan memancing mereka membidikmu dan memusatkan segala daya upaya mereka untuk membunuhmu. Sedangkan tentang apa yang engkau katakan itu, bahwa pasukan musuh sedang bergerak untuk memerangi kaum Muslimin, maka Allah swt tentu lebih tidak senang dibandingkan dirimu terhadap pergerakan pasukan musuh itu. Dan Allah tentu Maha Kuasa untuk mengubah apa yang Dia tidak senangi. Sedangkan tentang jumlah pasukan yang engkau bilang (sedikit) itu, maka kita dahulu berperang bukan dengan mengandalkan banyaknya pasukan. Namun kita berperang dengan mengandalkan bantuan dan pertolongan Allah swt”

Nasehat yang saya terjemahkan dari kitab Nahj al-Balagah sekiranya tidak cukup sebagai asupan kesadaran bahwa tiada guna bagi kita untuk saling menyalahkan, mempertahankan keyakinan kita dengan menjelekan sahabat, berikut saya sampaikan perkataan Imam Ahlul Bait ke-4, Ali ibn Husain Zainal Abidin ini kepada sekelompok orang yang datang dari Irak

“Sekelompok orang dari Irak. Mereka berkata-kata buruk tentang Abu Bakar, Umar dan Utsman. Setelah mereka selesai mengungkapkan perkataan mereka, Ali ibn Husain Zainal Abidin. bertanya kepada mereka: Bisakah kalian beritahukan kepadaku siapakah kalian? Apakah kalian dari kelompok yang disebut dalam ayat ini:

“…Orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar…” {Qs. Al-Hasyr 59: 8}

Opini Terkait
1 daripada 304

Mereka menjawab: “Bukan.”

Ali ibn Husain Zainal Abidin bertanya lagi: “Apakah kalian termasuk dari kelompok yang disebut dalam ayat berikut ini?

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” {Qs. Al-Hasyr 59: 9}

Mereka menjawab: “Bukan.”

Maka Ali ibn Husain Zainal Abidin berkata: “Jika kalian mengaku bukan dari kedua kelompok tersebut, maka aku bersaksi bahwa kalian juga bukan bagian dari orang-orang yang sifat mereka dijelaskan oleh Allah swt dalam ayat-Nya ini:

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Hasyr 59: 10 ).

Permusuhan Ali dan Umar
Ilustrasi

Ali ibn Husain Zainal Abidin melanjutkan: “Karena itu, pergilah kalian dari majlisku. Karena Allah swt telah menetapkan keburukan bagi kalian.”

Sumber Bacaan: Al-Fushul al-Muhimmah fi Ma’rifat alAimmah, Ibn Shabbag, juz 2, h. 864-865, Nahjul Balagah, jus 2 h. 29-30

Komentar
Loading...